28 Aug 2017

Che Guevara Sang Revolusioner: Kisah Pengidap Asma Yang "Gila"

Che Guevara terlahir sebagai anak Argentina, namun rela berjuang dan mengorbankan seluruh hidupnya dalam perjuangan di beberapa Negara bagian Amerika Latin hingga sisa hidupnya. Che adalah manusia yang mengabdi pada kemanusiaan sehingga suara perih kaum tertindas selalu meraung-raung dan memanggil hatinya untuk bertindak, di manapun penindasan itu berada.

Di Kuba, Che layaknya seorang Santo. Ia dipuja dan dipuji berkat komitmen dan perjuangan yang tak kenal pamrih, nyali dan sikap lugasnya yang tak dibuat-buat, dan kebijakan-kebijakan revolusionernya yang memberi angin kebebasan bagi kaum tertindas.

***

Dari penggalan sinopsis yang dipaparkan Robert Junaidi sebagai penulis buku “Che Guevara Sang Revolusioner” menggambarkan cukup jelas bagaimana seorang Che Guevara yang lahir di Argentina dan berideologi Marxis memiliki peran yang sangat penting dalam penumpasan beberapa rezim yang terjadi di negara-negara di Amerika Latin. Che yang semasa kecilnya mengidap penyakit asma bukanlah sosok yang manja. Ia selalu menjadi buah bibir di masa sekolahnya oleh ketertarikannya pada beberapa disiplin ilmu yang kemudian membawanya sebagai seorang siswa yang menonjol dalam kelas. Di luar kelas, Che kecil hidup tidak pernah memilah dan memilih temannya. Dari para petani hingga anak tukang jahit sekalipun dikawani semasa kecilnya.

Sebagai orangtua yang benar-benar menyayangi anaknya, Ernesto (ayah Che) dan Celia de Ia Serna (ibunda Che) selalu memberikan ruang dan kesempatan pada anak mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai keinginannya. Hal itu pula yang mendukung Che untuk diizinkan keliling Argentina. Berawal darisana pula, Che terpanggil untuk membela kaum tertindas ketika melihat banyak petani yang dieksploitasi secara berlebihan oleh majikannya.

Sebagai pelajar yang masih terhitung muda, Che sudah berani melawan rezim pemerintahan yang menindas rakyatnya seakan-akan ia dilahirkan sebagai “nabi” bagi kaum tertindas. Tidak berhenti disana, selepas sekolah menengah atas, Che kembali bertualang hingga ia lulus.

Kepedihan hidup selama di negeri orang dan penyakit asmanya tidak membuat Che mati kutu untuk meneruskan perjuangannya membela kaum tertindas. Hal inilah yang membuat Che dipenjara, kemudian terus berpindah dari satu negara ke negara yang lain. Che tidak pernah menyerah. Ketika kehabisan uang, ia rela bekerja sebagai supir truck, nahkoda kapal, bahkan ia pernah menjadi tukang cuci piring. Hingga keterlibatannya pada beberapa kelompok politik pemuda yang melawan rezim Batista di Kuba.

Bagaimana saya tidak menyebutnya "Gila" ketika ipenyakit asma yang dideritanya seakan-akan tidak dihiraukan lagi oleh dirinya demi membela kaum tertindas. Semangat revolusi yang berkobar dalam dadanya menjadikan penyakitnya bukanlah sebuah alasan tetapi menjadi tantangan atau rintangan yang tidak begitu berarti dibandingkan dengan susahnya para kaum tertindas meraih segala "kemerdekaan" yang mereka idamkan pada sebuah kepemimpinan pemerintahan.
***

Dalam penulisan buku ini, Robert Junaidi menuangkannya terlalu tergesa-gesa. Beberapa hal yang menjadi tonggak sejarah yang penting kerap diceritakan secara singkat dan tidak merampung banyak rentetan perjalanannya. Hal-hal berat yang pernah dilalui Che Guevara sebagai tokoh utama dalam penulisan buku biografi ini juga tidak dijelaskan secara rinci perihal kesusahan Che selama melawan rezim pemerintahan yang menindas. Che di sini digambarkan sebagai orang yang suka berpindah dari satu negara ke negara yang lain. Meraih segala keinginan demi kebebasan dan tidak peduli terhadap kesehatannya sendiri. Che dalam buku ini juga seakan-akan menjadi orang yang hanya ingin bertualang dari satu tempat ke tempat yang lain. Padahal, Che juga memiliki kemampuan dalam berpolitik yang kurang diceritakan secara rinci pula. Beberapa hanya diutarakan melalui pidato, tulisan dan tindakan Che namun sayangnya tidak dijelaskan taktik berpolitik dan strategi penumpasan selain di dalam BAB 3, ‘Revolusi Berbasis Cinta’.

Saya secara pribadi kagum pada Robert Junaidi yang mana pada saat penulisan buku yang bertebal 213 halaman,  ia mampu merakit cerita dengan logis dan lugas. Beberapa diantaranya: Masa Kecil Melawan Penyakit, Che Guevara di Panggung Revolusi, Che Guevara sebagai Dokter Sosialis Kuba, Ketegangan Che Guevara dan Uni Soviet, Che Guevara dan Perhatiannya pada Keluarga serta Pertemanan Che Guevara dan Soekarno.

Hingga pada akhirnya, Che tetaplah menjadi sosok pemberani dalam rentetan sejarah revolusi dunia di belahan negara-negara Amerika Latin. Ulasan saya juga hanya mengacu pada pendapat seorang awam yang tidak memahami ihwal penulisan dan kepenulisan yang ditata secara cermat. Saya hanyalah seorang pemula. “Bangkitlah kaum tertindas!”

***

Judul Buku: CHE GUEVARA SANG REVOLUSIONER
Penulis: Robert Junaidi
Penerbit: PALAPA, 2013
ISBN: 978-602-279-084-6

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)