9 Jan 2020

Definisi Pendidikan

Semoga saya salah mendefinisikan pendidikan. Tentang wajah-wajah tegang, tentang patuh terhadap sistem yang mengungkung, tentang ikuti banyak aturan agar menyandang gelar taat semata, lalu dipuji-puji tentang nilai tinggi, prestasi dalam angka-angka, yang kita juga bermain mata untuk mengubahnya. Demi sebuah prestasi yang lebih besar. Demi sebuah akreditasi yang dipuji langit. Demi ucapan manis dari khalayak ramai. Kita lupa bahwa pendidikan melahirkan manusia, bukan mesin bernyawa.

Semoga saya salah mendefinisikan pendidikan. Tentang segudang kebijakan, tentang kewajiban dan penekanan, tentang kepedulian dan kepalsuan, tentang penyeragaman dan perbedaan yang ternyata hanya bayangan.

Sekali lagi, semoga saya salah mendefinisikan pendidikan. Tentang mengedepankan sikap bijak ketimbang amarah, tentang semangat kepedulian ketimbang menikam, tentang mencontoh ketimbang mendikte.

Semoga saya tidak benar mendefinisikan pendidikan. Tentang terobosan yang dianggap persaingan, tentang inovasi yang dianggap tidak peduli, tentang teknologi yang malah dianggap tidak mematuhi.

Bahwa kita dianugerahi akal untuk berpikir lalu bertindak. Agar yang terjadi adalah keindahan, bukan kesalahpahaman.

Bukankah pendidikan mengajarkan demikian? Lalu kenapa kita masih melakukan?

Atau kita sudah menjadi mesin? Yang kebetulan punya sisi kemanusiaan.

Tenang. Ini hanya khayalan.

Continue Reading
Share:

8 Jan 2020

Ibu Dinihari

Saya tidak tahu apakah ini juga terjadi di daerahmu, tentang ibu-ibu separuh baya yang bangun tengah malam, mulai menyiapkan sayur yang telah dipetiknya sore kemarin, merapihkannya pada bakul-bakul, mengikatnya erat-erat dengan tali, lalu sedikit membersihkan diri, dan berjalan menyusuri penduduk, melewati gang kecil sambil memikul bakulnya menuju jalan besar dan menumpang pada mobil bak untuk berangkat ke pasar, menunggu dagangannya dibeli oleh penjual tangan kedua dengan harga yang tidak seberapa, kemudian mulai menghilang saat fajar menyingsing naik ke singgasana.

Jika mereka enggan ke pasar barang seminggu, atau bahkan sebulan, tibalah di musim bencana, anak-anak mulai terserang penyakit karena kekurangan vitamin, pedagang makanan kaki lima mulai jarang buka, rumah-rumah makan mulai sepi pengunjung karena lauknya kurang sedap, atau bahkan ada manusia dewasa yang stress karena menu makannya tidak lengkap.

Jika saja tumbuh gerakan massal untuk bermalasan sedikit saja, sudah pasti semua perputaran yang semestinya, macet total.

Sudah semestinya saya mengapresiasi para pejuang pagi, para petarung dinihari, ibu-ibu yang menjajakkan sayurnya ke pasar saat pagi buta itu, dengan setinggi-tingginya, sehormat-hormatnya

Continue Reading
Share:

7 Jan 2020

Merawat Khayal

Sebagai seorang penulis professional, yang sudah melahirkan banyak novel, yang kerap menelurkan banyak cerpen, yang telah menjamahi banyak puisi, bahkan tahun lalu saja menyabet tiga kejuaraan sekaligus di tingkat nasional untuk penulisan narasi teater monolog terbaik, saya sudah tidak memaksa atau uring-uringan agar tulisan saya diunggah di akun Instagram @30haribercerita .

Agenda itu saya lakukan hanya untuk melebarkan sayap pengenalan diri saya kepada kawula muda bahwa ada penulis se hebat saya abad ini di Indonesia.

Nama saya sudah tidak cocok disejajarkan dengan nama-nama penulis best seller Indonesia; Andrea Hirata, Pidi Baiq, Dee Lestari, Tere Liye, Habiburrahman El-Shirazy, Asma Nadia, Anwar Fuadi, Fiersa Besari, Boy Candra, JS. Khairen, dan sederet nama mentereng lainnya. Mohon maaf, saya sudah di atas mereka beberapa tingkat.

Jadi, jika hanya merengek untuk diposting ulang dari akun @30haribercerita, hanyalah komedi semata.

Demikianlah mimpi saya setiap pagi sebelum berangkat kerja sebagai seorang karyawan kantoran.

Continue Reading
Share:

6 Jan 2020

Cermin

Aku berkali-kali memencet semut merah yang merayap di tangan dan pahaku. Berkali-kali pula memeras ingus dan melemparnya ke sembarang arah. Pilek. Ya, itu yang aku rasakan sekarang. Jika ditanya penyebabnya, sudah barang tentu karena kehujanan kemarin.

Lalu, apakah aku harus menyalahi proses perjalanannya? Atau karena kehujanannya? Bukan keduanya. Aku menyalahkan diriku sendiri yang tidak menyiapkan segala sesuatunya dengan benar.

Jika sudah tahu bahwa sekarang musim hujan, ya siapkan mantel atau alat anti basah lainnya. Bukan mengandalkan tebak-tebakan bodoh kapan hujan dan cerah.

Begitupun dengan segala keputusan yang hendak diambil, pikirkan segala resikonya, lihatlah ancamannya, ukur kemampuan, lalu mulailah bertindak dengan saksama.

Dirasa terlalu banyak mikir? Kata orang bijak, berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Bukan bertindak dahulu lalu berpikir.

Lalu aku berbalik badan usai memarahi diri sendiri di depan cermin dan kembali melempar ingus ke sembarang arah.

Continue Reading
Share:

5 Jan 2020

Di Atas Aspal

Jika ditanya cerita perjalanan hari ini, mungkin akan bisa saya kenang selalu. Mulai dari rencana sejak semalam, persiapan tadi pagi, berangkat agak terlambat, kehujanan di jalan, kedinginan, bercerita tentang cita-cita, identitas diri, masalah pribadi, hingga tingkah konyol masing-masing dari kami.

Saya tidak pernah melakukan perjalanan seperti ini sebelumnya. Yang biasanya janjian dan bertemu di kafe, warung kopi, rumah makan, atau taman. Namun kali ini, aku bisa berjalan lebih jauh, bercerita panjang dan masing-masing menyimpan kenangan.

Alam memang bijak untuk menjawab keresahan kami untuk melepas rasa penasaran masing-masing. Duduk di bawah pondok, menatap perbukitan, hijaunya pepohonan, dan larian kecil anak-anak di sisi sungai.

Terima kasih telah mau menemani, terima kasih telah bersedi bercerita.

Sengaja saya tidak menceritakan lebih rinci di sini. Cukuplah saya menyimpannya sendiri, atau nanti berubah bentuk jadi cerita pendek. 

Continue Reading
Share: