Aku bisa saja menceritakan hal ini kepada seseorang yang akrab denganku. Tapi tidak. Aku tidak yakin dia akan percaya begitu saja. Maka aku ceritakan ini padanya. Sosok yang tidak mau dikenali oleh semua orang kecuali aku. Tapi jika suatu hari nanti kamu tahu cerita ini, berarti aku sudah hadir dimana saja dan kapan saja. Urungkan niatmu untuk melanjutkan membacanya jika kamu ragu pada ceritaku.
*
Hujan masih berlanjut sejak adzan ashar dikumandangkan. Halaman rumah yang banyak ditumbuhi pohon terlihat berserakan dengan dedaunan yang jatuh diterpa angin. Suara kodok mulai meramaikan seisi halaman yang tergenang oleh hujan. Langit mendung juga terlihat semakin gelap oleh hari yang menunjukkan petang. Beberapa tetangga telah menyalakan lampu rumah dan mulai sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam.
Aku masih saja duduk di kursi santai yang berada di teras rumah sambil bersiul. Sebuah kebiasaan sedari kecil ketika aku dan almarhum ayah mencari anak bebek yang hilang atau mungkin terjebak di selokan sekitar rumah.
‘Aduh ieu budak, lain geura asup, geus rek peuting… (Nih anak bukannya masuk rumah, sudah mau malam…)’
‘Iya bu, bentar lagi. Kagok.’ Sambil mendendangkan sebuah lagu sunda dalam siulan.
‘Heh! Geus rek adzan magrib. Pamali! (Heh! Sudah mau adzan magrib. Pamali!)’
Aku sudah tidak menghiraukan ibu. Bagiku, bersiul adalah hal yang paling sederhana ketika aku rindu pada ayah.
‘…eeh banondari nu geulis kawanti-wanti nu endah na malih warna puputon kembang kadaton jungjunan…’ dalam irama siulan yang makin serius.
‘Heh! Geura asup imah! (Heh! Cepat masuk rumah!)’ Ibu menepuk pundakku yang membuatku sontak berhenti. Aku langsung menuju kamar, sedangkan ibu bersiap-siap untuk menghadiri pengajian tiap malam Jum’at di masjid kampung.
*
Aku merajuk pada ibu dalam keadaan berbaring di kamar dengan lampu yang remang-remang. Aku tidak terlalu suka dengan cahaya yang terang. Dalam rajukanku, aku merasa bayangan seseorang yang menghampiriku dari belakang. Aku tahu persis bahwa itu bukanlah bayangan ibu. Tapi anehnya, kenapa aku tidak takut?
Dalam keadaan sadar, aku merasakan bahwa bayangan itu semakin mendekat dan aku memberanikan untuk membalikkan badanku, melihatnya.
Aku melihat seorang perempuan bertubuh kecil dengan tinggi yang hampir sama denganku. Rambutnya panjang dan mengenakan gaun putih.
Tunggu! Ini iblis! Teriakku dalam hati.
Sekali lagi aku perhatikan, kakinya tidak terlihat tapi ia juga tidak melayang.
‘Halo Sanny, terima kasih telah memanggilku’ Dia tersenyum padaku.
‘Kamu siapa!?’ Aku perlahan mundur dengan ragu.
‘Aku adalah tamu yang kamu panggil. Mari, bersiul denganku’ Dia tersenyum lagi.
‘Tidak! Aku tidak kenal kamu!’
‘Jangan takut. Aku temanmu yang kamu undang.’
‘Tidak! Aku tidak mau!’
Seketika aku merasakan hawa panas dari ubun-ubunku dan menjalar di sekujur tubuhku.
‘Kini, setengahku adalah kamu, dan setengahmu adalah aku. Ikutlah denganku!’
‘Ibuuuu!!!!!!!’ Teriakku sejadi-jadinya.
*
Aku terbangun dalam keadaan berselimut dan rumahku dihadiri beberapa tamu. Ibu terlihat duduk di samping kasur sambil mengusap-usap kepalaku. Terdengar beberapa pria yang mungkin seumuran ayah masih berada di teras sambil ngobrol yang entah apa pembahasannya. Kepalaku terasa berat.
‘Bade mam heula bageur? (Mau makan dulu?)’ Tawar ibu padaku sambil tersenyum.
Aku hanya menggelengkan kepala dan berusaha mengingat-ingat apa yang barusan terjadi.
Ya, perempuan itu.
Kemana dia?
Kemana perginya?
Apa aku cuma mimpi?
Tidak! Aku hanya berkhayal tadi!
Tidak! Dia tidak ada! Tidak! Batinku.
‘Halo Sanny sayang… Mari kita bersiul’
‘Ayah? Itu suara ayahku! Ayah dimana?’
‘Mari ikut denganku sayang… Mari bersiul…’
‘Mari ayah… Aku rindu padamu.’
Aku bangkit dari tidurku dan kemudian keluar rumah mengikuti ayah.
‘Sanny bade kamana?’
Aku hanya menjawabnya dengan siulan…
‘…eeh banondari nu geulis kawanti-wanti nu endah na malih warna puputon kembang kadaton jungjunan…’
Aku melihat senyuman ayah dengan riangnya membawaku ke selokan. Membawaku semakin jauh…
‘Hus! Keluar kamu Iblis! Kamu tidak bisa menipu kami!’ Ucap seorang pria setengah baya sambil memegang tanganku.
‘Hahaha… Aku tidak bisa menipu kalian tapi anak ini rindu ayahnya dan aku bisa menjelma jadi apa saja. Anak ini adalah milikku, dan aku berhak atasnya! Dia telah mengundangku. Setengahnya adalah aku dan setengahku adalah dia!’
‘Kalau kamu tidak keluar, tunggu akibatnya!’
‘Hahaha! Keluar? Berikan aku pulpen dan kertas!’
Ibu memberikan apa yang aku pinta dan mulailah aku menulis.
“Aku bisa saja menceritakan hal ini kepada seseorang yang akrab denganku. Tapi tidak. Aku tidak yakin dia akan percaya begitu saja. Maka aku ceritakan ini padanya. Sosok yang tidak mau dikenali oleh semua orang kecuali aku. Tapi jika suatu hari nanti kamu tahu cerita ini, berarti aku sudah hadir dimana saja dan kapan saja. Urungkan niatmu untuk melanjutkan membacanya jika kamu ragu pada ceritaku…”
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)