Kau tahu?
Harapku padamu masih tetap sama sejak sebelas tahun lalu. Ya, aku sama sekali
tidak keliru menghitungnya. Sejak usia kita belasan dan duduk di bangku sekolah
menengah pertama, aku sudah mencintaimu. Teman-teman menyebutnya cinta monyet,
tak kecuali dirimu. Kau menggodaku waktu itu. Menyebutnya sebagai alay-alay-an
belaka anak usia remaja. “Nanti kamu juga lupa pernah mencintai aku” ucapmu
saat itu. Aku hanya terdiam mendapati jawabanmu. Bertahan sekuat mungkin agar
tidak memuai oleh panas emosi dalam dada.
Kita
menghilang, lama. Kabarmu sudah tidak kudapati sejak lulus SMP. Kau memuai
begitu saja bagai es batu yang ditelan musim panas; musnah. Masing-masing
mencari penghidupan yang berbeda. Hingga pagi tadi, dirimu tiba-tiba muncul di
beranda lini masaku, memunculkan foto seorang bayi mungil nan lucu. Hidungnya seperti
hidungmu. Alis matanya juga persis milikmu. “Ah, kau telah berumah tangga
sekarang.” demikian batinku. Kecewaku masih tertambat disana. Bagaimana mungkin
perasaanku saat itu hanya sebagai ‘cinta monyet’ semata? Aku sudah menuai
banyak pengalaman, mengenali diri pada banyak wanita, menambatkan rasa pada
beberapa lawan jenis, namun rasanya tetap tidak sama. Tidak ada sensasi waktu
melambat, semua makanan berasa manis, segala suasana terasa damai, kecuali
sebelas tahun lalu, saat duduk bersebelahan denganmu di dalam kelas. Aku tentu
saja masih mengingatnya.
Dua detik berikutnya,
mataku sudah dipenuhi oleh album fotomu yang sengaja aku buka. Tampak beberapa
foto wajahmu yang berubah menjadi lebih dewasa, beberapa foto bayi, dan
beberapa posemu yang bersebelahan dengan seorang lelaki. Lelaki yang beruntung,
bisa menjadikanmu istrinya. Aku terus berselancar dalam berandamu, lalu
mendapati sebuah gambar berwarna hitam dengan tulisan ‘TAMAT’ berwarna putih.
Kontras sekali diantara deretan foto kebahagiaan dan potret-potret lucu bayi.
“Yang sabar
ya… Tuhan maha tahu”
“Kami yakin
kamu kuat Mega… Semangat!”
“Datanglah
ke rumah… Ceritakan padaku nak…”
“Tuhan kasih
cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya… Semangat teman!”
“Cukup
diambil hikmahnya. Semoga lekas keluar dari masalah.”
“Lelaki
kayak begitu harus diracuni saja!”
“Dasar
lelaki tidak tahu diuntung! Sudah syukur Mega mau dengan kau!”
“Mega, minta
nomor hp kamu.”
dan deretan
komentar lain yang bernada hampir sama memenuhi dinding foto yang diunggah 22
Desember itu.
Sejujurnya
aku senang melihat dirimu berpisah. Kesempatanku untuk melamarmu terbuka lebar.
Tapi aku lebih tidak sanggup membayangkan dirimu dirundung badai masalah
seorang diri, mengurus dan membiayai kehidupan putrimu sendiri, ditambah lagi,
kau sudah tidak tinggal bersama orangtua. Jalan yang kau tempuh cukup berat,
memang.
Sudahlah.
Aku akan melamarmu. Alasanku cukup logis; Satu, aku mencintaimu. Dua, aku siap
membiayai kehidupanmu dengan lebih layak. Ini bisa jadi ibadah buatku, dan masa
depan anakmu bisa lebih terang di depan sana. Ya, aku akan melamarmu.
Kembali aku
menjelajahi foto-fotomu yang lain, berhenti kembali pada sebuah foto bayi yang
lebih merah. Sepertinya ia baru tiba dari alam rahim. Beberapa komentar pertama
tampak mengucapkan selamat. Memuji si bayi dengan paras yang tidak kalah jelita
dibanding ibunya. Makin jauh, komentarnya berubah bernada miring.
“Itu anak
siapa?”
“Bukannnya
kamu sudah janda, Mega?”
“Perempuan
murahan!”
“Anak haram
lagi…”
“Kok makin
gampangan ya?”
“Ayahnya
mana??”
“Tuhan,
jangan sampai negeri ini mendapat azab…”
“Kiamat
makin dekat!”
“Kenapa
anaknya mirip monyet?”
Aku hampir
muntah membaca komentar-komentar itu. Kepalaku terasa berat seketika. Terbayang
banyak cacian yang akan siap menerpaku. Sejurus dengan perilaku manusia hari
ini. Makin tidak memikirkan perasaan orang lain. Jariku semakin berat
menggenggam ponsel, mataku mendadak berkunang-kunang, telingaku berdesing
suara-suara makian yang memenuhi gendang telinga. Aku tak sadarkan diri.
Aku terjaga
saat tengah malam. Badanku terasa pegal. Kaki ku terkulai lemas. Bajuku masih
lembap mendinginkan badan. Aku mengeluarkan banyak peluh. Teringat dirimu yang
masih mengambang di lini masa siang tadi. Dengan sigap aku meraih ponsel,
membuka kembali berandamu, berharap komentar-komentar tadi hanyalah mimpi
semata. Dua detik berlalu, ponselku berdering. Nomor tidak dikenal tertulis di
layarnya. Lima detik berlalu, aku masih berat untuk mengangkatnya. Aku belum
sepenuhnya sadar. Aku abaikan deringan kedua, berusaha menenangkan diri, mengumpulkan
nyawa yang belum utuh. Lima belas detik berikutnya, sebuah pesan singkat masuk;
“Selamat
malam. Terima kasih telah menjelajahi berandaku siang tadi. Anak yang mirip
monyet adalah anakmu. Aku tahu kamu kaget dengan keadaan saat ini. Tidak akan
bisa dipercaya. Tapi saat aku melahirkan, aku membayangkan wajahmu. Aku tahu
kamu makin kebingungan. Untuk itu, lebih baik kita bertemu, bercinta, dan
memiliki banyak keturunan, cinta monyetku. Dari yang mecintaimu, Mega.”***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)