6 Feb 2019

Elegi Materi


Pemuda yang diketahui bernama Jafar itu duduk membisu di sebuah kursi taman yang mengahadap ke laut. Gemuruh ombak dalam temaram lampu yang samar-samar menemaninya. Jalan kecil taman yang lengang juga turut membisu menyaksikannya. Deretan lampu hias yang digantung pada tiang-tiang yang berjajar juga tampak murung, seakan tahu suasana hati Jafar saat itu. Tatapan matanya nanar. Baginya, orang-orang hanya mengartikan kehidupan sebagai upaya pengejaran materi sungguh-sungguh. Saling menjatuhkan agar meraih untung lebih melambung, saling menyisikan agar berkuasa makin kencang, dan saling memundurkan agar berada di posisi paling maju.

Sebagai seorang juru masak di salah satu rumah makan sederhana, Jafar merasa telah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta orangtua dari upah yang didapat perbulan. Upah yang lumayan itu juga sudah ada sisa untuk ditabung sebelum pulang dari tanah rantauan. Bekerja hampir delapan belas jam setiap hari merupakan keputusan yang telah diambilnya beberapa tahun lalu dengan majikannya. Niatnya agar lebih cepat pulang ke desa, punya biaya yang cukup untuk membangun usaha kecil-kecilan disana, lalu meminang ala kadarnya kepada calon istri.

Kerap Jafar menahan selera untuk membeli barang-barang bermerek seperti teman-teman seprofesinya, duduk nongkrong-nongkrong hanya untuk melepas penat pun juga jarang ia lakukan. Sekalipun ditraktir teman-temannya, biasanya ia berdalih bahwa badannya pegal, atau mungkin sedang masuk angin, atau matanya sudah kelelahan dan ingin tidur saja, atau apapun agar ia tidak sering-sering mengeluarkan uang yang sedang ia tabung. Karena sebaik-baiknya traktir, tetap aka nada uang yang dikeluarkan dan biasanya berlaku hutang budi. 

“Lebih cepat, lebih baik. Mbok ya tidak ada salahnya aku segera ingin menikah.” Ujarnya dalam hati.

Terbayang wajah indah Andini yang berpendar indah pada bulan purnama. Tersenyum malu-malu melemparkan pandangan sekejap lalu menunduk. Wajah anggunnya memerah. Ada aura yang menyucikan dari pancaran sinar wajahnya. Rambut yang terurai indah juga ragu-ragu diuraikan olehnya, menambah kesan kecantikan yang bisa membuat degup jantung pria manapun terpacu lebih kencang. Jika saja cerita tentang bidadari yang tersesat di bumi itu benar, maka Jafar yakin sekali bahwa Andini lah orangnya. Perempuan itu hanya menunggu kekasihnya di desa. Dengan beberapa kali saling membalas surar, kini mereka mantap saling memperbaiki diri agar lebih matang menuju pelaminan kelak.

Kabar tentang penerimaan Pegawai Sipil oleh pemerintah telah tersiar. Jutaan pemilik ijazah berlomba-lomba menjadi manusia terbaik untuk mendapatkan kesempatan ini. Berbagai trik untuk lulus PNS telah disulap menjadi buku-buku yang berjejer di rak toko buku, berapapun harganya, asal bisa menjamin kelulusan dalam ujian ini, akan dibeli. Tidak cukup oleh cetakan buku, ratusan situs yang bertengger di dunia maya juga turut serta memberitakan perkembangan sayembara paling dinanti-nanti ini berikut dengan tips dan trik terbaru untuk diterima oleh pemerintah, atau menjamin meraih posisi tertinggi dengan nilai menakjubkan. Tempat-tempat bimbingan belajar juga turut menjadi pemain dalam suasana ini.

Beberapa poster dipasang di pusat-pusat kota atau pusat keramaian tentang latihan kilat untuk lulus ujian PNS itu. Topik-topik pembicaraan kini semakin riuh dengan kesibukan mengurus persayaratan, langkah-langkah yang lebih mudah menyelesaikan perkara administrasi, atau apa saja yang bisa membuat mereka dijamin kelulusannya. Bahkan, dari dunia perdukunan juga mendapat tempat. Rumah-rumah orang pintar juga mendadak dipenuhi pasien yang meminta ‘alat pelicin’ atau ‘mantera pelancar’ yang ditukar dengan biaya yang tidak sedikit.

Suasana itu menghebohkan banyak orang, menjadi obrolan paling penting dimanapun berada. Rumah sakit, pasar, toko obat, toko sembako, pabrik-pabrik, rumah makan, rumah ibadah, warung-warung, kedai-kedai kopi, atau dimana saja. Jika ada dua orang atau lebih sudah duduk bersama selama tiga puluh menit, maka sudah bisa dipastikan bahwa tema suci PNS telah diangkatnya tinggi-tinggi sebagai puncak perkumpulan itu.

Tidak terkecuali rumah makan sederhana yang tengah ditengarai oleh Jafar. Para pembeli dan beberapa teman seprofesinya juga membicarakan hal yang sama. Sesekali mereka mengelus dada, menyesali keengganan mereka bersekolah sewaktu remaja. Beberapa mendoakan kerabat atau keluarga mereka yang tengah berjuang lulus ujian, beberapa yang lain memilih diam. Entah bosan, entah enggan.

“Memangnya kalau sudah jadi PNS, hebatnya apa?” Tanya Jafar ragu.

“Hus!! Kau tidak tahu? Kalau jadi PNS, kau tidak perlu kerja capek-capek. Cukup isi buku absen, kerja separuh waktu, asal tidak ketahuan kepala kantor, kau bisa pulang ke rumah. Tiap bulan menerima gaji. Belum lagi sekarang, banyak insentif yang diterima.”

“Berarti mereka makan uang haram? Makan gaji buta?”

“Bukan begitu Jafar… Mereka bekerja, namun tidak terlalu capek seperti kita, dan gajinya lebih besar. Apalagi, jaminan hari tuanya sudah ada. Ah, andaikan aku jadi PNS. Ayahku pasti bangga. Meskipun hanya sebagai pencuci karpet kantor, atau pembersih sepatu para pegawai, tidak apa. Asal aku berseragam seperti mereka.”

“Memangnya sehebat apa mereka?” 

Jafar tampaknya masih kurang mengerti perihal PNS ini. Toh, baginya, bekerja adalah bekerja. Selama ia mampu, maka akan menghasilkan. Selama ia mau, maka pasti ada jalan.

“Apa bedanya dengan yang bukan PNS?”

“Intinya, di kampung kita, PNS adalah posisi kerja terbaik setelah kepala desa. Seorang istri, bisa saja berpindah tangan dan mau dimadu, asal suaminya PNS.”

“Hah? Semudah itu?” Jafar keheranan.

“Bahkan bisa lebih mudah lagi jika seorang istri tidak tahan banting.”
***

Beberapa bulan kemudian, pagi-pagi sekali, Jafar mendapati sebuah surat tergeletak di sisi ranjangnya. Tampak surat itu dari Andini dengan motif bunga di tiap sisi amplopnya, juga dibaluti dengan pita berwarna biru muda. Cantik sekali. Dengan semangat, dibukanya dengan sigap surat itu; 

“Assalamu’alaikum kakanda. Adinda harap, kakanda baik-baik disana. Kakanda, isi surat ini tidak panjang. Adinda ingin menyampaikan jutaan permintaan maaf, bahwa adinda esok pagi sudah akan melakukan pernikahan dengan Pak Marsito.

Ya, adinda dijadikan istri kedua. Namun ibu lebih setuju dengannya karena beliau telah diangkat menjadi PNS. Adinda tidak mampu melawan, dan jujur saja. Pak Marsito memiliki banyak harta nantinya. Adinda ingin kehidupan yang lebih layak sebagai perempuan desa.

Terima kasih, dan adinda harap, kakanda mendapatkan jodoh secepatnya.

Andini.”

Apa rasanya gulali? Bagaimana warna pelangi? Semanis apa es teh manis? Sekecut apa rasa jeruk nipis?

Dada Jafar membuncah, menggugurkan cerita indah di pagi yang kelam. Tidak ada yang lebih hebat dari melawan takdir dan garis tangan Tuhan. Tidak ada yang lebih kuat menampung amarah, kecuali airmata yang harus berguguran mengarungi taman pipi. Tidak ada kabar tentang Jafar setelah kiriman surat itu. Ia juga absen di warung makan sederhana.

Dua bulan setelahnya, orang-orang selalu menyaksikannya melakukan hal yang sama. Pemuda yang diketahui bernama Jafar itu duduk membisu di sebuah kursi taman yang mengahadap ke laut. 

Gemuruh ombak dalam temaram lampu yang samar-samar menemaninya. Jalan kecil taman yang lengang juga turut membisu menyaksikannya. Deretan lampu hias yang digantung pada tiang-tiang yang berjajar juga tampak murung, seakan tahu suasana hati Jafar saat itu. Tatapan matanya nanar.

Selalu seperti itu, setiap malam.

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)