5 Feb 2019

Cinta Monyet



Kau tahu? Harapku padamu masih tetap sama sejak sebelas tahun lalu. Ya, aku sama sekali tidak keliru menghitungnya. Sejak usia kita belasan dan duduk di bangku sekolah menengah pertama, aku sudah mencintaimu. Teman-teman menyebutnya cinta monyet, tak kecuali dirimu. Kau menggodaku waktu itu. Menyebutnya sebagai alay-alay-an belaka anak usia remaja. “Nanti kamu juga lupa pernah mencintai aku” ucapmu saat itu. Aku hanya terdiam mendapati jawabanmu. Bertahan sekuat mungkin agar tidak memuai oleh panas emosi dalam dada.

Kita menghilang, lama. Kabarmu sudah tidak kudapati sejak lulus SMP. Kau memuai begitu saja bagai es batu yang ditelan musim panas; musnah. Masing-masing mencari penghidupan yang berbeda. Hingga pagi tadi, dirimu tiba-tiba muncul di beranda lini masaku, memunculkan foto seorang bayi mungil nan lucu. Hidungnya seperti hidungmu. Alis matanya juga persis milikmu. “Ah, kau telah berumah tangga sekarang.” demikian batinku. Kecewaku masih tertambat disana. Bagaimana mungkin perasaanku saat itu hanya sebagai ‘cinta monyet’ semata? Aku sudah menuai banyak pengalaman, mengenali diri pada banyak wanita, menambatkan rasa pada beberapa lawan jenis, namun rasanya tetap tidak sama. Tidak ada sensasi waktu melambat, semua makanan berasa manis, segala suasana terasa damai, kecuali sebelas tahun lalu, saat duduk bersebelahan denganmu di dalam kelas. Aku tentu saja masih mengingatnya.

Dua detik berikutnya, mataku sudah dipenuhi oleh album fotomu yang sengaja aku buka. Tampak beberapa foto wajahmu yang berubah menjadi lebih dewasa, beberapa foto bayi, dan beberapa posemu yang bersebelahan dengan seorang lelaki. Lelaki yang beruntung, bisa menjadikanmu istrinya. Aku terus berselancar dalam berandamu, lalu mendapati sebuah gambar berwarna hitam dengan tulisan ‘TAMAT’ berwarna putih. Kontras sekali diantara deretan foto kebahagiaan dan potret-potret lucu bayi.

“Yang sabar ya… Tuhan maha tahu”

“Kami yakin kamu kuat Mega… Semangat!”

“Datanglah ke rumah… Ceritakan padaku nak…”

“Tuhan kasih cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya… Semangat teman!”

“Cukup diambil hikmahnya. Semoga lekas keluar dari masalah.”

“Lelaki kayak begitu harus diracuni saja!”

“Dasar lelaki tidak tahu diuntung! Sudah syukur Mega mau dengan kau!”
 
“Mega, minta nomor hp kamu.”

dan deretan komentar lain yang bernada hampir sama memenuhi dinding foto yang diunggah 22 Desember itu.

Sejujurnya aku senang melihat dirimu berpisah. Kesempatanku untuk melamarmu terbuka lebar. Tapi aku lebih tidak sanggup membayangkan dirimu dirundung badai masalah seorang diri, mengurus dan membiayai kehidupan putrimu sendiri, ditambah lagi, kau sudah tidak tinggal bersama orangtua. Jalan yang kau tempuh cukup berat, memang.

Sudahlah. Aku akan melamarmu. Alasanku cukup logis; Satu, aku mencintaimu. Dua, aku siap membiayai kehidupanmu dengan lebih layak. Ini bisa jadi ibadah buatku, dan masa depan anakmu bisa lebih terang di depan sana. Ya, aku akan melamarmu.

Kembali aku menjelajahi foto-fotomu yang lain, berhenti kembali pada sebuah foto bayi yang lebih merah. Sepertinya ia baru tiba dari alam rahim. Beberapa komentar pertama tampak mengucapkan selamat. Memuji si bayi dengan paras yang tidak kalah jelita dibanding ibunya. Makin jauh, komentarnya berubah bernada miring.

“Itu anak siapa?”

“Bukannnya kamu sudah janda, Mega?”

“Perempuan murahan!”

“Anak haram lagi…”

“Kok makin gampangan ya?”

“Ayahnya mana??”

“Tuhan, jangan sampai negeri ini mendapat azab…”

“Kiamat makin dekat!”

“Kenapa anaknya mirip monyet?”

Aku hampir muntah membaca komentar-komentar itu. Kepalaku terasa berat seketika. Terbayang banyak cacian yang akan siap menerpaku. Sejurus dengan perilaku manusia hari ini. Makin tidak memikirkan perasaan orang lain. Jariku semakin berat menggenggam ponsel, mataku mendadak berkunang-kunang, telingaku berdesing suara-suara makian yang memenuhi gendang telinga. Aku tak sadarkan diri.

Aku terjaga saat tengah malam. Badanku terasa pegal. Kaki ku terkulai lemas. Bajuku masih lembap mendinginkan badan. Aku mengeluarkan banyak peluh. Teringat dirimu yang masih mengambang di lini masa siang tadi. Dengan sigap aku meraih ponsel, membuka kembali berandamu, berharap komentar-komentar tadi hanyalah mimpi semata. Dua detik berlalu, ponselku berdering. Nomor tidak dikenal tertulis di layarnya. Lima detik berlalu, aku masih berat untuk mengangkatnya. Aku belum sepenuhnya sadar. Aku abaikan deringan kedua, berusaha menenangkan diri, mengumpulkan nyawa yang belum utuh. Lima belas detik berikutnya, sebuah pesan singkat masuk;

“Selamat malam. Terima kasih telah menjelajahi berandaku siang tadi. Anak yang mirip monyet adalah anakmu. Aku tahu kamu kaget dengan keadaan saat ini. Tidak akan bisa dipercaya. Tapi saat aku melahirkan, aku membayangkan wajahmu. Aku tahu kamu makin kebingungan. Untuk itu, lebih baik kita bertemu, bercinta, dan memiliki banyak keturunan, cinta monyetku. Dari yang mecintaimu, Mega.”***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)