1 Feb 2019

Cerita Tentang Perapian Asmara


Sebuah ucapan ‘selamat malam’ akan menggantung malam ini di bibir langit. Menunggu empunya menyajikan paras indah dalam lautan keheningan yang bercampur deru hujan untuk disampaikan pada lautan di seberang sana.

Kita kalah. Tidak ada yang lebih hebat dari kekuatan menahan ego. Menjunjung tinggi perasaan paling berharga sebagai manusia, menyisakan ruangan tanpa maaf untuk orang tertentu.

Seperti itulah duka. Ia pandai meramu cerita paling melankolis, mencampurnya dengan sedikit kisah pilu, ungkapan bijak manusia, dan ditaburi perasaan terluka, sempurnalah nelangsa bekerja. Merobek segala kisah yang tertahan air pipi. Luluh-lantah lah kekuatan manusia. Pasrah.

Begitupun Perapian Asmara bekerja, ia selalu menjilat-jilat dinding damai setiap kali ungkapan “aku sayang kamu” tersaji pada meja-meja perasaan. Menjadikannya menu utama dalam sebuah pertemuan, menunggu dilahap pengunjung, lalu ditinggalkan begitu saja usai ungkapan paling waras tadi tercurahkan. Sisanya, kadang dibawa pulang, kadang dibuang ke tempat sampah. Konon, menu ini selalu disukai muda-mudi. Kalangan anak-anak berusia tanggung, atau orang dewasa yang sedang kasmaran.

Setiap pagi, para koki sudah tahu persis, masakan apa yang sedang digemari. Melihatnya dari lini masa, mencocokkan dengan kebutuhan pendatang, memasangkan tampilan paling bergaya, lalu diserbulah oleh para penikmat di malam harinya. Kadang, trend-nya adalah selingkuh, ada pula ditikung, tiba-tiba muncul pelakor, dan yang menjadi favorit pada kebanyakan orang adalah menu putus-nyambung.

Kadang, jika hujan turun mendadak, menu-menu segera berubah dengan cepat. Yang tadinya manis, mendadak disulap asin, ditambahkan dengan sedikit rasa pahit atau pedas yang bisa meneteskan airmata.

Mendadak? Iya. Selalu secepat bayangan kendaraan yang melintasi jalanan. Jika saja pelan, tetap lambat laun akan menghilang. Menyisakan gelap yang panjang di ujung jalan. Menantikan cahaya-cahaya baru yang lewat, berharap ditemani sampai ajal menjumpai.

Seperti itu juga menu-menu tadi. Di awal perjumpaan, biasanya orang-orang memesan menu yang manis, beraroma sedap, bertahan barang dua jam, menu akan kembali berubah menjadi hambar. Rasa manisnya mulai hilang, aromanya mulai pudar, dan biasanya para pasangan mulai kebingungan. Mulai mencari cara baru agar hidangannya tetap terasa di lidah.

Insting kreatif manusia mendadak muncul. Mulai mencampurkan si manis dengan garam, dengan gula, kecap, jeruk nipis, kopi, apa saja asal tetap ada rasanya. Lambat laun, rasa tadi pun mulai hilang ditelan hitungan-hitungan detik yang semakin melampaui batas angan.

Manusia kembali kepanikan, namun bumbu-bumbu penghilang hambar juga tampaknya habis. Dua tiga pasangan mulai adu mulut saling menyalahkan. Mulai mencibir, saling menyudutkan. Mulai menggertak, saling menakuti. Beberapa meja di satu sisi, terlihat sudah lengang ditinggalkan muda-mudi yang berujung saling dendam atau pendam. Sempat ada yang saling melemparkan tisu dan cangkir-cangkir kopi. Amarah menggantung disana.

Beberapa meja di sisi lain, muda-mudi terlihat tetap duduk manis dengan menu yang sudah habis. Tidak ada perintah menambahkan atau mencampurnya dengan rasa lain disana. Biasanya, merekalah yang ditetapkan sebagai pemenang. Lalu meninggalkan Perapian Asmara dengan rasa bahagia. Senyum-senyum penuh kemenangan. Ucapan-ucapan ‘selamat’ bermekaran di kiri-kanan. Menambah rasa bahagia yang sedang menyelimuti.

Kadang ada pasangan yang protes. Tidak menerima bahwa yang berbahagia adalah pemenang. Bukankah mereka bisa saja berbohong? Berusaha menutupi segala keburukan agar mendapat gelar juara semata. Agar orang-orang menyanjung dan mengelukan mereka. Agar mereka mendapatkan hadiah! Bukankah menjalani kebohongan adalah ketersiksaan? Lebih mahal harganya dibanding hadiah pujian! Biasanya begitu, namun sedikit jumlahnya. Kalah banyak dengan yang menyetujui konsep kebahagiaan ini.

Ada juga yang memilih tidak tampil pada kerumunan banyak orang. Memilih menikmatinya berdua, tanpa pujian, tanpa cacian, atau apapun. Hambar. Untuk kategori ini, hanya satu persen dari ribuan pengunjung yang ada disini. Mereka akan memilih meja dengan posisi paling sudut, sukar terlihat banyak orang, dan tidak ada keren-kerennya untuk diunggah ke lini masa jika hendak mengambil gambar. Namun setiap obrolan mereka bermakna, dipenuhi rencana-rencana paling menakjubkan, sesekali terdengar senyuman kikuk atau rengekan si pemudi, sisanya kembali pada posisi serius. Sepertinya mereka senang menceritakan hal-hal serius ketimbang ketawa-ketiwi, pose-pose jepret, lalu berujung saling melempar gelas dengan amarah itu.

Untuk saat-saat tertentu, lagu-lagu sendu mendadak favorit dinyanyikan. Biasanya jika malam hari dan sedang turun hujan. Namun kadang juga berganti dengan sorak-sorai lagu yang penuh kebahagiaan. Untuk perkara ini, jarang ada yang protes. Mereka memilih untuk menikmatinya. Para penyaji lagu memang cerdas memilihkan materi lagu. Merakitkan banyak lirik untuk dipadu dengan alunan musik.

Tetap saja, pasangan yang ada di sudut ruangan enggan menikmati alunan musik apapun. Bagi mereka, musik hanyalah penambah suasana alam. Bukan suasana hati. Entah esok lusa, jika musik berhenti bekerja, apakah suasana hati tetap akan bertahan? Pasangan seperti ini biasanya bertahan pada kerja-kerja hati yang tidak berhenti berdoa. Saling menautkan rasa aman pada sang pencipta. Bukan pada petikan gitar, atau suara piano yang mendamaikan. Pasangan seperti itu juga kerap mendapat perhatian khusus dari pasangan yang lain. Memang, mereka tidak akan dimenangkan oleh panitia, namun menjadi cerita di tiap-tiap benak pasangan lain yang juga tidak menerima kemenangan. Memilihnya sebagai cerita favorit kala menua di atas kursi-kursi kayu di pekarangan rumah. Sebuah cerita masa muda kakek-nenek judulnya.

Jangan salah, informasi terbaru mengatakan, tidak menjadi jaminan bahwa pasangan yang memperoleh kemenangan akan selalu bertahan menjadi cerita indah. Beberapa pasangan ternyata tertambat benang merah di pertengahan jalan. Memilih berbelok ke arah yang berbeda. Katanya sudah tidak sejalan.

Jika cerita seperti ini ditampilkan, panitia dengan cepat mengubah tema ceritanya. Biasanya dianggap sebagai drama, atau hanya sekadar mencari sensasi. Untuk hal ini, panitia memang paling jitu menentukan alur cerita, berusaha menjadikan Perapian Asmara agar tetap menjadi tempat favorit untuk dikunjungi dan menambatkan cerita-cerita indah.

Hingga akhirnya, selalu ada yang menggantung disana: Apakah ini sebuah akhir?

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)