Lagi-lagi kejadian itu menambah sukma dalam dada. Bagaimana tidak
ketika sedang fokus-fokusnya mengedit sebuah tulisan, pesan dari WhatsApp masuk
tanpa permisi menampilkan gambar sebuah undangan pernikahan. Saya gelagapan melihatnya. Jeda beberapa
menit, sebuah pesan singkat masuk . “Di tunggu yah…” dengan simbol senyum penuh
kemenangan. Saya bersyukur dan sedikit naik darah. Mungkin yang pernah membaca “Dua
Bulan Sudah” akan paham dengan alasan ini.
Saya bersyukur karena dengan belum
adanya ikatan yang suci untuk saat ini, saya masih punya kesempatan meraih
segala bentuk cita-cita tanpa alasan nafkah istri, anak, popok bayi, jajan
mertua atau segudang kebutuhan keluarga lainnya. Saya juga naik darah karena
beberapa bulan sebelum ini, pernah ada ucapan serba serius antara kami perkara
rumah tangga dan masa tua yang gemilang. Ah, naif!
Persandingan dua nama dalam selembar kertas cetak yang
diperbagus sedemikian rupa ternyata tidak membuat nyali saya ciut. Tidak sama
sekali. Perkara takdir dan usaha sebagai manusia tidak akan pernah terputus
hingga ajal menjemput. Tidak semudah pula ibarat membalikkan telapak tangan. Kita
terjatuh, bangkit, jatuh lagi dan begitu seterusnya. Lelahkah? Pasti. Menyerah?
Tidak sama sekali.
Beberapa hari sebelumnya juga grup WhatsApp teman-teman
kelas saya juga ramai memperbincangkan nama saya. Undangan pernikahan dengan ornamen,
warna dan nama mempelai nikah yang berbeda. Sebegitu keren kah saya? Hingga
dua perempuan yang pernah menautkan hatinya pada saya seakan-akan melakukan
konspirasi dan rencana bawah tanah untuk menjatuhkan saya (sebut saja begitu). Jeda hari pernikahan antara keduanya hanya
berselang dua hari. DUA HARI! Satunya tanggal 10 September, dan lainnya tanggal
12 September. #SAVEAZIZ
Hal ini pula mengingatkan saya pada kejadian 16 tahun silam
ketika gedung pencakar langit WTC diledakkan tanggal 11 September 2001 silam di
Amerika Serikat. Apakah saya harus melakukan hal yang sama? Meledakkan rumah
orang yang baru dirundung bahagia dan menggagalkan pernikahan orang yang akan
dibuai rasa cinta yang mendalam? Hahaha gawat. Tidak akan!
Tidak mungkin. Saya tidak se-brutal itu. Cukuplah saya mengaminkan
apa yang saya harapkan bahwa semoga mereka yang akan melanjutkan diri ke pelaminan
tetap ingat bahwa ada sosok pria yang sedang sok tegar menahan rasa kecewa
sekaligus malu yang mendalam. Cieeee…. Yang ngejagain jodoh orang.
Tenanglah. Saya tidak akan datang ke pernikahan mereka. Tapi
doa saya akan selalu mengiringi menuju muara kebahagiaan yang tak terkira. Saya
juga baru sadar ketika kemarin pagi berbincang dengan seorang pria setengah
baya. “Dik, nikah itu bukan hanya masalah mampu dan belum. Siap dan tidak. Matang
dan belum. Tapi lebih dari itu, jadilah orang yang memiliki jati diri. Tidak perlu
berpura-pura mampu atau bisa.”
Saya paham bahwa tidak semua orang akan setuju dengan hal
ini. Tidak semua orang se-irama dalam pola pikir. Menurut saya pribadi, menikah
bukan hanya soal berkembang-biak dan punya penerus. Lebih dari itu, kamu harus
punya pasangan!
Entahlah. Saya tetap akan melanjutkan perjalanan. Berkelana,
menyusuri banyak tempat, meluapkan rasa penat, menumpahkan banyak karya dan
mati dalam pelukan ibunda tercinta.
Selamat berbahagia penghuni hati yang telah beranjak pergi. Jadilah
permaisuri hati bagi suami dan buah hati. Jangan sampai merana dan berujung
kesudahan dalam sebuah ikatan. Saya, kamu, dan suamimu nanti adalah satu ikatan
cerita yang terbungkus perasaan.
O iya, besok lusa jika berpapasan meskipun secara tidak
sengaja, sapalah saya. Kita masih berteman. Kita masih saudara. Jika ada yang perlu dibantu, ceritakanlah. Siapa
tahu nanti saya berkesempatan meminangmu lagi.
(Bercanda)

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)