2 Jan 2019

Dilarang Bercermin Tengah Malam (part 2)


“Maksud ibu?” Aku menyelidik.

“Sudahlah. Ibu paham apa yang harus ibu lakukan. Dok, suami saya akan dibedah jam berapa?”

“Jika ibu setuju, tiga jam dari sekarang juga bisa kita lakukan. Berhubung kondisi pasien juga perlu cepat ditangani.”

“Ya sudah lakukan saja yang terbaik dok!” Ibu menderu

“Perlu ibu tandatangani dulu surat persetujuannya bu. Mari ikut saya.” Dokter dengan wajah tetap tenang menyilakan ibu menuju ruang administrasi.

“Pak Tahir. Bapak bisa bantu kami sekali lagi pak?”

“Ada apa ini bu!?”

“Tolong temani bapak disini termasuk menguruskan administrasinya.”

“Ibu mau kemana??” Masih kebingungan dengan apa yang terjadi.

“Pokoknya bapak disini saja dulu. Akan saya minta Paman Firman untuk turut menemani bapak disini.”

“Pak Tahir berkata ragu, namun mengiyakan.”

Dua detik kemudian ibu sudah menarik lenganku, menyuruhku ikut. Pak Tahir yang masih kebingungan juga akhirnya sadar hendak apa yang  ia lakukan. Kami melesat langsung menuju tempat parkir. Hujan hanya menyisakan rintik lembut yang terlihat dari cahaya lampu jalan yang menyala kuning. Aku melesat cepat meraih helm dan jas hujan. Ibu sudah menghidupkan mesin motor, tujuh detik berikutnya, motor kami sudah melesat cepat menuju.

“Kita kemana bu!?”

“Kita kerumah. Kamu bantu ibu melakukan ritual pemandian akhir.”
“Maksud ibu?”

Sejujurnya ada banyak hal yang baru aku ketahui dari kejadian ini. Ibu yang bersolek manja di depan cermin, ayah yang mengigau menyebut nama cermin, eyang menjemput, dan yang terakhir ini, ritual pemandian akhir. Benar-benar belum aku ketahui sebelumnya.

“Nanti saja. Kita harus cepat-cepat. Ini waktu yang kritis nak!” Motor kami makin meliuk kencang menuju rumah.

“Tolong ambilkan baskom berisi air di dapur, bawakan ke dalam kamar.” Perintah ibu.
Aku sudah tidak menjawab dan mantap mengikuti arahannya. Aku memang belum sepenuhnya paham, namun banyak bertanya dalam keadaan genting juga bukan hal yang baik.

“Sini, taruhlah di depan cermin.” Terlihat ibu sedang mencari sepilihan kembang dari dalam laci mejanya, merobeknya kecil-kecil lalu mencampurkannya dengan air dari baskom. Dua menit kemudian, ibu sudah siap duduk bersemedi di depan cermin. Wajahnya memancarkan cahaya lembut namun terasa mistis. Aku hanya terkesima dan duduk di sisi ranjang melihat ibu melakukan ritual pemandian akhir.

“Jangan teriak atau melakukan apa-apa jika melihat apapun nantinya.” Kata ibu mantap sambil tetap memejamkan matanya. Diaduknya air kembang tadi dengan putaran yang berlawanan dengan arah jarum jam. Dari samping, aku bisa melihat ibu mengucapkan mantra yang tidak kudengar dengan jelas ucapannya. Dua menit berlalu, hening. Tidak ada apa-apa. Namun ibu tetap berkonsetrasi, memejamkan mata. Diambilnya silet, lalu menyayat jari manis kanannya. Aku menahan napas demi melihat itu agar tidak teriak. Darah segar mengalir dari jari manisnya, lalu ibu membenamkan kembali tangannya ke baskom air, mengaduknya sekali lagi dengan putaran yang lebih kuat.

Selang tiga puluh detik, angin berembus cukup kuat. Menyibakkan gorden jendela dari celah-celah sirkulasi udara di atas jendela. Hujan yang tadi sempat menderas juga turut berhenti seketika, seolah ada yang memaksakannya berhenti. Aku menatap lebih fokus pada ibu. Satu detik kemudian ibu membuka mata dan cermin yang di depan ibu terbelah seakan dilempari batu. Aku menahan napas, mataku melotot tidak sangka. Cerminnya hancur berjatuhan dan tiba-tiba muncul sosok tua yang merangkak keluar dari dalam cermin. Tubuhnya renta, rambutnya panjang tak beraturan, wajahnya tidak terlihat jelas dan hanya memakai sarung dengan panjang se-betis. Aku tidak kenal siapa yang datang, tapi sepertinya itu eyang.

Ibu langsung mengambil posisi berjongkok, bersiap meminta ampun atas undangan mendadak.
“Eyang, aku yang melanggar sumpah itu. Ambil saja aku, bukan suamiku eyang!”
“Hmmmm….” Eyang hanya bergumam, perlahan mendekat.

Aku yang sedari tadi memperhatikan ibu juga mundur, merinding melihat sosok aneh yang mendadak muncul.

“Jangan kau jadikan suamiku sebagai muridmu eyang. Aku yang telah melanggar sumpah ini! Aku yang harusnya kau bawa pergi eyang.” Suara ibu setengah menaik, namun urung demi menghadapi sosok yang ada di depannya.

“Sudah aku putuskan siapa yang ikut! Dan itu adalah suamimu!”

“Ngapunten eyang. Aku mencintainya. Biar aku saja yang ikut denganmu. Aku yang setiap malam tetap berdandan di depan cermin, tetap merias diri setelah jam dua belas malam, tetap bernyanyi saat tengah malam. Aku yang melanggar sumpah itu eyang…” Ibu terisak mengakui kesalahannya.

“Tidak bisa! Ini keputusan para leluhur!” Eyang makin mendekat ke wajah ibu yang ragu-ragu menatap.

Telepon rumah kami berdering. Beberapa detik lengang. Namun tidak ada yang berani beranjak dari kamar.

Dua kali telepon berdering.

Dua puluh detik kemudian kembali berdering.

“Angkat teleponnya Zahra!” Aku dengan ragu-ragu keluar kamar, mendekati gagang telepon, lalu berbicara.

“Hallo…”

“hallo, Zahra. Ini Paman Firman. Ibumu dimana? Kenapa kalian di rumah? Ini ayahmu!”

“Ada apa dengan ayah, Paman!??”

“Ayahmu… Sukar diselamatkan oleh dokter!”
Aku langsung melepas gagang telepon, membiarkannya berjuntai, lalu aku melemas di samping meja ruang tengah.

“Ada apa Zahra?” Ibu menyusulku.

“Ayah bu… Ayah meninggal…”

Mendadak ibu tertawa keras. Keras sekali. “Bagus! Bagus sekali! Ini yang saya nantikan! Mampus kau Ismail!” Lalu kembali tertawa keras namun airmatanya mengalir pelan melewati pipinya.

Sejak malam itu, ibu sudah tidak ingat tentang ayah, tentang eyang yang hilang entah kemana, tentang aku, anak satu-satunya yang sering disisirkan rambut oleh beliau. Tentang apa saja.

Ibu lebih betah di rumah sakit jiwa, sekarang. Hingga saat ini, hingga usia saya 23 tahun. Hingga potongan cerminnya tetap aku bawa sebagai pengingat bahwa jangan bercermin di tengah malam.

Apapun alasanmu!

Tamat.
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)