8 Jan 2020

Ibu Dinihari

Saya tidak tahu apakah ini juga terjadi di daerahmu, tentang ibu-ibu separuh baya yang bangun tengah malam, mulai menyiapkan sayur yang telah dipetiknya sore kemarin, merapihkannya pada bakul-bakul, mengikatnya erat-erat dengan tali, lalu sedikit membersihkan diri, dan berjalan menyusuri penduduk, melewati gang kecil sambil memikul bakulnya menuju jalan besar dan menumpang pada mobil bak untuk berangkat ke pasar, menunggu dagangannya dibeli oleh penjual tangan kedua dengan harga yang tidak seberapa, kemudian mulai menghilang saat fajar menyingsing naik ke singgasana.

Jika mereka enggan ke pasar barang seminggu, atau bahkan sebulan, tibalah di musim bencana, anak-anak mulai terserang penyakit karena kekurangan vitamin, pedagang makanan kaki lima mulai jarang buka, rumah-rumah makan mulai sepi pengunjung karena lauknya kurang sedap, atau bahkan ada manusia dewasa yang stress karena menu makannya tidak lengkap.

Jika saja tumbuh gerakan massal untuk bermalasan sedikit saja, sudah pasti semua perputaran yang semestinya, macet total.

Sudah semestinya saya mengapresiasi para pejuang pagi, para petarung dinihari, ibu-ibu yang menjajakkan sayurnya ke pasar saat pagi buta itu, dengan setinggi-tingginya, sehormat-hormatnya
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)