Aku temaram
menatap langit kelabu. Hari ini tidak seperti biasanya. Ada urusan yang harus
aku putuskan. Tetap menjalin hubungan dengannya atau berhenti menyakiti hati.
Tapi sungguh! Aku tenang saat ini. Sepeda motorku berpacu normal menuju tempat
yang mungkin saja menjadi saksi pilu perpisahan kami atau tertawa riang
menyaksikan dua insan tetap berpadu asmara.
Beberapa anak
sekolahan tampak gelisah menunggu angkutan umum di sisi jalan. Pedagang keliling
tampak murung di bawah emperan toko yang berjajar. Anak-anak kecil terlihat
riang berlari telanjang dada menikmati butir air yang turun. Di persimpangan
jalan, aku belok kiri, “SENJA KAFE” tertulis dengan papan dari kayu berbentuk
persegi panjang nampak menggantung di atas pintu masuk kafe itu. Aku memarkirkan
motor.
Sungguh aku belum pernah se-tenang ini dalam mengambil sebuah keputusan.
Aku memarkirkan motor di sebelah kiri pintu masuk, membuka mantel,
menggantungnya di atas kaca spion, melepaskan helm dan menuju ke dalam. Senyum para
waiters terlempar ramah padaku tanda selamat datang. Aku juga membalas
senyuman lalu mendekat ke sebuah meja yang sudah ditempati olehnya.
Tunggu! Aku
tidak akan menyebutkan namanya sekarang.
“Sudah lama?”
Tanyaku sambil melepaskan tas samping dan menaruhnya di atas meja.
“Dua puluh
menit yang lalu. Pesanlah dulu kopimu.”
Aku
melambaikan tangan, tanda memanggil seorang waiter, menarik kursi lalu
aku duduk.
“Permisi
mbak… Ini daftar menu-nya…”
“Cappucino
hangat satu.”
“Ada lagi?”
“Cukup mas.”
Aku sambil menyodorkan kembali daftar menu-nya pada karyawan kafe.
“Baik mbak…
Tunggu yaah…” Lalu karyawannya pergi sambil membawa daftar menu.
“Jadi
bagaimana?” Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku hanya ingin
penjelasan tentang hubungan kita.” Kulihat matanya meredup.
“Oh, masih mau
penjelasan? Aku pikir kita sudah punya jawaban tentang hubungan ini.”
“Kamu masih
tidak percaya denganku? Dia itu temanku!”
“Oh, semesra
itu memboncengnya?”
“Mungkin dia
tidak sengaja!”
“Ya sudah…
Lalu ini apa?” Aku menunjukkan isi obrolanku dengan seorang perempuan yang
pasti dia kenal.
“Di dalam
isi obrolan ini, dia bertanya padaku apakah aku masih berhubungan denganmu atau
tidak?”
“Yaaa…
mungkin dia hanya iseng-iseng aja.”
“Oh iya… Aku
lupa menunjukkan isi chattingan-mu dengannya.” Lalu aku membuka gambar
yang berisi obrolan dia dengan seorang perempuan.
Matanya terbelalak.
“Tidak
mungkin dia mengakuinya!”
“Sudahlah…
Silakan berbahagia dengannya. Aku pergi.”
“Tidak
segampang itu Wi!” Dia meraih lenganku.
“Berhentilah
memanggil namaku! Aku bukan lagi pacarmu!”
Dadaku
berpacu lebih kencang, ingin aku mendaratkan tanganku pada pipinya tapi aku
tahan. Aku sudah setenang mungkin saat datang. Aku tidak ingin lagi disakiti
oleh perasaanku sendiri. Darahku mengalir lebih cepat, aku rasakan kakiku
seakan tertanam pada lantai, tanganku seakan dirantai, dan mulutku seakan dijahit.
Aku hanya
menertawakan kisah cintaku yang telah aku rajut selama satu tahun ini.
“Ini sudah
kali ke tiga kamu ketahuan selingkuh. Dan cukuplah aku yang menjadi terakhir
untuk kau sakiti.”
“Tapi aku
cinta padamu.”
“Cinta
memang selalu jadi bahaya pada orang yang salah mengendalikannya.”
“Lalu
bagaimana keputusanmu?”
“Kita putus.”
Aku menjawab lirih.
“Tidak Wi!
Aku harus bilang apa pada mama?”
“Oh, tidak
perlu. Aku yang akan menjelaskan langsung pada mama. Tenanglah.”
“Jangan Wi,
aku mohon!”
“Asal kamu
tahu bahwa beberapa kali mamaku bertanya tentang laki-laki lain yang berniat
menyuntingku tapi aku tolak demi kamu… Demi laki-laki yang aku percaya akan
menjadi ayah yang baik bagi anak-anakku kelak. Tapi ternyata aku salah! Aku memang
seharusnya tidak melawan orangtua yang sudah memberikan banyak saran untuk
calon suamiku! Entahlah. Maaf aku tidak bisa menjadi rumah yang membuatmu
nyaman untuk pulang.”
Cappucino
pesananku datang. Ku lemparkan pandangan ke arah pintu keluar. Tampak lampu-lampu
jalan menguning di sisi jalan dengan temaram. Hujan sudah mulai reda. Hanya gerimis
dan semilir pahit yang menemani. Ya, aku masih berusaha tenang menghadapi jalan
akhir ini.
Aku mereguk
Cappucino-ku. 18.13 WIB saat kulirik jam tanganku. Dua menit kemudian, kepalaku
pusing, tampak pria yang ada didepan hanya memperhatikan layar ponselnya, aku terasa memikul baja yang berat di
pundak, kepala serasa dihantam benda tumpul dengan keras, mataku terasa
perih, dan satu menit berikutnya, aku terbang menuju bintang.***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)