5 Sept 2017

Enam Hari Menuju Pelampiasan


Lagi-lagi kejadian itu menambah sukma dalam dada. Bagaimana tidak ketika sedang fokus-fokusnya mengedit sebuah tulisan, pesan dari WhatsApp masuk tanpa permisi menampilkan gambar sebuah undangan pernikahan.  Saya gelagapan melihatnya. Jeda beberapa menit, sebuah pesan singkat masuk . “Di tunggu yah…” dengan simbol senyum penuh kemenangan. Saya bersyukur dan sedikit naik darah. Mungkin yang pernah membaca “Dua Bulan Sudah” akan paham dengan alasan ini.

Saya bersyukur karena dengan belum adanya ikatan yang suci untuk saat ini, saya masih punya kesempatan meraih segala bentuk cita-cita tanpa alasan nafkah istri, anak, popok bayi, jajan mertua atau segudang kebutuhan keluarga lainnya. Saya juga naik darah karena beberapa bulan sebelum ini, pernah ada ucapan serba serius antara kami perkara rumah tangga dan masa tua yang gemilang. Ah, naif!

Persandingan dua nama dalam selembar kertas cetak yang diperbagus sedemikian rupa ternyata tidak membuat nyali saya ciut. Tidak sama sekali. Perkara takdir dan usaha sebagai manusia tidak akan pernah terputus hingga ajal menjemput. Tidak semudah pula ibarat membalikkan telapak tangan. Kita terjatuh, bangkit, jatuh lagi dan begitu seterusnya. Lelahkah? Pasti. Menyerah? Tidak sama sekali.

Beberapa hari sebelumnya juga grup WhatsApp teman-teman kelas saya juga ramai memperbincangkan nama saya. Undangan pernikahan dengan ornamen, warna dan nama mempelai nikah yang berbeda. Sebegitu keren kah saya? Hingga dua perempuan yang pernah menautkan hatinya pada saya seakan-akan melakukan konspirasi dan rencana bawah tanah untuk menjatuhkan saya (sebut saja begitu).  Jeda hari pernikahan antara keduanya hanya berselang dua hari. DUA HARI! Satunya tanggal 10 September, dan lainnya tanggal 12 September. #SAVEAZIZ

Hal ini pula mengingatkan saya pada kejadian 16 tahun silam ketika gedung pencakar langit WTC diledakkan tanggal 11 September 2001 silam di Amerika Serikat. Apakah saya harus melakukan hal yang sama? Meledakkan rumah orang yang baru dirundung bahagia dan menggagalkan pernikahan orang yang akan dibuai rasa cinta yang mendalam? Hahaha gawat. Tidak akan!

Tidak mungkin. Saya tidak se-brutal itu. Cukuplah saya mengaminkan apa yang saya harapkan bahwa semoga mereka yang akan melanjutkan diri ke pelaminan tetap ingat bahwa ada sosok pria yang sedang sok tegar menahan rasa kecewa sekaligus malu yang mendalam. Cieeee…. Yang ngejagain jodoh orang.

Tenanglah. Saya tidak akan datang ke pernikahan mereka. Tapi doa saya akan selalu mengiringi menuju muara kebahagiaan yang tak terkira. Saya juga baru sadar ketika kemarin pagi berbincang dengan seorang pria setengah baya. “Dik, nikah itu bukan hanya masalah mampu dan belum. Siap dan tidak. Matang dan belum. Tapi lebih dari itu, jadilah orang yang memiliki jati diri. Tidak perlu berpura-pura mampu atau bisa.”

Saya paham bahwa tidak semua orang akan setuju dengan hal ini. Tidak semua orang se-irama dalam pola pikir. Menurut saya pribadi, menikah bukan hanya soal berkembang-biak dan punya penerus. Lebih dari itu, kamu harus punya pasangan!

Entahlah. Saya tetap akan melanjutkan perjalanan. Berkelana, menyusuri banyak tempat, meluapkan rasa penat, menumpahkan banyak karya dan mati dalam pelukan ibunda tercinta.

Selamat berbahagia penghuni hati yang telah beranjak pergi. Jadilah permaisuri hati bagi suami dan buah hati. Jangan sampai merana dan berujung kesudahan dalam sebuah ikatan. Saya, kamu, dan suamimu nanti adalah satu ikatan cerita yang terbungkus perasaan.

O iya, besok lusa jika berpapasan meskipun secara tidak sengaja, sapalah saya. Kita masih berteman. Kita masih saudara.  Jika ada yang perlu dibantu, ceritakanlah. Siapa tahu nanti saya berkesempatan meminangmu lagi.

(Bercanda)
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)