Seperti apakah warna cinta? Apakah
merah muda mewakili rekahannya, ataukah kelabu mewakili pecahannya?
Begitulah isi dari sinopsis novel Konspirasi Alam Semesta
yang merupakan buah tangan kedua dari seseorang yang mendeskripsikan dirinya
sebagai penulis, pemotret, bermusik; Fiersa Besari setelah melahirkan buku
pertamanya Garis Waktu. Dalam buku Konspirasi Alam Semesta (KOLASE), Fiersa
menceritakan tentang seorang penulis, jurnalis lepas sekaligus pengelana
bernama Juang Astrajingga yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang
perempuan bernama Ana Tidae saat mencari buku-buku antik di Palasari-Bandung, surga
kecil bagi para pemburu buku.
Pertemuan secara tidak sengaja itu membuat Juang merekam
dengan kuat akan sosok Ana dan selalu ingat akan paras Ana yang menawan. Hubungan
mereka makin akrab saat Juang ditugaskan mewawancarai seorang anak dari penari
legendaris Indonesia yang tidak begitu dikenal sejarah yang ternyata adalah Ana
Tidae. Setelah bertukar nomer ponsel, Juang yang juga sering nonton film
mengajak Ana untuk ikut serta. Bahkan Juang pernah mengajak Ana untuk mendaki
gunung. Juang yang terlihat begitu optimis, langsung mengutarakan perasaannya
pada Ana yang berujung ceria. Juang diterima cintanya oleh Ana. Disinilah titik
terang hubungan antara Juang dan Ana.
Hingga pada akhirnya, Juang harus berangkat ke tanah Papua
untuk meliput dan akan membuat film dokumenter setelah proposal untuk menggali
lebih dalam sejarah Papua diterima oleh pemerintah. Seperti biasa, tanah
Indonesia bagian Timur selalu istimewa untuk persoalan teknologi yang
menyebabkan Juang dan Ana hanya sesekali bertukar kabar. Intinya, akhir dari
kisah ini tidak akan terbayangkan sebelumnya.
---*---
Fiersa menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam teknik
penulisan novel KOLASE ini yang membuat deskripsi tiap potongan cerita dan
latar belakang tiap tokoh menjadi utuh dan rampung serta logis. Beberapa juga
mengangkat sejarah kelam bangsa Indonesia meskipun tidak diceritakan se-apik
mungkin. Dalam penyajian KOLASE sendiri memiliki
gaya bahasa atau diksi yang tidak seperti novel pada umumnya. Disini, Fiersa
juga mampu mengemasnya menjadi novel yang tidak biasa.
Alur cerita dibuat maju dan sesekali menjelaskan latar
belakang masa lalu keluarga Juang membuat saya merasa bosan untuk memperhatikan
dengan teliti. Beberapa penjelasan yang kurang penting juga diutarakan panjang
lebar. Dari latar belakang ayahnya Juang, ibunya Juang serta adiknya Juang. Padahal
mereka hanya tampil sesekali dalam cerita. Tidak seperti Ana dan beberapa teman
Juang yang sering bersama.
Untuk bentuk ceritanya sendiri, Fiersa meramu novel ini
menjadi perjuangan anak manusia menggapai impian, cinta dan persahabatan. Sayangnya,
penulis kurang jeli dalam mengangkat sebuah cerita yang tidak biasa. Yang mana
harus ada sesi sakit-sakitan akibat mengidap penyakit, dan cinta segitiga. Mungkin
yang kurang suka nonton sinetron akan merasa bahwa KOLASE hanyalah sebatas sinetron
yang di-beda-bentukkan. Padahal jika ditilik lebih mendalam, ada banyak hal
mengenai budaya di tanah Timur Indonesia dan makna sebuah perjalanan akan lebih
hangat terasa jika Fiersa mau meraciknya lebih baik atau mengangkatnya lebih
kuat daripada harus ada yang harus meregang nyawa dan juga beberapa konflik
yang disajikan terasa hambar. Kurang memacu adrenalin seorang pembaca. Jika sedih,
buat sesedih mungkin. Jika bahagia, buat segila mungkin. (Perasaan manusia
berbeda-beda).
Apapun itu bentuknya, ini hanyalah ulasan sampah yang tidak
paham arti sastra dan karya tulis atau apapun itu namanya. Tetapi saya adalah
salah satu dari banyak orang yang sangat antusias untuk membaca novel ini.
“Ending yang greget!”
---*---
Judul buku: KONSPIRASI ALAM SEMESTA
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: MediaKita
ISBN: 978-979-794-535-0

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)