1 Jan 2019

Dilarang Bercermin Tengah Malam (part 1)

Perkenalkan, namaku Zahra, dan memiliki sebuah cermin kesayangan. Kisah ini aku tulis agar kamu tidak hanya percaya mitos sebagai mitos semata. Namun lebih dari itu, apa yang aku alami benar-benar nyata.

Bacalah, atau matikan ponselmu.

Ibu pernah bercerita bahwa sejak kecil, seusai mandi, aku selalu didandani oleh ibu dengan berbagai macam gaya rambut; kadang diponi, dikuncir kuda, dikepang dua, atau hanya dibiarkan terurai dengan hiasan pita merah jambu, atau mengenakan bandul berwarna putih tepat di atas kepalaku. Sambil menyisir di depan cermin, ibu biasanya menyanyikan tembang jawa. Maklum, ibu adalah mantan seorang pesinden wayang kelas lokal. Selain menyanyi, kadang ibu memberikan nasihat-nasihat tentang bagaimana menjadi seorang perempuan yang semestinya, bagaimana berlagak di depan orangtua, bagaimana memasang wajah ayu saat menerima tamu, atau nasihat-nasihat lain yang tentu saja tidak saya ingat persis.

Setiap hari Minggu, ibu selalu membersihkan cerminnya dengan kain basah, me-lapnya dengan teliti dan terakhir menyiramkannya dengan air kembang lalu diusap kembali dengan kain kering hingga mengkilap. Hal tersebut berlangsung setiap minggu dalam rentang waktu 6 tahun terakhir (seingatku) sampai pada sebuah kejadian tak terduga menimpa keluarga kami.

Suatu malam, saat hujan turun rintik-rintik dan ayah masih di kantor, ibu membangunkanku yang ketiduran di sofa ruang keluarga, lalu mengajakku ke kamarnya. Aku sempat melirik ke jam dinding yang terpasang di ruang keluarga, terlihat waktu menunjukkan pukul 23.45. Aku masih sempoyongan dan masih setengah sadar saat masuk ke kamar ibu, dan tampak beliau sudah duduk manis di depan cermin.

“Zahra, sini cepat! Ibu terlihat cantik bukan?” Sambil tersenyum manis dan mengelus-elus wajahnya sendiri. Seperti seorang gadis usia belasan yang sedang senang-senangnya memuji diri sendiri.

“Hah? Ibu kenapa?” Aku yang merasa aneh dengan tingkah ibu langsung bertanya demikian.

“Eh… Lihat dulu… Cantik bukan?” Ibu masih saja bertingkah aneh.

“Bu, malam ini aku tidur dengan ibu ya?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Jangan nak… Ayahmu belum menelepon memberikan kabar, apakah ayah pulang atau menginap di kantor. Nanti ayahmu tidur dimana?” Ibu hanya menjawab tanpa memalingkan wajahnya pada cermin.

“Kan ibu bisa bangunkan lagi, jika ayah sudah pulang.” Aku sudah duduk di samping pembaringan, bersiap menarik selimut dan merebahkan diri.

“Lihat dulu ibu nak. Tampak cantik bukan? Terlihat seperti gadis bukan?”

“Iya bu… Ibu cantik. Sudah ah, Zahra mau tidur.”
Dengan mataku yang masih mengantuk, aku sudah tidak peduli apa yang ibu lakukan.

“Lihatlah ibu…”

Lalu ibu mulai menyanyikan tembang jawa. Suaranya meninggi, melengking, melantunkan lagu yang sama sekali tidak kupahami artinya.

Hujan semakin deras mengguyur, membuat suara ibu makin samar terdengar ditambah dengan keadaanku yang makin mengantuk.

Selang 10 menit, tiba-tiba ada yang menggedor pintu rumah dengan kencang.

“Bu… Ibu… Zahra… Permisi… Bu…”

Aku sontak membuka mata, melihat ke arah ibu.

“Bu! Itu ada yang memanggil dari luar!”

“Ya, ada apa? Ada apa?”

Ibu terlihat seperti yang baru saja tersadar dari khayalannya.

Aku yang kesal dengan ibu lantas membuka selimut, melangkah ke ruang tamu, dan membukakan pintu.

“Ada apa Pak Tahir?”

“E… Anu bu. Eh, Zahra… Anu…”

“Ada apa Pak?” Suara ibu bersambut dari belakangku.

“Ini Bu… Si bapak kecelakaan!”

“Ya Allah…!!! Ayah..!!” Terlihat ibu mendadak lunglai.

“Bu, sadar bu!!” Aku berusaha menyadarkan.

“Ayah dimana sekarang?”

“Sedang diantar warga ke rumah sakit, Ra.”

“Baik pak, kami segera kesana. Terima kasih pak!”

“Mari nak…”

Ibu masih melemas di sandaran sofa ruang tamu. Aku segera mendudukan ibu, memberikannya segelas air.

“Ibu! Ayolah! Ayah membutuhkan kita di rumah sakit!”

“Ambilkan jas hujan di dapur nak! Ibu keluarkan motor dari garasi.” Ibu tersadar dari lunglainya.

“Baik bu.” Aku langsung melesat ke dapur, sementara ibu sudah siap dengan motor yang sudah dihidupkan mesinnya.

“Ini bu.” Aku memberikan jas hujan pada ibu, dipakainya, sambil aku mengunci pintu depan. Lalu motor kami melesat menuju jalan raya.

Sepuluh menit berlalu, motor kami melesat menuju jalanan yang lengang. Sudah tengah malam, hujan besar pula. Wajar jika jalanan lengang, hanya tersisa beberapa kendaraan roda dua yang mungkin sedang menunggu hujan reda. Terjebak di perjlanan.

Belok kiri, lalu motor kami diparkirkan sembarangan. Akan diatur oleh petugas parkir, pikirku. Kami berdua menuju UGD. Dari kejauhan, terlihat beberapa wajah yang aku kenali, sebagai tetangga dan warga kampungku.

“Pak Tahir, bagaimana bapak?”

“Nanti saja bu. Lekaslah mengikuti suster itu.” Pak Tahir menunjuk ke arah lorong, saat ayah dibawa ke ruang rawat.

“Zahra disini saja. Jangan kemana-mana!”

“Tapi Zahra mau ikut bu!”

“Nanti saja! Untuk sementara, kamu tunggu dengan Pak Tahir!” Kata ibu sambil bergegas menuju ayah yang didorong petugas rumah sakit.

“Sudahlah, nak Zahra disini saja. Toh ayahmu sudah ditangani dokter.” Pak Tahir sebagai Ketua RT di kampungku berusaha menenangkan.

Aku terduduk lemas di sebuah kursi panjang di depan ruang UGD.

“Minum dulu nak.” Soerang pria seumuran Pak Tahir mmengasongkan sebotol air mineral.

“Terima kasih pak.” Cepat-cepat aku meminumnya. Aku memang mudah haus jika sedang dalam keadaan panik.

Jeda lima menit, rumah sakit mulai lengang. Orang-orang yang tadi sempat mengantarkan ayah satu persatu berpamitan karena hujan sudah mulai reda. Cukup logis dengan alasan itu untuk mereka pulang ke rumah, pikirku. Tinggal Pak Tahir yang memang cukup akrab dengan ayah di kampung. Teman bermain catur yang akur.

Aku penasaran dengan apa yang terjadi pada ayah.

“Bagaimana kejadiannya Pak?”

“Eh… Apa nak? Kejadian ayahmu?”

“Iya Pak. Bagaimana kejadiannya?”

“ Begini nak. Kuatkan hatimu dulu. Tadi, saya bersama dengan Pak Nasrun dan Pamanmu Firman sedang duduk di pos ronda samping jalan sambil bermain gaple. Lalu terdengar decitan ban mobil ayahmu mengerem sesaat lalu menghantam tiang listrik yang di seberang warung Pak Mamat. Entah rem mobil ayahmu blong atau mungkin ia sedang mengantuk. Tapi bemper depannya hancur dan kepala ayahmu sepertinya mengenai setir mobil. Anehnya, saat ayahmu dibopong, ia menyebutkan cermin, cermin, cermin… Tapi tidak kami pedulikan karena sudah panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Saya menyusul karena harus mengabarkannya pada ibu dan Zahra.”

Nafasku tertahan sebentar saat mendengar cerita kejadian dari Pak Tahir.

“Ayah menyebut cermin?”

“Mungkin hanya mengigau karena kecapekan, lalu kecelakaan nak.” Air muka pak Tahir berubah lesu saat menceritakan kejadian itu.

“Zahra, Zahra!” Terdengar suara ibu yang memanggil dari kejauhan.

“Ayahmu nak! Ayahmu!”

“Ada apa dengan ayah bu!?” Aku sontak berdiri disusul dengan Pak Tahir.

“Kata dokter, ayahmu harus segera dioperasi. Kepalanya bocor akibat menghantam benda tumpul yang terlalu keras.” Ibu terlihat panik.

“Tenang bu, semua akan baik-baik saja.” Pak Tahir berusaha menenangkan.

Tujuh detik kemudian, dokter mendekati ibu.

“Apakah pasien memiliki trauma dengan sebuah cermin?”

“Cermin??” Aku dan ibu menjawab hampir bersamaan.

“Iya cermin. Pasien tampaknya mengigau namun selalu menyebut cermin, cermin.”

Wajah ibu berubah lesu seperti tersadar akan sesuatu.

“Sepertinya eyangmu sudah menjemput, nak.”


Bersambung…

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)