Sejauh ini,
hujan masih saja turun saat sore hingga malam hari. Menyisakan lelehan air
langit yang membekas pada dinding rumah atau kaca jendela. Selokan air terlihat
mengalir menuju muaranya. Jangkrik juga mulai menjalankan tugasnya sebagai
penghuni malam. Berbunyi bersahutan mengalirkan nada sumbang yang tidak
beraturan di dinginnya malam.
Adzan isya
yang terdengar nyaring dari pengeras suara merupakan tanda waktu yang bisa
ditaksir tanpa melirik jam dinding yang ada di salah satu dinding ruang tamu. Fyrah
masih saja duduk gelisah dalam kamarnya. Menatap beberapa lembar kertas ujian
yang tetap tidak dikerjakannya sekitar tiga puluh menit yang lalu. “Take home”
yang dibawanya dari ruang kelas minggu lalu adalah tugas ujian yang harus
dikerjakan, dan esok wajib dikumpulkan. Entah sejak zaman apa bahwa ujiannya
mahasiswa boleh dibawa ke rumah, menyalinnya dari sumber antah barantah,
disambung-sambung dari berbagai teori yang boleh jadi tanpa disaring, lalu diluapkannya
dengan bebas merdeka ke dalam kertas, boleh jadi tanpa ditelaah, dipenuhi
dengan tinta hitam, dan abda kadabra!
Jadilah sebuah tulisan ilmiah!
“Astaga!
Hampir lupa!” Fyrah teringat sesuatu, lalu diraihnya tas ransel yang sering
dibawa ke kampus. Dibukanya salah satu ritsleting, dirogohnya beberapa detik,
lalu keluarlah sebuah sapu tangan berwarna biru tua yang sudah sedikit kumal. Dilihat-lihatnya
sapu tangan itu, diendusnya. “Weeekkk… Punya siapa ini?? Pasti orang yang susah
mengurus dirinya sendiri. Apa jangan-jangan punya orang gila? Hiiiih… Atau
mungkin punya seorang pangeran yang dikutuk? Atau seorang penyair hebat di
kampusku? Atau jangan-jangan punya mamang tukang mi ayam? Tapi aku menemukannya
di tangga lantai dua. Masa mamang mi ayam kesana? Ngapain? Membawakan mi ayam
pesanan dosen? Ah, sudahlah! Esok aku simpan lagi saja di tempatnya. Lagipula,
ngapain tadi saya memungut benda ini?” Fyrah asyik berceloteh sendiri dalam
kamarnya.
Beberapa
menit kemudian, dia mulai memegang alat tulisnya, mulai menyejajarkan tulisan
temannya dengan kertas kosong yang di ujung atas telah tertulis namanya, nama
mata kuliah beserta dosen pengampu. Dengan tangan yang telah menggenggam pena, mulai
ditulisnya ulangan Ekonomi Mikro Semester 4. Jari-jarinya mulai menggerakkan
pena, membentuk huruf demi huruf yang berubah menjadi kata lalu bermetamorfosis
menjadi kalimat, menyusul paragraf-paragraf.
Sambil menulis,
Fyrah kembali memikirkan sesuatu. Anak ini memang suka mengkhayal. Kenapa kita
harus membaca buku sebanyak mungkin? Bukankah dalam kehidupan ini asal perut
kenyang? Bukankah semua manusia membutuhkan uang? Asal punya uang, semuanya
tenang. Semuanya nyaman. Sejahtera juga diukur dari standar ekonomi dan
penghasilan masyarakat. Bukankah sejahtera itu adalah kebahagiaan? Atau apakah
kebahagiaan diukur dengan banyaknya uang? Lalu kenapa aku harus berkuliah? Toh
malah mengeluarkan banyak uang. Tapi, kalau saya mengeluarkan uang, berarti ada
yang menerima uang saya. Mereka jadi punya uang, lalu hidup nyaman. Berarti,
kalau saya berkuliah, apakah saya memberikan dosen saya kebahagiaan? Memberikan
dosen saya kenyamanan? Tapi mereka sepertinya tidak nyaman. Makanya sering
memarahi mahasiswa yang bertanya namun tidak masuk akal. Sering keluar kelas
jika ada mahasiswa yang tidak sependapat, atau juga sering mendendam di tugas
akhir (skripsi) jika ada mahasiswa yang dianggap “bermasalah” selama berkuliah.
Hmmm… Kalau
tidak bahagia, kenapa kampus sering mengingatkan tentang uang semester? Beberapa
teman saya juga kerap diusir tiap kali ujian. Uang semester belum lunas! Katanya
sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi uang ujian belum lunas saja
diusir. Ada mahasiswa yang banyak bertanya juga dianggap risih. Satu lagi, nanti
di ujung semester, pasti ada saja pengurus BEM yang meminta sumbangan untuk
kegiatan civitas kampus. Acaranya juga membosankan. Kalau tidak seminar, pasti
kegiatan olahraga. Kalau tidak futsal, ya voli. Belum pernah saya lihat
pengurus BEM mengadakan kegiatan di luar itu. Terserah mau apa saja. Asal tidak
hanya futsal, voli, seminar.
Katanya mahasiswa
adalah agen perubahan. Tapi masih saja sama di tiap semesternya. Dan saya
dengar dari kakak tingkat juga katanya dari dulu juga begini-begini saja. Ini agen
perubahan atau agen penurutan? Atau mungkin kampus yang memerintahkan? Semua
pegurus BEM wajib melakukan agenda tahunan yang sama. Agar anggarannya jelas
dan transparan. Padahal tiap tahun, selalu naik biaya registrasi saya di kampus
ini. Apakah mahasiswanya yang tidak kreatif? Atau kampusnya yang otoriter demi
menyamankan diri mereka sendiri? Ah pusing.
Mana masih
banyak tugas yang harus saya habiskan. Tahu kok bahwa tugas-tugas dan ulangan
ini akan berakhir pada tukang loak atau kertas pembungkus gorengan. Cukuplah dengan
predikat nilai A atau B, semua orang sepertinya sudah riang gembira. Ibarat ketiban
durian runtuh atau rumahnya dibedah seperti acara-acara di televisi swasta itu.
Padahal, setahu saya, masyarakat tidak bertanya tentang nilai berapa di dalam
ijazah? Atau status kelulusannya cum laude atau tidak? Setahu saya tidak
menanyakan hal itu. Lagipula, belum pernah ada orang waras yang kemana-mana
membawa selembar ijazah dengan riang gembira karena nilainya A+ murni. Kecuali kalau
dia gila.
Eh, sampai
dimana mencontekku? Oh ya. Tidak perlu menyalahkan aku yang mencontek. Toh temanku
juga mengambil dari internet. Dari internet itu juga katanya hasil jiplakan
dari sumber internet yang lain. Meskipun kata KPK, mencontek adalah awal dari
korupsi, tapi saya pesimis akan jadi pejabat negara. Toh menjadi manusia saja
susah. Sering dinilai miring, kadang ditatap sinis oleh yang lain, mungkin juga
nama saya sering digunjing. Itu baru menjadi manusia biasa. Apalagi pejabat
pemerintah yang mengurusi hak hidup orang banyak. Waaah… bisa pecah otak saya.
Tapi, saya
juga pesimis dengan negara ini akan bertahan sampai 20 tahun ke depan. Bukan menjiplak
dari salah satu ungkapan calon presiden sekarang ya… Tapi memang kita sudah
siap dijajah kembali oleh bangsa asing. Asing tidak harus C*na atau A*ab. Tapi bisa
jadi alien dari planet Mars atau Saturnus.
Benar kata
penulis favorit saya; “Tidak ada mobil terbang, robot super canggih, rumah
melayang, alat komunikasi mutakhir atau hal lain yang menakjubkan di awal tahun
ini. Kita masih di I*donesia. Masih begini-begini saja.”
Untungnya, saya
berkuliah di jurusan ekonomi. Mending jadi pebisnis atau penipu berbasis hukum
agama. Mudah saja.
Hujan makin
deras. Beberapa orang terdengar berlarian dari samping rumah. Menghindari air
hujan dengan berteduh. Tiba-tiba pintu kamar Fyrah diketok.
“Nak, ayo
makan dulu! Nanti masuk angin. Dari tadi sore kamu hanya di kamar nak…” Suara
khas ibu memanggil dari balik kamar.
“Iya bu,
sebentar lagi…”
Suara itu
menghilang, disusul dengan suara petir yang menyambar.
“Astaghfirullah!”
Fyrah kaget dan refleks melemparkan sapu tangan biru yang digenggamnya.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. “Kembalikan sapu tanganku atau mimpi
buruk akan mendatangimu!”
Berlanjut nanti...

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)