Pemuda yang diketahui bernama Jafar itu duduk membisu di
sebuah kursi taman yang mengahadap ke laut. Gemuruh ombak dalam temaram lampu
yang samar-samar menemaninya. Jalan kecil taman yang lengang juga turut membisu
menyaksikannya. Deretan lampu hias yang digantung pada tiang-tiang yang
berjajar juga tampak murung, seakan tahu suasana hati Jafar saat itu. Tatapan
matanya nanar. Baginya, orang-orang hanya mengartikan kehidupan sebagai upaya
pengejaran materi sungguh-sungguh. Saling menjatuhkan agar meraih untung lebih
melambung, saling menyisikan agar berkuasa makin kencang, dan saling
memundurkan agar berada di posisi paling maju.
Sebagai seorang juru masak di salah satu rumah makan
sederhana, Jafar merasa telah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta
orangtua dari upah yang didapat perbulan. Upah yang lumayan itu juga sudah ada
sisa untuk ditabung sebelum pulang dari tanah rantauan. Bekerja hampir delapan
belas jam setiap hari merupakan keputusan yang telah diambilnya beberapa tahun
lalu dengan majikannya. Niatnya agar lebih cepat pulang ke desa, punya biaya
yang cukup untuk membangun usaha kecil-kecilan disana, lalu meminang ala
kadarnya kepada calon istri.
Kerap Jafar menahan selera untuk membeli barang-barang
bermerek seperti teman-teman seprofesinya, duduk nongkrong-nongkrong hanya untuk
melepas penat pun juga jarang ia lakukan. Sekalipun ditraktir teman-temannya,
biasanya ia berdalih bahwa badannya pegal, atau mungkin sedang masuk angin,
atau matanya sudah kelelahan dan ingin tidur saja, atau apapun agar ia tidak
sering-sering mengeluarkan uang yang sedang ia tabung. Karena sebaik-baiknya
traktir, tetap aka nada uang yang dikeluarkan dan biasanya berlaku hutang budi.
“Lebih cepat, lebih baik. Mbok ya tidak ada salahnya aku
segera ingin menikah.” Ujarnya dalam hati.
Terbayang wajah indah Andini yang berpendar indah pada bulan
purnama. Tersenyum malu-malu melemparkan pandangan sekejap lalu menunduk. Wajah
anggunnya memerah. Ada aura yang menyucikan dari pancaran sinar wajahnya.
Rambut yang terurai indah juga ragu-ragu diuraikan olehnya, menambah kesan
kecantikan yang bisa membuat degup jantung pria manapun terpacu lebih kencang.
Jika saja cerita tentang bidadari yang tersesat di bumi itu benar, maka Jafar
yakin sekali bahwa Andini lah orangnya. Perempuan itu hanya menunggu kekasihnya
di desa. Dengan beberapa kali saling membalas surar, kini mereka mantap saling
memperbaiki diri agar lebih matang menuju pelaminan kelak.
Kabar tentang penerimaan Pegawai Sipil oleh pemerintah telah
tersiar. Jutaan pemilik ijazah berlomba-lomba menjadi manusia terbaik untuk
mendapatkan kesempatan ini. Berbagai trik untuk lulus PNS telah disulap menjadi
buku-buku yang berjejer di rak toko buku, berapapun harganya, asal bisa
menjamin kelulusan dalam ujian ini, akan dibeli. Tidak cukup oleh cetakan buku,
ratusan situs yang bertengger di dunia maya juga turut serta memberitakan
perkembangan sayembara paling dinanti-nanti ini berikut dengan tips dan trik
terbaru untuk diterima oleh pemerintah, atau menjamin meraih posisi tertinggi
dengan nilai menakjubkan. Tempat-tempat bimbingan belajar juga turut menjadi
pemain dalam suasana ini.
Beberapa poster dipasang
di pusat-pusat kota atau pusat keramaian tentang latihan kilat untuk
lulus ujian PNS itu. Topik-topik pembicaraan kini semakin riuh dengan kesibukan
mengurus persayaratan, langkah-langkah yang lebih mudah menyelesaikan perkara
administrasi, atau apa saja yang bisa membuat mereka dijamin kelulusannya.
Bahkan, dari dunia perdukunan juga mendapat tempat. Rumah-rumah orang pintar
juga mendadak dipenuhi pasien yang meminta ‘alat pelicin’ atau ‘mantera
pelancar’ yang ditukar dengan biaya yang tidak sedikit.
Suasana itu menghebohkan banyak orang, menjadi obrolan paling
penting dimanapun berada. Rumah sakit, pasar, toko obat, toko sembako,
pabrik-pabrik, rumah makan, rumah ibadah, warung-warung, kedai-kedai kopi, atau
dimana saja. Jika ada dua orang atau lebih sudah duduk bersama selama tiga
puluh menit, maka sudah bisa dipastikan bahwa tema suci PNS telah diangkatnya
tinggi-tinggi sebagai puncak perkumpulan itu.
Tidak terkecuali rumah makan sederhana yang tengah ditengarai
oleh Jafar. Para pembeli dan beberapa teman seprofesinya juga membicarakan hal
yang sama. Sesekali mereka mengelus dada, menyesali keengganan mereka
bersekolah sewaktu remaja. Beberapa mendoakan kerabat atau keluarga mereka yang
tengah berjuang lulus ujian, beberapa yang lain memilih diam. Entah bosan,
entah enggan.
“Memangnya kalau sudah jadi PNS, hebatnya apa?” Tanya Jafar
ragu.
“Hus!! Kau tidak tahu? Kalau jadi PNS, kau tidak perlu kerja
capek-capek. Cukup isi buku absen, kerja separuh waktu, asal tidak ketahuan
kepala kantor, kau bisa pulang ke rumah. Tiap bulan menerima gaji. Belum lagi
sekarang, banyak insentif yang diterima.”
“Berarti mereka makan uang haram? Makan gaji buta?”
“Bukan begitu Jafar… Mereka bekerja, namun tidak terlalu
capek seperti kita, dan gajinya lebih besar. Apalagi, jaminan hari tuanya sudah
ada. Ah, andaikan aku jadi PNS. Ayahku pasti bangga. Meskipun hanya sebagai
pencuci karpet kantor, atau pembersih sepatu para pegawai, tidak apa. Asal aku
berseragam seperti mereka.”
“Memangnya sehebat apa mereka?”
Jafar tampaknya masih kurang mengerti perihal PNS ini. Toh,
baginya, bekerja adalah bekerja. Selama ia mampu, maka akan menghasilkan.
Selama ia mau, maka pasti ada jalan.
“Apa bedanya dengan yang bukan PNS?”
“Intinya, di kampung kita, PNS adalah posisi kerja terbaik
setelah kepala desa. Seorang istri, bisa saja berpindah tangan dan mau dimadu,
asal suaminya PNS.”
“Hah? Semudah itu?” Jafar keheranan.
“Bahkan bisa lebih mudah lagi jika seorang istri tidak tahan
banting.”
***
Beberapa bulan kemudian, pagi-pagi sekali, Jafar mendapati
sebuah surat tergeletak di sisi ranjangnya. Tampak surat itu dari Andini dengan
motif bunga di tiap sisi amplopnya, juga dibaluti dengan pita berwarna biru
muda. Cantik sekali. Dengan semangat, dibukanya dengan sigap surat itu;
“Assalamu’alaikum
kakanda. Adinda harap, kakanda baik-baik disana. Kakanda, isi surat ini tidak
panjang. Adinda ingin menyampaikan jutaan permintaan maaf, bahwa adinda esok
pagi sudah akan melakukan pernikahan dengan Pak Marsito.
Ya, adinda
dijadikan istri kedua. Namun ibu lebih setuju dengannya karena beliau telah
diangkat menjadi PNS. Adinda tidak mampu melawan, dan jujur saja. Pak Marsito
memiliki banyak harta nantinya. Adinda ingin kehidupan yang lebih layak sebagai
perempuan desa.
Terima
kasih, dan adinda harap, kakanda mendapatkan jodoh secepatnya.
Andini.”
Apa rasanya gulali? Bagaimana warna pelangi? Semanis apa es teh
manis? Sekecut apa rasa jeruk nipis?
Dada Jafar membuncah, menggugurkan cerita indah di pagi yang
kelam. Tidak ada yang lebih hebat dari melawan takdir dan garis tangan Tuhan.
Tidak ada yang lebih kuat menampung amarah, kecuali airmata yang harus
berguguran mengarungi taman pipi. Tidak ada kabar tentang Jafar setelah kiriman
surat itu. Ia juga absen di warung makan sederhana.
Dua bulan setelahnya, orang-orang selalu menyaksikannya melakukan
hal yang sama. Pemuda yang diketahui bernama Jafar itu duduk membisu di sebuah
kursi taman yang mengahadap ke laut.
Gemuruh ombak dalam temaram lampu yang
samar-samar menemaninya. Jalan kecil taman yang lengang juga turut membisu
menyaksikannya. Deretan lampu hias yang digantung pada tiang-tiang yang
berjajar juga tampak murung, seakan tahu suasana hati Jafar saat itu. Tatapan
matanya nanar.
Selalu seperti itu, setiap malam.

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)