Tapi sebelumnya,
izinkan saya untuk membuat cerita ini menjadi lebih panjang. Bermula dari
stasiun tugu setelah berpindah dari Purwokerto, saya berjalan kaki menuju
Malioboro. Tempat yang dikunjungi banyak orang entah siang maupun malam.
9 Agustus
2017
14.13 WIB
Saya berjalan
melalui banyak pedagang kaki lima dan turis yang lain sambil sesekali memotret
orang yang terlihat berduaan di bangku-bangku umum sepanjang trotoar di
Malioboro, saya tersenyum. “Kok bisa ya, saya sempat-sempatnya pelesir
sedangkan skripsi menunggu untuk direvisi.” Penatlah yang menjawab semuanya. Ya,
rasa penat yang telah lama berontak untuk di-refreshingkan sejenak. Siang
itu, di Malioboro sedikit mendung. Mungkin karena angin yang membawa awan mendung kesana-kemari itulah yang membuat Malioboro siang itu labil. Kadang
cerah, lalu mendung, kemudian cerah lagi dan berlangsung lama.
Sepanjang jalan, tidak ada satupun orang yang sok perhatian dengan saya. Ya, minimal memberikan makanan barangkali. Karena perut juga sudah lapar, warung kecil di sisi jalanlah yang menjadi tempat pemberhentian saya untuk sementara. Seusainya makan, saya menuju museum Vredeburg. Kebetulan selama bulan Agustus, tiket masuk digratiskan. Disitu saya langsung sujud syukur. Biaya menipis soalnya. Setelah hampir 30 menit saya mengitari museum Vredeburg, saya lelah. Duduklah di bawah pohon di depan kantor pemerintahan yang saya tidak ingat namanya sambil menunggu seseorang untuk menjemput.
Sepanjang jalan, tidak ada satupun orang yang sok perhatian dengan saya. Ya, minimal memberikan makanan barangkali. Karena perut juga sudah lapar, warung kecil di sisi jalanlah yang menjadi tempat pemberhentian saya untuk sementara. Seusainya makan, saya menuju museum Vredeburg. Kebetulan selama bulan Agustus, tiket masuk digratiskan. Disitu saya langsung sujud syukur. Biaya menipis soalnya. Setelah hampir 30 menit saya mengitari museum Vredeburg, saya lelah. Duduklah di bawah pohon di depan kantor pemerintahan yang saya tidak ingat namanya sambil menunggu seseorang untuk menjemput.
16.40 WIB
Penjemput belum juga nongol batang
hidungnya. Saya masih asyik-asyik saja menikmati sibuknya kendaraan yang lalu-lalang. Jam pulang kantor. Saya sudah merasa seperti gembel. Wajah kucel, baju bau
keringat, celana lusuh, dan sepatu berjamur.
17.30 WIB
Masih belum muncul juga dan Jogja
sudah mulai memadamkan sinar mataharinya. Perlahan suara-suara ramai makin
mengecil lalu menghilang. Sayup-sayup sunyi makin terdengar dengan jelas. Beberapa
pekerja sudah mulai beristirahat merebahkan tubuh sambil minum kopi. Saya mulai
cemas. Kalau tidak ada yang menjemput, saya akan menginap di masjid sekitaran
Malioboro. Yang penting tidak diusir oleh petugas masjidnya.
17.40 WIB
Tibalah seseorang yang tidak mau
disebutkan jenis kelaminnya datang dan menjemput saya. Disitu saya sujud syukur
lagi. Minimal, resiko diusir oleh petugas masjid sudah sirna. Makan juga semoga
ditraktir. Tidur juga semoga diberi selimut. Hahaha berlebihan! Tapi yang pasti,
saya sangat parno untuk naik kendaraan roda dua di jalanan yang padat seperti
itu. Jujur saja, saya kikuk! Kikuk sekikuk-kikuknya. Berlebihan! Dan semua
harapan saya terkabulkan. Tidak sujud syukur lagi. Tapi sholat maghrib.
10 Agustus 2017
11.03 WIB
Karena obrolan kami semalam setelah
tiba, hingga pagi menjelang, saya bangun pukul 11.03 WIB. (Tidurnya setelah
sholat subuh). Itupun langsung mengecek jejaring sosial dan memastikan bahwa
Perse Ende menjuarai ETMC 2017. “Kita ke Borobudur!” kata seorang teman. “Tapi
kan motor cuma satu. Itu juga pinjaman.” “Kita pake GO-JEK.” Karena saya belum
pernah ke Borobudur, saya bahagia-bahagia saja diajak kesana. Tapi itu tidak
seenak yang dibayangkan karena pengemudi saya adalah seorang perempuan! Mbak-mbak
gitu! Terus, saya bahagia? Tidak sama sekali. Saya kikuk untuk kedua kalinya. Kikuk
sejadi-jadinya. Andai waktu itu saya bisa pura-pura kesurupan dan berganti
pengemudi, maka akan saya lakukan. Tapi tidak. The show must go on! Saya
sejujurnya ragu. Perjalanan jauh yang dikemudikan oleh seorang perempuan. Tapi ya
sudahlah. Pasrah adalah pilihan paling tepat.
13.09 WIB
Tibalah saya di depan gerbang masuk
Candi Borobudur. Terlihat banyak pedagang yang menawarkan pernak-pernik semisal
gantungan kunci hingga jasa pijit keliling. Nah untuk saat ini, harga tiket
masuk untuk wisatawan lokal sebesar 40.000,- rupiah. Harga tiket masuk
wisatawan asing, saya tidak tahu. Di depan pintu masuk, ada pemeriksaan tiket
dan barang bawaan. Setelahnya, saya dijumpai dengan jalanan yang diatasnya
banyak payung warna-warni yang digantungkan. Lucu. Pingin gigit tapi jauh di
atas. Sebelum menuju candi, saya menaiki anak tangga yang lumayan banyak. Mungkin
sekitar 100 anak tangga. Panasnya matahari juga makin terasa setelah tiba di
depan candi. Banyak yang memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah rindang
pohon sebelum sesi pemotretan ter-alay dilakukan. Tidak bagi saya dan teman.
Kami punya sedikit waktu untuk ini dan betapa noraknya saya ketika menginjakkan
kaki di candi Borobudur. Hampir semua relief saya raba dan tidak henti-hentinya
mengagumi bahwa ratusan, ribuan atau bahkan jutaan tahun yang lalu, sudah ada
orang memahat batu seapik ini yang semuanya mengandung cerita dan makna.
Di sisi lain, saya juga mengagumi
stupa-stupa Borobudur yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi
bangunan-bangunan kecil mengelilingi bangunan utama yang besar di puncak candi.
Saya juga kurang tahu namanya. Panas dan keringat yang meleleh di kaus yang
saya kenakan sudah tidak dihiraukan lagi. Artinya, candi dan relief-reliefnya
lebih menghipnotis saya untuk tidak henti-hentinya bertanya pada petugas
lapangan yang ada di area tersebut. Kepo. Bodo amat ah. Setelahnya, saya
kembali ke Jogja dengan bahagia.
Sebetulnya tidak banyak yang harus
saya sampaikan dalam perjalanan ke Borobudur di tulisan ini. Karena,
masing-masing punya cerita dan bagian yang perlu dikenang setelah pulang. Saya akan
kembali ke Jogja. Dan semoga ada cerita lain yang bisa saya bagikan.
Salam penuh hangat dari semesta
padamu. Iya, kamu yang berkenan untuk membacanya. 😊😊😊

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)