2 Feb 2019

Pesan Terakhir


Sudah dua jam sejak hujan reda, Nedin masih betah untuk duduk di teras. Matanya mengawang jauh sembari menghembuskan kepulan asap rokok. Kawanan serangga malam terdengar sedang melakukan tugasnya. Melaksanakan hukum alam sebagai penghuni alam gelap.

Ada sebuah penyesalan yang menggantung disana. Penyesalan harus membuka hati pada orang yang salah. Membuka hati yang telah ditutup selama lima tahun. Terbayang paras sorang wanita yang telah dicintainya beberapa bulan lalu itu, kini lenyap begitu saja bagai ditelan bumi. Ada begitu banyak kecamuk yang bersarang dalam benaknya saat ini. Perjuangan yang begitu panjang dan melelahkan untuk kembali membuka hati, kini tetap menemui ajalnya kepada seorang perempuan.

Lambat laun, ingatan yang mengambang tentang paras lembut nan lucu itu berubah menjadi amarah kebencian yang meronta ingin dilepaskan. Bagaimana tidak? Tepat setelah sholat ashar, Nedin mendapati kekasihnya sedang dibonceng oleh pria lain dengan wajah yang berseri-seri penuh kebahagiaan. Tepat lewat didepannya, namun mereka tidak sadar, atau mungkin sengaja melakukannya. Tidak mungkin mereka hanya sebatas teman atau masih memiliki ikatan keluarga. Pastilah mereka sedang memadu kasih.

Jiwa yang tadinya indah untuk menjalin asmara kini berubah menjadi gejolak perasaan yang kian menderu. Tidak disangka bahwa perempuan yang selama ini selalu menyatakan cinta tiap akhir chating, menyatakan rindu tiap ditelepon, menanyakan ‘kapan dilamar’ setiap kali Nedin bertamu, kini malah berubah menjadi monster yang siap melahap segala upayanya mentah-mentah.

Nedin memutuskan untuk pergi ke rumah dan menyelesaikan perkara asmara ini kepada orangtua sang kekasih adalah upaya penyelesaian paling waras pikirnya. Suasana yang biasanya disambut dengan kebahagiaan orangtua sang kekasih, kini berubah menjadi pilu. Sang ibu hanya bisa menutup mulutnya sambil meneteskan airmata. Ayah hanya bisa menunduk menahan malu. Putri bungsunya telah mencoreng nama keluarga. Menjadikan janji-janji tulus yang kemarin sempat dirancang bersama kini telah berupa amarah.

“Saya minta maaf pak, bu, sudah mengganggu jam istirahatnya. Tapi saya harus menyampaikan hal ini. Anak ibu, kini sudah menjadi kekasih orang lain. Sudah tidak menghargai saya sebagai calon suaminya. Sudah mengingkari janji yang bulan lalu telah kita bicarakan bersama.”

Jawaban yang didapat hanyalah tangisan penyesalan dari kedua orangtua itu. Sempat kakak sang kekasih mendengarkan, ikut bergabung. Namun mungkin karena tidak bisa menahan malu, akhirnya menghilang dari balik ruang tamu.

“Ini sudah cukup membuktikan bahwa saya salah memilih seorang calon pendamping bu. Semoga anak ibu menjadi lebih baik ke depannya. Saya pamit.”

Hening.

Tidak ada tanggapan lagi dari tuan rumah. Kejadian itu mengubah segala apa yang hari itu telah Nedin bangun bersama, ber-angan sejauh mata memandang, bercita sejauh lautan luas, kini dihempas hanya dengan segala kejadian murahan yang berlalu begitu cepat. Tidak ada pula pembelaan dari sang kekasih. Tidak ada upaya yang berusaha untuk tetap melanggengkan pertemuan ini. Masing-masing telah memilih jalur hidup yang berbeda.

“Kita hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.” Ucap seorang teman yang duduk di sampingnya.

“Tapi kita bisa menentukan haruskah waktu itu membuka hati, atau tidak.” Tandas Nedin sambil tidak melepaskan tatapannya ke depan.

“Bagaimana kalau itu adalah hikmah agar hidupmu lebih baik ke depannya? Minimal kamu tahu bahwa kamu tidak salah memilih pasangan dan berujung pada penyesalan yang lebih dalam.”

“Betul. Saya setuju tentang itu. Tapi kita bisa menentukan untuk memilih yang dicintai, atau memilih yang mencintai.”

“Maksudmu? Apakah ada orang yang mencintai kamu?”

“Ada.” Jawab Nedin pendek.

“Kejarlah dia! Harusnya kamu sudah sadar soal itu!” Temannya makin berapi untuk menyemangati Nedin.

“Tidak perlu. Dia hadir tiap hari. Saya saja yang terlalu menahan ego ini.”

“Nah, sekarang, lawan egomu, kejarlah dia! Ini kesempatan untukmu!”

“Tidak perlu dikejar. Dia sekarang tepat ada di sampingku.” Nedin sambil menatap teman di sebelahnya sambil tersenyum.

Wajah Indah mendadak merona. Menyajikan aroma kasmaran yang tidak disangka-sangka namun harus tetap terlihat tenang agar tidak kedapatan gugup di depan pria yang bertahun-tahun berhasil membuatnya jatuh cinta. Pria yang selalu ia sandingkan dalam doanya, pria yang selalu ia tautkan pada inci harapnya pada sang pencipta, pria yang selalu ia hadirkan dalam baris puisinya yang diam-diam ia tulis dalam buku diary-nya dan untuk dinikmati sendiri.

“Tapi, saya tidak mau menjadi pengejar abadi. Saya harus sadar juga bahwa ada orang yang mencintai saya. Saya juga harus insaf bahwa segala yang menunggu juga ada yang ditunggu. Begitupun sebaliknya, dan pasti akan seperti itu. Selalu.”

“Iya. Itu salah saya. Tidak menyadarinya sebagai perasaan, namun ungkapan teman biasa.”

Semilir angin berembus pelan, menyibakkan anak rambut Indah di atas dahi. Suasana berubah menjadi sunyi. Masing-masing memilih diam. Selang beberapa menit, Indah menitikkan airmata.
“Saya menyesal terlalu dekat denganmu. Terlalu menyimpan harap yang konyol. Terlalu menggantungkan perasaan hanya pada satu orang.”

Indah beranjak pergi. Meninggalkan tetangganya dan masuk ke rumah.

Sejak saat itu, Indah sudah tidak menyapa dan bertemu dengan Nedin. Di sisi lain, Nedin juga hilang kabar. Beberapa bulan kemudian, ia dikabarkan meninggal dengan mulut mengeluarkan busa. Overdosis obat, kata dokter.

Sebuah nota ditemukan di meja kamar Nedin tertulis: Apa kabar Indah? Semoga kita bertemu disana. Aku menyusulmu

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)