Kerumunan
orang masih sibuk membicarakan Gofur. Korban tabrak lari yang digilas oleh truk
pengangkut pasir dari arah yang berlawanan. Tubuhnya sudah digeser ke sisi jalan.
Wajahnya setengah hancur, lengan kanannya patah dan sudah tidak berbentuk sempurna.
Rambutnya terkikis kasar akibat ban truk yang memaksa maju menggilas kepalanya.
Telinganya masih terus mengeluarkan darah meski sudah tidak bergerak lima menit
terakhir.
“Eee teman...
Itu orang mati,truk tabrak. Tadi sa liat truknya lari kiri-kanan kiri-kanan tida
jelas, terus dia tabrak ini Gofur ni. Gofur dari arah berlawanan sepertinya dalam
keadaan mabok juga dia. Posisi Gofur lari macam ke orang kesurupan. Akhirnya dia
masuk di kolong truk ni.”
“Tapi sopirnya
dimana sekarang om?” Tanya seorang pria.
“Tida tahu lagi.
Katanya dia langsung menyerahkan diri ke kantor polisi. Tadi om pung anak yang
kasitahu.”
Jelas orang
yang biasa dipanggil Om Markus pada beberapa orang yang berada disana. Mereka tampak
manggut-manggut mendengarkan.
Sepuluh menit
berlalu, Polisi telah datang ke lokasi kejadian, lengkap dengan deretan pertanyaan
pada beberapa saksi dan garis polisi yang melintang menutupi seperempat jalan raya
itu. Aku memilih menghindar. Menjelma udara. Selanjutnya adalah Pak Darma.
Targetku setelah kematian Ajisaka dan Gofur.
Kematian ini
akan terlihat seperti sewajarnya kematian. Kejadian bunuh diri akibat depresi oleh
Ajisaka dan tabrakan kendaraan oleh Gofur. Sewajarnya manusia meninggal dalam sebuah
tragedi. Tidak ada yang sadar kecuali diriku sendiri. Sebagaimana ketika malam hari,
Gofur mulai kuintai saat ia sedang bercinta dengan seorang perempuan dalam kamar
kosnya.
Perempuan itu
kurasuki isi kepalanya, kuarahkan ia untuk membujuk Gofur membeli moke.
Beranjaklah ia mengambil uang, membuka pintu, menyuruh anak buahnya mendapatkan
moke. Selanjutnya, aku arahkan perempuan yang kuketahui bernama Lara itu mulai mendekati
Gofur, menghembuskan nafasnya perlahan di telinga Gofur, mulai menjilati daun telinganya
perlahan. Gofur meringis menahan geli. Kembali Lara ciumi telinganya dan bergeser
perlahan menyusuri pipi dan mulai mengecup bibirnya. Gofur sudah mulai tidak sabaran.
Ia dengan lebih kasar hendak mengangkat kaus Lara perlahan. Terlihatlah baju
dalam Lara.
Kembali aku arahkan
Lara untuk tetap merayu Gofur agar tidak buru-buru melakukan nafsu bejatnya.
Aku membangkitkan Lara menuju sebuah mini
tape, memutarkan lagu PayungTeduh – Resah. Suasana menjadi lebih bersahabat.
Alunan music melakukan tugasnya dengan baik. Pintu kamar diketuk. Sebuah keresek
hitam berisi botol moke kini hadir menemani dua orang (tepatnya tiga orang)
untuk bercinta malam ini.
Gofur sudah bersungut-sungut
di tengah Kasur. Tidak sabaran menunggu dibelai lembut tangan Lara. Aku mengarahkan
Lara untuk mengambil gelas, menuangkan moke, memberikan pada Gofur dengan sedikit
taruhan yang manja “habiskan, dan adikmu aku tidurkan” bisik Lara sambil tersenyum
menggoda. Diraihlah gelas moke yang telah tertuang penuh, ditenggaknya sampai habis,
lalu dengan cepat meraih tangan Lara sambil tertidur. Lara mengusap-usap wajah Gofur
dengan jari, lembut, sesekali memasukkan jarinya pada mulut Gofur, menarik celananya
perlahan, menunjukkan belahan dada, mendekatkannya pada mulut Gofur, dua detik,
tiga detik, empat detik, hening. Gofur tidak sadarkan diri.
Aku keluar
dari kepala Lara, tapi tunggu! Ada sesuatu yang bisa aku baca dari alam
pikirannya. Lara memiliki rekam jejak yang sulit dilupakan. Masa lalunya adalah
seorang santriwati pesantren, kemudian jatuh cinta pada Gofur saat pulang ke
rumah dan enggan kembali ke pesantren. Gofur sendiri menjanjikannya kehidupan
yang layak jika mau dinikahi oleh Gofur. Namun karena sudah terlanjur cinta,
Lara memilih diam-diam berpacaran dengan Gofur tanpa diketahui orangtuanya.
Sudahlah!
Tidak penting aku melanjutkan cerita tentang Lara saat ini. Gofur sudah kembali
tersadar. Tubuhku kembali masuk dalam kepala Lara, merengek minta dibelikan
makanan setelah bercinta. Kini Gofur tidak langsung melakukannya. Ia rebahan
sebentar, seperti hendak bangun namun masih tampak linglung. Dibangunnya Gofur,
meraih kunci motor dan keluar sempoyongan. Dihidupkannya motor, berjalan menuju
jalan raya.
Senyumku
mengembang. Sudah saatnya si keparat ini menjemput ajalnya. Kepalanya kurasuki.
Awalnya agak susah karena ia masih dalam keadaan mabuk. Mendadak aku sendiri
merasa pusing. Pikirannya terlalu kacau, ada banyak kejadian yang disimpannya
sendiri. Aku mulai makin banyak tahu tentang Gofur. Emosiku makin menjadi, niat
membunuhku makin kuat. Ku menarik gas motor dengan lebih kencang. Mula-mula ia
merasa bingung, namun dengan sekuat tenaga menahan tangannya sendiri untuk
melaju. Aku gagal melakukan pembunuhan pertama.
Gofur
menggeleng. Merasakan sesuatu yang aneh, tapi tetap melanjutkan perjalanan.
Motor kembali melesat, aku kembali merasuki kepalanya, aku kencangkan lengannya
pada setir motor. Tetap meluruskan motornya pada jalur yang sudah berbelok.
Gagal. Gofur lebih dahulu mematikan mesin motornya. Ia menyadari kaku pada
tangannya sebelum terjun ke jurang. Gagal.
Kali ini aku
harus berhasil. Bagaimana tidak, hanya seorang manusia biasa seperti Gofur, aku
susah payah membunuhnya. Ini lebih sukar dari membunuh Ajisaka. Gofur lebih
kuat memang. Terlihat ia membacakan mantera. Beberapa detik ia menunduk,
komat-kamit, menyalakan rokok, lalu kembali menghidupkan motor. Kali
ini aku tidak boleh gagal. Minimal ia
terjatuh dan sekarat, syukur-syukur mati. Hop! Aku kembali merasuki tubuhnya,
namun terpental. Ada roh lain yang bersemayam di kepalanya. Manteranya bekerja.
“Kau tidak
perlu jadi pelaku! Ini tumbalku! Aku manteranya!”
Seperti yang
sudah digariskan Tuhan, Gofur mati tertabrak truk yang memuat pasir. Tubuhnya
hancur, kepalanya tergilas ban truk, lalu berita duka membumbung langit.***
Moke: Minuman beralkohol

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)