27 Aug 2017

Satu Hari di Borobudur


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bermula dari perjalanan malam menuju Purwokerto, lalu besok paginya berpindah ke Jogjakarta, saya menyempatkan diri menuju candi Borobudur. Perjalanan yang memakan waktu dua jam menggunakan motor itu membuat saya begitu kikuk.

Tapi sebelumnya, izinkan saya untuk membuat cerita ini menjadi lebih panjang. Bermula dari stasiun tugu setelah berpindah dari Purwokerto, saya berjalan kaki menuju Malioboro. Tempat yang dikunjungi banyak orang entah siang maupun malam.

9 Agustus 2017

14.13 WIB
Saya berjalan melalui banyak pedagang kaki lima dan turis yang lain sambil sesekali memotret orang yang terlihat berduaan di bangku-bangku umum sepanjang trotoar di Malioboro, saya tersenyum. “Kok bisa ya, saya sempat-sempatnya pelesir sedangkan skripsi menunggu untuk direvisi.” Penatlah yang menjawab semuanya. Ya, rasa penat yang telah lama berontak untuk di-refreshingkan sejenak. Siang itu, di Malioboro sedikit mendung. Mungkin karena angin yang membawa awan mendung kesana-kemari itulah yang membuat Malioboro siang itu labil. Kadang cerah, lalu mendung, kemudian cerah lagi dan berlangsung lama.

Sepanjang jalan, tidak ada satupun orang yang sok perhatian dengan saya. Ya, minimal memberikan makanan barangkali. Karena perut juga sudah lapar, warung kecil di sisi jalanlah yang menjadi tempat pemberhentian saya untuk sementara. Seusainya makan, saya menuju museum Vredeburg. Kebetulan selama bulan Agustus, tiket masuk digratiskan. Disitu saya langsung sujud syukur. Biaya menipis soalnya. Setelah hampir 30 menit saya mengitari museum Vredeburg, saya lelah. Duduklah di bawah pohon di depan kantor pemerintahan yang saya tidak ingat namanya sambil menunggu seseorang untuk menjemput.

16.40 WIB
Penjemput belum juga nongol batang hidungnya. Saya masih asyik-asyik saja menikmati sibuknya kendaraan yang lalu-lalang. Jam pulang kantor. Saya sudah merasa seperti gembel. Wajah kucel, baju bau keringat, celana lusuh, dan sepatu berjamur.

17.30 WIB
Masih belum muncul juga dan Jogja sudah mulai memadamkan sinar mataharinya. Perlahan suara-suara ramai makin mengecil lalu menghilang. Sayup-sayup sunyi makin terdengar dengan jelas. Beberapa pekerja sudah mulai beristirahat merebahkan tubuh sambil minum kopi. Saya mulai cemas. Kalau tidak ada yang menjemput, saya akan menginap di masjid sekitaran Malioboro. Yang penting tidak diusir oleh petugas masjidnya.

17.40 WIB
Tibalah seseorang yang tidak mau disebutkan jenis kelaminnya datang dan menjemput saya. Disitu saya sujud syukur lagi. Minimal, resiko diusir oleh petugas masjid sudah sirna. Makan juga semoga ditraktir. Tidur juga semoga diberi selimut. Hahaha berlebihan! Tapi yang pasti, saya sangat parno untuk naik kendaraan roda dua di jalanan yang padat seperti itu. Jujur saja, saya kikuk! Kikuk sekikuk-kikuknya. Berlebihan! Dan semua harapan saya terkabulkan. Tidak sujud syukur lagi. Tapi sholat maghrib.

10 Agustus 2017

11.03 WIB
Karena obrolan kami semalam setelah tiba, hingga pagi menjelang, saya bangun pukul 11.03 WIB. (Tidurnya setelah sholat subuh). Itupun langsung mengecek jejaring sosial dan memastikan bahwa Perse Ende menjuarai ETMC 2017. “Kita ke Borobudur!” kata seorang teman. “Tapi kan motor cuma satu. Itu juga pinjaman.” “Kita pake GO-JEK.” Karena saya belum pernah ke Borobudur, saya bahagia-bahagia saja diajak kesana. Tapi itu tidak seenak yang dibayangkan karena pengemudi saya adalah seorang perempuan! Mbak-mbak gitu! Terus, saya bahagia? Tidak sama sekali. Saya kikuk untuk kedua kalinya. Kikuk sejadi-jadinya. Andai waktu itu saya bisa pura-pura kesurupan dan berganti pengemudi, maka akan saya lakukan. Tapi tidak. The show must go on! Saya sejujurnya ragu. Perjalanan jauh yang dikemudikan oleh seorang perempuan. Tapi ya sudahlah. Pasrah adalah pilihan paling tepat.

13.09 WIB
Tibalah saya di depan gerbang masuk Candi Borobudur. Terlihat banyak pedagang yang menawarkan pernak-pernik semisal gantungan kunci hingga jasa pijit keliling. Nah untuk saat ini, harga tiket masuk untuk wisatawan lokal sebesar 40.000,- rupiah. Harga tiket masuk wisatawan asing, saya tidak tahu. Di depan pintu masuk, ada pemeriksaan tiket dan barang bawaan. Setelahnya, saya dijumpai dengan jalanan yang diatasnya banyak payung warna-warni yang digantungkan. Lucu. Pingin gigit tapi jauh di atas. Sebelum menuju candi, saya menaiki anak tangga yang lumayan banyak. Mungkin sekitar 100 anak tangga. Panasnya matahari juga makin terasa setelah tiba di depan candi. Banyak yang memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah rindang pohon sebelum sesi pemotretan ter-alay dilakukan. Tidak bagi saya dan teman. Kami punya sedikit waktu untuk ini dan betapa noraknya saya ketika menginjakkan kaki di candi Borobudur. Hampir semua relief saya raba dan tidak henti-hentinya mengagumi bahwa ratusan, ribuan atau bahkan jutaan tahun yang lalu, sudah ada orang memahat batu seapik ini yang semuanya mengandung cerita dan makna.
Di sisi lain, saya juga mengagumi stupa-stupa Borobudur yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi bangunan-bangunan kecil mengelilingi bangunan utama yang besar di puncak candi. Saya juga kurang tahu namanya. Panas dan keringat yang meleleh di kaus yang saya kenakan sudah tidak dihiraukan lagi. Artinya, candi dan relief-reliefnya lebih menghipnotis saya untuk tidak henti-hentinya bertanya pada petugas lapangan yang ada di area tersebut. Kepo. Bodo amat ah. Setelahnya, saya kembali ke Jogja dengan bahagia.

Sebetulnya tidak banyak yang harus saya sampaikan dalam perjalanan ke Borobudur di tulisan ini. Karena, masing-masing punya cerita dan bagian yang perlu dikenang setelah pulang. Saya akan kembali ke Jogja. Dan semoga ada cerita lain yang bisa saya bagikan.

Salam penuh hangat dari semesta padamu. Iya, kamu yang berkenan untuk membacanya. 😊😊😊
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)