3 Jan 2019

Celoteh Hujan (part 1)


Sejauh ini, hujan masih saja turun saat sore hingga malam hari. Menyisakan lelehan air langit yang membekas pada dinding rumah atau kaca jendela. Selokan air terlihat mengalir menuju muaranya. Jangkrik juga mulai menjalankan tugasnya sebagai penghuni malam. Berbunyi bersahutan mengalirkan nada sumbang yang tidak beraturan di dinginnya malam.

Adzan isya yang terdengar nyaring dari pengeras suara merupakan tanda waktu yang bisa ditaksir tanpa melirik jam dinding yang ada di salah satu dinding ruang tamu. Fyrah masih saja duduk gelisah dalam kamarnya. Menatap beberapa lembar kertas ujian yang tetap tidak dikerjakannya sekitar tiga puluh menit yang lalu. “Take home” yang dibawanya dari ruang kelas minggu lalu adalah tugas ujian yang harus dikerjakan, dan esok wajib dikumpulkan. Entah sejak zaman apa bahwa ujiannya mahasiswa boleh dibawa ke rumah, menyalinnya dari sumber antah barantah, disambung-sambung dari berbagai teori yang boleh jadi tanpa disaring, lalu diluapkannya dengan bebas merdeka ke dalam kertas, boleh jadi tanpa ditelaah, dipenuhi dengan tinta hitam,  dan abda kadabra! Jadilah sebuah tulisan ilmiah!

“Astaga! Hampir lupa!” Fyrah teringat sesuatu, lalu diraihnya tas ransel yang sering dibawa ke kampus. Dibukanya salah satu ritsleting, dirogohnya beberapa detik, lalu keluarlah sebuah sapu tangan berwarna biru tua yang sudah sedikit kumal. Dilihat-lihatnya sapu tangan itu, diendusnya. “Weeekkk… Punya siapa ini?? Pasti orang yang susah mengurus dirinya sendiri. Apa jangan-jangan punya orang gila? Hiiiih… Atau mungkin punya seorang pangeran yang dikutuk? Atau seorang penyair hebat di kampusku? Atau jangan-jangan punya mamang tukang mi ayam? Tapi aku menemukannya di tangga lantai dua. Masa mamang mi ayam kesana? Ngapain? Membawakan mi ayam pesanan dosen? Ah, sudahlah! Esok aku simpan lagi saja di tempatnya. Lagipula, ngapain tadi saya memungut benda ini?” Fyrah asyik berceloteh sendiri dalam kamarnya.

Beberapa menit kemudian, dia mulai memegang alat tulisnya, mulai menyejajarkan tulisan temannya dengan kertas kosong yang di ujung atas telah tertulis namanya, nama mata kuliah beserta dosen pengampu. Dengan tangan yang telah menggenggam pena, mulai ditulisnya ulangan Ekonomi Mikro Semester 4. Jari-jarinya mulai menggerakkan pena, membentuk huruf demi huruf yang berubah menjadi kata lalu bermetamorfosis menjadi kalimat, menyusul paragraf-paragraf.

Sambil menulis, Fyrah kembali memikirkan sesuatu. Anak ini memang suka mengkhayal. Kenapa kita harus membaca buku sebanyak mungkin? Bukankah dalam kehidupan ini asal perut kenyang? Bukankah semua manusia membutuhkan uang? Asal punya uang, semuanya tenang. Semuanya nyaman. Sejahtera juga diukur dari standar ekonomi dan penghasilan masyarakat. Bukankah sejahtera itu adalah kebahagiaan? Atau apakah kebahagiaan diukur dengan banyaknya uang? Lalu kenapa aku harus berkuliah? Toh malah mengeluarkan banyak uang. Tapi, kalau saya mengeluarkan uang, berarti ada yang menerima uang saya. Mereka jadi punya uang, lalu hidup nyaman. Berarti, kalau saya berkuliah, apakah saya memberikan dosen saya kebahagiaan? Memberikan dosen saya kenyamanan? Tapi mereka sepertinya tidak nyaman. Makanya sering memarahi mahasiswa yang bertanya namun tidak masuk akal. Sering keluar kelas jika ada mahasiswa yang tidak sependapat, atau juga sering mendendam di tugas akhir (skripsi) jika ada mahasiswa yang dianggap “bermasalah” selama berkuliah.

Hmmm… Kalau tidak bahagia, kenapa kampus sering mengingatkan tentang uang semester? Beberapa teman saya juga kerap diusir tiap kali ujian. Uang semester belum lunas! Katanya sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi uang ujian belum lunas saja diusir. Ada mahasiswa yang banyak bertanya juga dianggap risih. Satu lagi, nanti di ujung semester, pasti ada saja pengurus BEM yang meminta sumbangan untuk kegiatan civitas kampus. Acaranya juga membosankan. Kalau tidak seminar, pasti kegiatan olahraga. Kalau tidak futsal, ya voli. Belum pernah saya lihat pengurus BEM mengadakan kegiatan di luar itu. Terserah mau apa saja. Asal tidak hanya futsal, voli, seminar.

Katanya mahasiswa adalah agen perubahan. Tapi masih saja sama di tiap semesternya. Dan saya dengar dari kakak tingkat juga katanya dari dulu juga begini-begini saja. Ini agen perubahan atau agen penurutan? Atau mungkin kampus yang memerintahkan? Semua pegurus BEM wajib melakukan agenda tahunan yang sama. Agar anggarannya jelas dan transparan. Padahal tiap tahun, selalu naik biaya registrasi saya di kampus ini. Apakah mahasiswanya yang tidak kreatif? Atau kampusnya yang otoriter demi menyamankan diri mereka sendiri? Ah pusing.

Mana masih banyak tugas yang harus saya habiskan. Tahu kok bahwa tugas-tugas dan ulangan ini akan berakhir pada tukang loak atau kertas pembungkus gorengan. Cukuplah dengan predikat nilai A atau B, semua orang sepertinya sudah riang gembira. Ibarat ketiban durian runtuh atau rumahnya dibedah seperti acara-acara di televisi swasta itu. Padahal, setahu saya, masyarakat tidak bertanya tentang nilai berapa di dalam ijazah? Atau status kelulusannya cum laude atau tidak? Setahu saya tidak menanyakan hal itu. Lagipula, belum pernah ada orang waras yang kemana-mana membawa selembar ijazah dengan riang gembira karena nilainya A+ murni. Kecuali kalau dia gila.

Eh, sampai dimana mencontekku? Oh ya. Tidak perlu menyalahkan aku yang mencontek. Toh temanku juga mengambil dari internet. Dari internet itu juga katanya hasil jiplakan dari sumber internet yang lain. Meskipun kata KPK, mencontek adalah awal dari korupsi, tapi saya pesimis akan jadi pejabat negara. Toh menjadi manusia saja susah. Sering dinilai miring, kadang ditatap sinis oleh yang lain, mungkin juga nama saya sering digunjing. Itu baru menjadi manusia biasa. Apalagi pejabat pemerintah yang mengurusi hak hidup orang banyak. Waaah… bisa pecah otak saya.

Tapi, saya juga pesimis dengan negara ini akan bertahan sampai 20 tahun ke depan. Bukan menjiplak dari salah satu ungkapan calon presiden sekarang ya… Tapi memang kita sudah siap dijajah kembali oleh bangsa asing. Asing tidak harus C*na atau A*ab. Tapi bisa jadi alien dari planet Mars atau Saturnus.

Benar kata penulis favorit saya; “Tidak ada mobil terbang, robot super canggih, rumah melayang, alat komunikasi mutakhir atau hal lain yang menakjubkan di awal tahun ini. Kita masih di I*donesia. Masih begini-begini saja.”

Untungnya, saya berkuliah di jurusan ekonomi. Mending jadi pebisnis atau penipu berbasis hukum agama. Mudah saja.

Hujan makin deras. Beberapa orang terdengar berlarian dari samping rumah. Menghindari air hujan dengan berteduh. Tiba-tiba pintu kamar Fyrah diketok.

“Nak, ayo makan dulu! Nanti masuk angin. Dari tadi sore kamu hanya di kamar nak…” Suara khas ibu memanggil dari balik kamar.

“Iya bu, sebentar lagi…”

Suara itu menghilang, disusul dengan suara petir yang menyambar.

“Astaghfirullah!” Fyrah kaget dan refleks melemparkan sapu tangan biru yang digenggamnya. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. “Kembalikan sapu tanganku atau mimpi buruk akan mendatangimu!”

Berlanjut nanti...

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)