23 Sept 2018

Reguk Saja Kopimu dan Terbanglah Menuju Bintang

Aku baru saja mengenakan mantel sebelum melangkah keluar menuju garasi rumah. Dari balik kaca helm, mataku buyar dengan embun yang menempel pada kaca dibaliknya. 17.55 WIB. Terlihat samar-samar dari jam tanganku yang juga sedikit berembun. Hujan sore ini menenangkan. Sungguh.

Aku temaram menatap langit kelabu. Hari ini tidak seperti biasanya. Ada urusan yang harus aku putuskan. Tetap menjalin hubungan dengannya atau berhenti menyakiti hati. Tapi sungguh! Aku tenang saat ini. Sepeda motorku berpacu normal menuju tempat yang mungkin saja menjadi saksi pilu perpisahan kami atau tertawa riang menyaksikan dua insan tetap berpadu asmara.

Beberapa anak sekolahan tampak gelisah menunggu angkutan umum di sisi jalan. Pedagang keliling tampak murung di bawah emperan toko yang berjajar. Anak-anak kecil terlihat riang berlari telanjang dada menikmati butir air yang turun. Di persimpangan jalan, aku belok kiri, “SENJA KAFE” tertulis dengan papan dari kayu berbentuk persegi panjang nampak menggantung di atas pintu masuk kafe itu. Aku memarkirkan motor.

Sungguh aku belum pernah se-tenang ini dalam mengambil sebuah keputusan. Aku memarkirkan motor di sebelah kiri pintu masuk, membuka mantel, menggantungnya di atas kaca spion, melepaskan helm dan menuju ke dalam. Senyum para waiters terlempar ramah padaku tanda selamat datang. Aku juga membalas senyuman lalu mendekat ke sebuah meja yang sudah ditempati olehnya.

Tunggu! Aku tidak akan menyebutkan namanya sekarang.

“Sudah lama?” Tanyaku sambil melepaskan tas samping dan menaruhnya di atas meja.

“Dua puluh menit yang lalu. Pesanlah dulu kopimu.”

Aku melambaikan tangan, tanda memanggil seorang waiter, menarik kursi lalu aku duduk.

“Permisi mbak… Ini daftar menu-nya…”

“Cappucino hangat satu.”

“Ada lagi?”

“Cukup mas.” Aku sambil menyodorkan kembali daftar menu-nya pada karyawan kafe.

“Baik mbak… Tunggu yaah…” Lalu karyawannya pergi sambil membawa daftar menu.

“Jadi bagaimana?” Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku hanya ingin penjelasan tentang hubungan kita.” Kulihat matanya meredup.

“Oh, masih mau penjelasan? Aku pikir kita sudah punya jawaban tentang hubungan ini.”

“Kamu masih tidak percaya denganku? Dia itu temanku!”

“Oh, semesra itu memboncengnya?”

“Mungkin dia tidak sengaja!”

“Ya sudah… Lalu ini apa?” Aku menunjukkan isi obrolanku dengan seorang perempuan yang pasti dia kenal.

“Di dalam isi obrolan ini, dia bertanya padaku apakah aku masih berhubungan denganmu atau tidak?”

“Yaaa… mungkin dia hanya iseng-iseng aja.”

“Oh iya… Aku lupa menunjukkan isi chattingan-mu dengannya.” Lalu aku membuka gambar yang berisi obrolan dia dengan seorang perempuan.

Matanya terbelalak.

“Tidak mungkin dia mengakuinya!”

“Sudahlah… Silakan berbahagia dengannya. Aku pergi.”

“Tidak segampang itu Wi!” Dia meraih lenganku.

“Berhentilah memanggil namaku! Aku bukan lagi pacarmu!”

Dadaku berpacu lebih kencang, ingin aku mendaratkan tanganku pada pipinya tapi aku tahan. Aku sudah setenang mungkin saat datang. Aku tidak ingin lagi disakiti oleh perasaanku sendiri. Darahku mengalir lebih cepat, aku rasakan kakiku seakan tertanam pada lantai, tanganku seakan dirantai, dan mulutku seakan dijahit.

Aku hanya menertawakan kisah cintaku yang telah aku rajut selama satu tahun ini.

“Ini sudah kali ke tiga kamu ketahuan selingkuh. Dan cukuplah aku yang menjadi terakhir untuk kau sakiti.”

“Tapi aku cinta padamu.”

“Cinta memang selalu jadi bahaya pada orang yang salah mengendalikannya.”

“Lalu bagaimana keputusanmu?”

“Kita putus.” Aku menjawab lirih.

“Tidak Wi! Aku harus bilang apa pada mama?”

“Oh, tidak perlu. Aku yang akan menjelaskan langsung pada mama. Tenanglah.”

“Jangan Wi, aku mohon!”

“Asal kamu tahu bahwa beberapa kali mamaku bertanya tentang laki-laki lain yang berniat menyuntingku tapi aku tolak demi kamu… Demi laki-laki yang aku percaya akan menjadi ayah yang baik bagi anak-anakku kelak. Tapi ternyata aku salah! Aku memang seharusnya tidak melawan orangtua yang sudah memberikan banyak saran untuk calon suamiku! Entahlah. Maaf aku tidak bisa menjadi rumah yang membuatmu nyaman untuk pulang.”

Cappucino pesananku datang. Ku lemparkan pandangan ke arah pintu keluar. Tampak lampu-lampu jalan menguning di sisi jalan dengan temaram. Hujan sudah mulai reda. Hanya gerimis dan semilir pahit yang menemani. Ya, aku masih berusaha tenang menghadapi jalan akhir ini.

Aku mereguk Cappucino-ku. 18.13 WIB saat kulirik jam tanganku. Dua menit kemudian, kepalaku pusing, tampak pria yang  ada didepan hanya memperhatikan layar ponselnya, aku terasa memikul baja yang berat di pundak, kepala serasa dihantam benda tumpul dengan keras, mataku terasa perih, dan satu menit berikutnya, aku terbang menuju bintang.***

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)