27 Aug 2017

Konspirasi Alam Semesta: Sebuah Cerita Perjalanan

Seperti apakah warna cinta? Apakah merah muda mewakili rekahannya, ataukah kelabu mewakili pecahannya?

Begitulah isi dari sinopsis novel Konspirasi Alam Semesta yang merupakan buah tangan kedua dari seseorang yang mendeskripsikan dirinya sebagai penulis, pemotret, bermusik; Fiersa Besari setelah melahirkan buku pertamanya Garis Waktu. Dalam buku Konspirasi Alam Semesta (KOLASE), Fiersa menceritakan tentang seorang penulis, jurnalis lepas sekaligus pengelana bernama Juang Astrajingga yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan bernama Ana Tidae saat mencari buku-buku antik di Palasari-Bandung, surga kecil bagi para pemburu buku.

Pertemuan secara tidak sengaja itu membuat Juang merekam dengan kuat akan sosok Ana dan selalu ingat akan paras Ana yang menawan. Hubungan mereka makin akrab saat Juang ditugaskan mewawancarai seorang anak dari penari legendaris Indonesia yang tidak begitu dikenal sejarah yang ternyata adalah Ana Tidae. Setelah bertukar nomer ponsel, Juang yang juga sering nonton film mengajak Ana untuk ikut serta. Bahkan Juang pernah mengajak Ana untuk mendaki gunung. Juang yang terlihat begitu optimis, langsung mengutarakan perasaannya pada Ana yang berujung ceria. Juang diterima cintanya oleh Ana. Disinilah titik terang hubungan antara Juang dan Ana.

Hingga pada akhirnya, Juang harus berangkat ke tanah Papua untuk meliput dan akan membuat film dokumenter setelah proposal untuk menggali lebih dalam sejarah Papua diterima oleh pemerintah. Seperti biasa, tanah Indonesia bagian Timur selalu istimewa untuk persoalan teknologi yang menyebabkan Juang dan Ana hanya sesekali bertukar kabar. Intinya, akhir dari kisah ini tidak akan terbayangkan sebelumnya.
---*---

Fiersa menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam teknik penulisan novel KOLASE ini yang membuat deskripsi tiap potongan cerita dan latar belakang tiap tokoh menjadi utuh dan rampung serta logis. Beberapa juga mengangkat sejarah kelam bangsa Indonesia meskipun tidak diceritakan se-apik mungkin.  Dalam penyajian KOLASE sendiri memiliki gaya bahasa atau diksi yang tidak seperti novel pada umumnya. Disini, Fiersa juga mampu mengemasnya menjadi novel yang tidak biasa.

Alur cerita dibuat maju dan sesekali menjelaskan latar belakang masa lalu keluarga Juang membuat saya merasa bosan untuk memperhatikan dengan teliti. Beberapa penjelasan yang kurang penting juga diutarakan panjang lebar. Dari latar belakang ayahnya Juang, ibunya Juang serta adiknya Juang. Padahal mereka hanya tampil sesekali dalam cerita. Tidak seperti Ana dan beberapa teman Juang yang sering bersama.

Untuk bentuk ceritanya sendiri, Fiersa meramu novel ini menjadi perjuangan anak manusia menggapai impian, cinta dan persahabatan. Sayangnya, penulis kurang jeli dalam mengangkat sebuah cerita yang tidak biasa. Yang mana harus ada sesi sakit-sakitan akibat mengidap penyakit, dan cinta segitiga. Mungkin yang kurang suka nonton sinetron akan merasa bahwa KOLASE hanyalah sebatas sinetron yang di-beda-bentukkan. Padahal jika ditilik lebih mendalam, ada banyak hal mengenai budaya di tanah Timur Indonesia dan makna sebuah perjalanan akan lebih hangat terasa jika Fiersa mau meraciknya lebih baik atau mengangkatnya lebih kuat daripada harus ada yang harus meregang nyawa dan juga beberapa konflik yang disajikan terasa hambar. Kurang memacu adrenalin seorang pembaca. Jika sedih, buat sesedih mungkin. Jika bahagia, buat segila mungkin. (Perasaan manusia berbeda-beda).

Apapun itu bentuknya, ini hanyalah ulasan sampah yang tidak paham arti sastra dan karya tulis atau apapun itu namanya. Tetapi saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat antusias untuk membaca novel ini. 

“Ending yang greget!”
---*---

Judul buku: KONSPIRASI ALAM SEMESTA
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: MediaKita
ISBN: 978-979-794-535-0
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)