4 Feb 2019

Arwah



Kerumunan orang masih sibuk membicarakan Gofur. Korban tabrak lari yang digilas oleh truk pengangkut pasir dari arah yang berlawanan. Tubuhnya sudah digeser ke sisi jalan. Wajahnya setengah hancur, lengan kanannya patah dan sudah tidak berbentuk sempurna. Rambutnya terkikis kasar akibat ban truk yang memaksa maju menggilas kepalanya. Telinganya masih terus mengeluarkan darah meski sudah tidak bergerak lima menit terakhir.

“Eee teman... Itu orang mati,truk tabrak. Tadi sa liat truknya lari kiri-kanan kiri-kanan tida jelas, terus dia tabrak ini Gofur ni. Gofur dari arah berlawanan sepertinya dalam keadaan mabok juga dia. Posisi Gofur lari macam ke orang kesurupan. Akhirnya dia masuk di kolong truk ni.”
“Tapi sopirnya dimana sekarang om?” Tanya seorang pria.

“Tida tahu lagi. Katanya dia langsung menyerahkan diri ke kantor polisi. Tadi om pung anak yang kasitahu.”
Jelas orang yang biasa dipanggil Om Markus pada beberapa orang yang berada disana. Mereka tampak manggut-manggut mendengarkan.

Sepuluh menit berlalu, Polisi telah datang ke lokasi kejadian, lengkap dengan deretan pertanyaan pada beberapa saksi dan garis polisi yang melintang menutupi seperempat jalan raya itu. Aku memilih menghindar. Menjelma udara. Selanjutnya adalah Pak Darma. Targetku setelah kematian Ajisaka dan Gofur.

Kematian ini akan terlihat seperti sewajarnya kematian. Kejadian bunuh diri akibat depresi oleh Ajisaka dan tabrakan kendaraan oleh Gofur. Sewajarnya manusia meninggal dalam sebuah tragedi. Tidak ada yang sadar kecuali diriku sendiri. Sebagaimana ketika malam hari, Gofur mulai kuintai saat ia sedang bercinta dengan seorang perempuan dalam kamar kosnya.

Perempuan itu kurasuki isi kepalanya, kuarahkan ia untuk membujuk Gofur membeli moke. Beranjaklah ia mengambil uang, membuka pintu, menyuruh anak buahnya mendapatkan moke. Selanjutnya, aku arahkan perempuan yang kuketahui bernama Lara itu mulai mendekati Gofur, menghembuskan nafasnya perlahan di telinga Gofur, mulai menjilati daun telinganya perlahan. Gofur meringis menahan geli. Kembali Lara ciumi telinganya dan bergeser perlahan menyusuri pipi dan mulai mengecup bibirnya. Gofur sudah mulai tidak sabaran. Ia dengan lebih kasar hendak mengangkat kaus Lara perlahan. Terlihatlah baju dalam Lara.

Kembali aku arahkan Lara untuk tetap merayu Gofur agar tidak buru-buru melakukan nafsu bejatnya. Aku membangkitkan Lara menuju sebuah mini tape, memutarkan lagu PayungTeduh – Resah. Suasana menjadi lebih bersahabat. Alunan music melakukan tugasnya dengan baik. Pintu kamar diketuk. Sebuah keresek hitam berisi botol moke kini hadir menemani dua orang (tepatnya tiga orang) untuk bercinta malam ini.
Gofur sudah bersungut-sungut di tengah Kasur. Tidak sabaran menunggu dibelai lembut tangan Lara. Aku mengarahkan Lara untuk mengambil gelas, menuangkan moke, memberikan pada Gofur dengan sedikit taruhan yang manja “habiskan, dan adikmu aku tidurkan” bisik Lara sambil tersenyum menggoda. Diraihlah gelas moke yang telah tertuang penuh, ditenggaknya sampai habis, lalu dengan cepat meraih tangan Lara sambil tertidur. Lara mengusap-usap wajah Gofur dengan jari, lembut, sesekali memasukkan jarinya pada mulut Gofur, menarik celananya perlahan, menunjukkan belahan dada, mendekatkannya pada mulut Gofur, dua detik, tiga detik, empat detik, hening. Gofur tidak sadarkan diri.

Aku keluar dari kepala Lara, tapi tunggu! Ada sesuatu yang bisa aku baca dari alam pikirannya. Lara memiliki rekam jejak yang sulit dilupakan. Masa lalunya adalah seorang santriwati pesantren, kemudian jatuh cinta pada Gofur saat pulang ke rumah dan enggan kembali ke pesantren. Gofur sendiri menjanjikannya kehidupan yang layak jika mau dinikahi oleh Gofur. Namun karena sudah terlanjur cinta, Lara memilih diam-diam berpacaran dengan Gofur tanpa diketahui orangtuanya.

Sudahlah! Tidak penting aku melanjutkan cerita tentang Lara saat ini. Gofur sudah kembali tersadar. Tubuhku kembali masuk dalam kepala Lara, merengek minta dibelikan makanan setelah bercinta. Kini Gofur tidak langsung melakukannya. Ia rebahan sebentar, seperti hendak bangun namun masih tampak linglung. Dibangunnya Gofur, meraih kunci motor dan keluar sempoyongan. Dihidupkannya motor, berjalan menuju jalan raya.

Senyumku mengembang. Sudah saatnya si keparat ini menjemput ajalnya. Kepalanya kurasuki. Awalnya agak susah karena ia masih dalam keadaan mabuk. Mendadak aku sendiri merasa pusing. Pikirannya terlalu kacau, ada banyak kejadian yang disimpannya sendiri. Aku mulai makin banyak tahu tentang Gofur. Emosiku makin menjadi, niat membunuhku makin kuat. Ku menarik gas motor dengan lebih kencang. Mula-mula ia merasa bingung, namun dengan sekuat tenaga menahan tangannya sendiri untuk melaju. Aku gagal melakukan pembunuhan pertama.

Gofur menggeleng. Merasakan sesuatu yang aneh, tapi tetap melanjutkan perjalanan. Motor kembali melesat, aku kembali merasuki kepalanya, aku kencangkan lengannya pada setir motor. Tetap meluruskan motornya pada jalur yang sudah berbelok. Gagal. Gofur lebih dahulu mematikan mesin motornya. Ia menyadari kaku pada tangannya sebelum terjun ke jurang. Gagal.

Kali ini aku harus berhasil. Bagaimana tidak, hanya seorang manusia biasa seperti Gofur, aku susah payah membunuhnya. Ini lebih sukar dari membunuh Ajisaka. Gofur lebih kuat memang. Terlihat ia membacakan mantera. Beberapa detik ia menunduk, komat-kamit, menyalakan rokok, lalu kembali menghidupkan motor. Kali ini  aku tidak boleh gagal. Minimal ia terjatuh dan sekarat, syukur-syukur mati. Hop! Aku kembali merasuki tubuhnya, namun terpental. Ada roh lain yang bersemayam di kepalanya. Manteranya bekerja.

“Kau tidak perlu jadi pelaku! Ini tumbalku! Aku manteranya!”

Seperti yang sudah digariskan Tuhan, Gofur mati tertabrak truk yang memuat pasir. Tubuhnya hancur, kepalanya tergilas ban truk, lalu berita duka membumbung langit.***

Moke: Minuman beralkohol
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)