Perjalanan terbaik adalah yang membuat kita sadar bahwa jarak adalah hal paling menggemaskan untuk diakui sebagai pembatas antara dua manusia yang saling menautkan rindu.
Perkara komunikasi sesering apapun, tidak akan pernah menjadi obat paling mujarab menutupi luka pada rindu yang menganga. Hal paling nyata yang harus dilakukan adalah bertemu.
Melepaskan rindu pun tidak serta merta bertemu, berbicara panjang lebar, pergi ke tempat-tempat wisata atau sekadar makan berdua di warung kecil dan sambil menyuap satu sama lain. Lebih dari itu, meleburkan rindu adalah ketika seseorang atau keduanya paham bahwa pertemuan yang dibatasi oleh jarak ini mampu dilalui hingga berujung pada janji suci kedua insan.
Saya pun demikian. Perjalanan yang sebenarnya selepas dari Purwokerto adalah menuju Jogja. Bertemu teman lama yang hingga saat ini masih saling bertukar kabar via jejaring sosial. Disana pula saya berbagi pengalaman tentang orang-orang baru, lingkungan baru dan antropologi masyarakat baru selepas masa SMA. Dia bercerita tentang Jogja dan saya tentu saja soal Garut.
Duduk di trotoar depan Monumen Penyerangan Satu Maret dan beralaskan sandal jepit, kami berdua saling berbagi pengalaman baru. Malam itu adalah malam Jum'at. Tapi begitulah Jogja. Selalu ramai dengan turis lokal atau asing yang lalu-lalang melewati kami. Tidak hanya pejalan kaki namun pemusik jalanan juga tampak riang memainkan lagu-lagu kroncong khas jawa yang telah dipadu padankan dengan musik modern.
Kendaraan juga terlihat ramai menghiasi malam temaram kota itu. Udara juga tampak hangat. Tidak sedingin Garut. Pukul 23.30 WIB telah tercetak jelas di tiket pemberangkatan kereta saya malam itu. Yogyakarta-Garut stasiun Tugu. Semilir angin yang sesekali menyapa tubuh membuat kami memutuskan berpindah menuju alun-alun Selatan Jogjakarta. Sesekali dicubit lengan adalah hal teristimewa yang pernah saya rasakan.
Berharap lebih dari dicubit lengannya? Pasti. Tapi, saya tidak se-gila itu. Cukuplah dengan hal-hal sederhana. Yang penting tertawa yang terbalut riang tanpa jeda. Malam itu, saya terbahagiakan!
23.15 WIB
Sudah sampailah di pengujung waktu bahwa saya harus kembali menarik diri menuju rumah. Perjalanan menuju stasiun kereta adalah perjalanan paling menyesakkan baginya dan bagiku. Kami berdua sadar bahwa hal seperti ini akan jarang kami lalui. Kembali menjadi masing-masing orang yang menjalani proses pendidikan di tanah orang.
Sudah sampailah di pengujung waktu bahwa saya harus kembali menarik diri menuju rumah. Perjalanan menuju stasiun kereta adalah perjalanan paling menyesakkan baginya dan bagiku. Kami berdua sadar bahwa hal seperti ini akan jarang kami lalui. Kembali menjadi masing-masing orang yang menjalani proses pendidikan di tanah orang.
Satu hal yang membuat saya begitu enggan untuk meninggalkan Jogja adalah komitmen pada masing-masing dari kami untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna. Ya, malam itu adalah yang terbahagia dan tersesakkan dada. Hingga pada akhirnya, saya memberinya sebuah gelang dari tali pocong. Bukan! Dari tali sepatu gunung. Filosofinya adalah, sepatu selalu punya pasangan dan gunung adalah simbol perjuangan seseorang meraih cita-cita.
Disinlah saya. Duduk bersama dua pria usia 40-an. Malam di kereta itu dingin. Entah. Saya ragu bahwa apakah ini adalah dingin angin malam, atau dingin tubuh yang harus siap ditelan kembali proses pendidikan. Lalu pada tiap laju kereta, saya mengucapkan janji pada diri. "Jogja, tunggu saya kembali."

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)