Sudah dua
jam sejak hujan reda, Nedin masih betah untuk duduk di teras. Matanya mengawang
jauh sembari menghembuskan kepulan asap rokok. Kawanan serangga malam terdengar
sedang melakukan tugasnya. Melaksanakan hukum alam sebagai penghuni alam gelap.
Ada sebuah
penyesalan yang menggantung disana. Penyesalan harus membuka hati pada orang
yang salah. Membuka hati yang telah ditutup selama lima tahun. Terbayang paras
sorang wanita yang telah dicintainya beberapa bulan lalu itu, kini lenyap
begitu saja bagai ditelan bumi. Ada begitu banyak kecamuk yang bersarang dalam
benaknya saat ini. Perjuangan yang begitu panjang dan melelahkan untuk kembali
membuka hati, kini tetap menemui ajalnya kepada seorang perempuan.
Lambat laun,
ingatan yang mengambang tentang paras lembut nan lucu itu berubah menjadi
amarah kebencian yang meronta ingin dilepaskan. Bagaimana tidak? Tepat setelah
sholat ashar, Nedin mendapati kekasihnya sedang dibonceng oleh pria lain dengan
wajah yang berseri-seri penuh kebahagiaan. Tepat lewat didepannya, namun mereka
tidak sadar, atau mungkin sengaja melakukannya. Tidak mungkin mereka hanya
sebatas teman atau masih memiliki ikatan keluarga. Pastilah mereka sedang
memadu kasih.
Jiwa yang
tadinya indah untuk menjalin asmara kini berubah menjadi gejolak perasaan yang
kian menderu. Tidak disangka bahwa perempuan yang selama ini selalu menyatakan
cinta tiap akhir chating, menyatakan rindu tiap ditelepon, menanyakan ‘kapan
dilamar’ setiap kali Nedin bertamu, kini malah berubah menjadi monster yang
siap melahap segala upayanya mentah-mentah.
Nedin
memutuskan untuk pergi ke rumah dan menyelesaikan perkara asmara ini kepada
orangtua sang kekasih adalah upaya penyelesaian paling waras pikirnya. Suasana
yang biasanya disambut dengan kebahagiaan orangtua sang kekasih, kini berubah
menjadi pilu. Sang ibu hanya bisa menutup mulutnya sambil meneteskan airmata. Ayah
hanya bisa menunduk menahan malu. Putri bungsunya telah mencoreng nama
keluarga. Menjadikan janji-janji tulus yang kemarin sempat dirancang bersama
kini telah berupa amarah.
“Saya minta
maaf pak, bu, sudah mengganggu jam istirahatnya. Tapi saya harus menyampaikan
hal ini. Anak ibu, kini sudah menjadi kekasih orang lain. Sudah tidak
menghargai saya sebagai calon suaminya. Sudah mengingkari janji yang bulan lalu
telah kita bicarakan bersama.”
Jawaban yang
didapat hanyalah tangisan penyesalan dari kedua orangtua itu. Sempat kakak sang
kekasih mendengarkan, ikut bergabung. Namun mungkin karena tidak bisa menahan
malu, akhirnya menghilang dari balik ruang tamu.
“Ini sudah
cukup membuktikan bahwa saya salah memilih seorang calon pendamping bu. Semoga anak
ibu menjadi lebih baik ke depannya. Saya pamit.”
Hening.
Tidak ada
tanggapan lagi dari tuan rumah. Kejadian itu mengubah segala apa yang hari itu
telah Nedin bangun bersama, ber-angan sejauh mata memandang, bercita sejauh
lautan luas, kini dihempas hanya dengan segala kejadian murahan yang berlalu
begitu cepat. Tidak ada pula pembelaan dari sang kekasih. Tidak ada upaya yang berusaha
untuk tetap melanggengkan pertemuan ini. Masing-masing telah memilih jalur
hidup yang berbeda.
“Kita hanya
bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.” Ucap seorang teman yang duduk di
sampingnya.
“Tapi kita
bisa menentukan haruskah waktu itu membuka hati, atau tidak.” Tandas Nedin
sambil tidak melepaskan tatapannya ke depan.
“Bagaimana
kalau itu adalah hikmah agar hidupmu lebih baik ke depannya? Minimal kamu tahu
bahwa kamu tidak salah memilih pasangan dan berujung pada penyesalan yang lebih
dalam.”
“Betul. Saya
setuju tentang itu. Tapi kita bisa menentukan untuk memilih yang dicintai, atau
memilih yang mencintai.”
“Maksudmu?
Apakah ada orang yang mencintai kamu?”
“Ada.” Jawab
Nedin pendek.
“Kejarlah
dia! Harusnya kamu sudah sadar soal itu!” Temannya makin berapi untuk
menyemangati Nedin.
“Tidak
perlu. Dia hadir tiap hari. Saya saja yang terlalu menahan ego ini.”
“Nah, sekarang,
lawan egomu, kejarlah dia! Ini kesempatan untukmu!”
“Tidak perlu
dikejar. Dia sekarang tepat ada di sampingku.” Nedin sambil menatap teman di
sebelahnya sambil tersenyum.
Wajah Indah
mendadak merona. Menyajikan aroma kasmaran yang tidak disangka-sangka namun harus
tetap terlihat tenang agar tidak kedapatan gugup di depan pria yang
bertahun-tahun berhasil membuatnya jatuh cinta. Pria yang selalu ia sandingkan
dalam doanya, pria yang selalu ia tautkan pada inci harapnya pada sang
pencipta, pria yang selalu ia hadirkan dalam baris puisinya yang diam-diam ia
tulis dalam buku diary-nya dan untuk dinikmati sendiri.
“Tapi, saya tidak
mau menjadi pengejar abadi. Saya harus sadar juga bahwa ada orang yang
mencintai saya. Saya juga harus insaf bahwa segala yang menunggu juga ada yang
ditunggu. Begitupun sebaliknya, dan pasti akan seperti itu. Selalu.”
“Iya. Itu salah
saya. Tidak menyadarinya sebagai perasaan, namun ungkapan teman biasa.”
Semilir
angin berembus pelan, menyibakkan anak rambut Indah di atas dahi. Suasana
berubah menjadi sunyi. Masing-masing memilih diam. Selang beberapa menit, Indah
menitikkan airmata.
“Saya
menyesal terlalu dekat denganmu. Terlalu menyimpan harap yang konyol. Terlalu menggantungkan
perasaan hanya pada satu orang.”
Indah
beranjak pergi. Meninggalkan tetangganya dan masuk ke rumah.
Sejak saat
itu, Indah sudah tidak menyapa dan bertemu dengan Nedin. Di sisi lain, Nedin
juga hilang kabar. Beberapa bulan kemudian, ia dikabarkan meninggal dengan
mulut mengeluarkan busa. Overdosis obat, kata dokter.
Sebuah nota ditemukan
di meja kamar Nedin tertulis: Apa kabar Indah? Semoga kita bertemu disana.
Aku menyusulmu

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)