Sebuah ucapan ‘selamat malam’ akan
menggantung malam ini di bibir langit. Menunggu empunya menyajikan paras indah
dalam lautan keheningan yang bercampur deru hujan untuk disampaikan pada lautan
di seberang sana.
Kita kalah. Tidak ada yang lebih
hebat dari kekuatan menahan ego. Menjunjung tinggi perasaan paling berharga
sebagai manusia, menyisakan ruangan tanpa maaf untuk orang tertentu.
Seperti itulah duka. Ia pandai meramu
cerita paling melankolis, mencampurnya dengan sedikit kisah pilu, ungkapan
bijak manusia, dan ditaburi perasaan terluka, sempurnalah nelangsa bekerja.
Merobek segala kisah yang tertahan air pipi. Luluh-lantah lah kekuatan manusia.
Pasrah.
Begitupun Perapian Asmara bekerja, ia
selalu menjilat-jilat dinding damai setiap kali ungkapan “aku sayang kamu”
tersaji pada meja-meja perasaan. Menjadikannya menu utama dalam sebuah
pertemuan, menunggu dilahap pengunjung, lalu ditinggalkan begitu saja usai
ungkapan paling waras tadi tercurahkan. Sisanya, kadang dibawa pulang, kadang
dibuang ke tempat sampah. Konon, menu ini selalu disukai muda-mudi. Kalangan
anak-anak berusia tanggung, atau orang dewasa yang sedang kasmaran.
Setiap pagi, para koki sudah tahu
persis, masakan apa yang sedang digemari. Melihatnya dari lini masa, mencocokkan
dengan kebutuhan pendatang, memasangkan tampilan paling bergaya, lalu
diserbulah oleh para penikmat di malam harinya. Kadang, trend-nya adalah
selingkuh, ada pula ditikung, tiba-tiba muncul pelakor, dan yang menjadi
favorit pada kebanyakan orang adalah menu putus-nyambung.
Kadang, jika hujan turun mendadak,
menu-menu segera berubah dengan cepat. Yang tadinya manis, mendadak disulap
asin, ditambahkan dengan sedikit rasa pahit atau pedas yang bisa meneteskan
airmata.
Mendadak? Iya. Selalu secepat
bayangan kendaraan yang melintasi jalanan. Jika saja pelan, tetap lambat laun
akan menghilang. Menyisakan gelap yang panjang di ujung jalan. Menantikan
cahaya-cahaya baru yang lewat, berharap ditemani sampai ajal menjumpai.
Seperti itu juga menu-menu tadi. Di
awal perjumpaan, biasanya orang-orang memesan menu yang manis, beraroma sedap,
bertahan barang dua jam, menu akan kembali berubah menjadi hambar. Rasa
manisnya mulai hilang, aromanya mulai pudar, dan biasanya para pasangan mulai
kebingungan. Mulai mencari cara baru agar hidangannya tetap terasa di lidah.
Insting kreatif manusia mendadak
muncul. Mulai mencampurkan si manis dengan garam, dengan gula, kecap, jeruk
nipis, kopi, apa saja asal tetap ada rasanya. Lambat laun, rasa tadi pun mulai
hilang ditelan hitungan-hitungan detik yang semakin melampaui batas angan.
Manusia kembali kepanikan, namun
bumbu-bumbu penghilang hambar juga tampaknya habis. Dua tiga pasangan mulai adu
mulut saling menyalahkan. Mulai mencibir, saling menyudutkan. Mulai menggertak,
saling menakuti. Beberapa meja di satu sisi, terlihat sudah lengang
ditinggalkan muda-mudi yang berujung saling dendam atau pendam. Sempat ada yang
saling melemparkan tisu dan cangkir-cangkir kopi. Amarah menggantung disana.
Beberapa meja di sisi lain, muda-mudi
terlihat tetap duduk manis dengan menu yang sudah habis. Tidak ada perintah
menambahkan atau mencampurnya dengan rasa lain disana. Biasanya, merekalah yang
ditetapkan sebagai pemenang. Lalu meninggalkan Perapian Asmara dengan rasa
bahagia. Senyum-senyum penuh kemenangan. Ucapan-ucapan ‘selamat’ bermekaran di
kiri-kanan. Menambah rasa bahagia yang sedang menyelimuti.
Kadang ada pasangan yang protes.
Tidak menerima bahwa yang berbahagia adalah pemenang. Bukankah mereka bisa saja
berbohong? Berusaha menutupi segala keburukan agar mendapat gelar juara semata.
Agar orang-orang menyanjung dan mengelukan mereka. Agar mereka mendapatkan
hadiah! Bukankah menjalani kebohongan adalah ketersiksaan? Lebih mahal harganya
dibanding hadiah pujian! Biasanya begitu, namun sedikit jumlahnya. Kalah banyak
dengan yang menyetujui konsep kebahagiaan ini.
Ada juga yang memilih tidak tampil
pada kerumunan banyak orang. Memilih menikmatinya berdua, tanpa pujian, tanpa
cacian, atau apapun. Hambar. Untuk kategori ini, hanya satu persen dari ribuan
pengunjung yang ada disini. Mereka akan memilih meja dengan posisi paling
sudut, sukar terlihat banyak orang, dan tidak ada keren-kerennya untuk diunggah
ke lini masa jika hendak mengambil gambar. Namun setiap obrolan mereka
bermakna, dipenuhi rencana-rencana paling menakjubkan, sesekali terdengar senyuman
kikuk atau rengekan si pemudi, sisanya kembali pada posisi serius. Sepertinya
mereka senang menceritakan hal-hal serius ketimbang ketawa-ketiwi, pose-pose
jepret, lalu berujung saling melempar gelas dengan amarah itu.
Untuk saat-saat tertentu, lagu-lagu
sendu mendadak favorit dinyanyikan. Biasanya jika malam hari dan sedang turun
hujan. Namun kadang juga berganti dengan sorak-sorai lagu yang penuh kebahagiaan.
Untuk perkara ini, jarang ada yang protes. Mereka memilih untuk menikmatinya.
Para penyaji lagu memang cerdas memilihkan materi lagu. Merakitkan banyak lirik
untuk dipadu dengan alunan musik.
Tetap saja, pasangan yang ada di
sudut ruangan enggan menikmati alunan musik apapun. Bagi mereka, musik hanyalah
penambah suasana alam. Bukan suasana hati. Entah esok lusa, jika musik berhenti
bekerja, apakah suasana hati tetap akan bertahan? Pasangan seperti ini biasanya
bertahan pada kerja-kerja hati yang tidak berhenti berdoa. Saling menautkan
rasa aman pada sang pencipta. Bukan pada petikan gitar, atau suara piano yang
mendamaikan. Pasangan seperti itu juga kerap mendapat perhatian khusus dari
pasangan yang lain. Memang, mereka tidak akan dimenangkan oleh panitia, namun
menjadi cerita di tiap-tiap benak pasangan lain yang juga tidak menerima
kemenangan. Memilihnya sebagai cerita favorit kala menua di atas kursi-kursi
kayu di pekarangan rumah. Sebuah cerita masa muda kakek-nenek judulnya.
Jangan salah, informasi terbaru
mengatakan, tidak menjadi jaminan bahwa pasangan yang memperoleh kemenangan
akan selalu bertahan menjadi cerita indah. Beberapa pasangan ternyata tertambat
benang merah di pertengahan jalan. Memilih berbelok ke arah yang berbeda.
Katanya sudah tidak sejalan.
Jika cerita seperti ini ditampilkan,
panitia dengan cepat mengubah tema ceritanya. Biasanya dianggap sebagai drama,
atau hanya sekadar mencari sensasi. Untuk hal ini, panitia memang paling jitu
menentukan alur cerita, berusaha menjadikan Perapian Asmara agar tetap menjadi
tempat favorit untuk dikunjungi dan menambatkan cerita-cerita indah.
Hingga akhirnya, selalu ada yang
menggantung disana: Apakah ini sebuah akhir?

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)