25 Aug 2017

MENGEJAR PURWOKERTO

Sebuah perjalanan selalu mengendapkan kisah oleh yang tengah melaluinya. Petualangan yang singkat ataupun panjang senantiasa beriringan dengan pengalaman yang kian menebal beriringan dengan tiap langkah kaki yang semakin menjauh dari rumah.

Berbekal sisa uang jajan, saya mulai mengecek jadwal pemberangkatan dari Garut menuju Purwokerto beserta biaya menggunakan jasa kereta api. (Akan saya ceritakan kejadian selama perjalanan di tulisan yang lain)

Tanggal 8 Agustus 2017 lalu, saya memutuskan untuk melangkahkan kaki ke Purwokerto. Sebuah kota yang berada di Propinsi Jawa Tengah itu menjadi saksi seorang anak manusia berlalu-lalang menyusuri tempat baru dengan nekad. Saya katakan nekad karena tidak ada kerabat disana dan tidak ada tempat persinggahan yang jelas. Tetapi tujuan saya jelas: Menemui seseorang dari masa lalu setelah mengikuti rentetan kegiatan yang tidak perlu saya ceritakan.

Dalam perjalanan, saya berfikir bahwa betapa konyolnya saya yang sebenarnya masih dibiayai hidup oleh orangtua rela memakainya untuk menemui seseorang, dari masa lalu pula. Tapi ini adalah janji saya padanya bahwa kami akan bertemu sebelum saya selesai kuliah. Sudah lima tahun setelah disaksikan hujan deras yang turun menemani saya dan dia di bawah payung menyusuri jalanan yang lengang, kami berdua mengalami goncangan. Ya, PUTUS.

21.05 WIB
Maka, disinilah kami. Setelah mandi selepas kegiatan itu, saya menemuinya di alun-alun Purwokerto. Malam itu saya duduk bersebelahan dengannya. Lama kami terpaku. Tidak ada yang memulai obrolan terlebih dahulu. Saya ataupun dia, lebih tertarik mengamati orang-orang yang sedang berjalan, bermain lampu-lampuan, atau yang asyik mengobrol dengan duduk melingkar di tengah lapangan alun-alun hingga saya yang memutuskan untuk menanyakan kabar. Sekadar basa-basi perihal pembuka obrolan. Hening.

Mungkin saya yang terlalu formal memulai pembicaraan, atau dianya yang memilih bungkam. Entah. Tapi yang pasti, teman-temannya datang dan kemudian saya semakin menjauh. Semakin kerdil dalam pusaran gelombang yang besar dan menjadi asing kembali oleh hadirnya teman-teman "barunya".

Seperti spesies manusia modern pada umumnya, duduk melingkar dengan banyak orang bukanlah hal yang membahagiakan karena kami lebih asyik menatap ponsel masing-masing. Betapa asingnya saya yang sudah sendiri dari Garut, menemui sosok yang telah lama larut dalam rasa, namun berubah menjadi hambar. Kayak alien!

Kami terdiam lama. Kemudian beberapa dari kami memulai dengan obrolan tentang tempat wisata di Purwokerto. Karena semuanya adalah orang "asing" di Purwokerto, akhirnya obrolan ini hanyalah bual pembuka yang gagal. Akhirnya, kembali menatap layar ponsel. Selalu seperti itu.

Sejujurnya saya tidak pedulikan teman-temannya yang ngelantur. Tidak sama sekali! Saya hanya berharap, orang yang sudah membuat saya "mengejarnya" hingga ke Purwokerto mau membuka obrolan. Mau berbicara. Mau berbasa-basi seperti yang lain. Tapi ternyata tidak juga!

22.27 WIB
Setelah kurang lebih satu setengah jam kami ngelantur (meskipun lebih banyak diam), akhirnya mereka dengan warasnya meninggalkan saya tanpa pamit. Tanpa pamit! Sumpah! Eh, suer! Mereka berdiri dari duduk melingkar tadi lalu bubar. Dan saya? Masih duduk menatap dia yang saya "kejar" menjauh dan menghilang menggunakan jasa ojek online.

Bagaimana rasanya ketika tujuh jam dalam perjalanan hanya untuk berusaha menemui seseorang dengan harapan akan penuh kebahagiaan, namun ternyata salah. Kecewa yang dirasa. Perjalanan pulang ke "tempat inap" saya dihantui rasa penyesalan. Tetapi, darisana saya mendapati pelajaran bahwa belajarlah untuk tidak memiliki harapan. Lakukanlah sesuatu sebaik mungkin. Karena, harapan hanya akan membuat kecewa ketika tidak sesuai, dan ketika sesuai hanya akan membuat angkuh diri.

Malam itu, Purwokerto saya jadikan tujuan utama perjalanan ini. Saya mengejar Purwokerto. Tidak lagi mengejar harapan berujung menyakitkan dari dia. Terima kasih Purwokerto. Engkau ramah. Peluk hangat, cium mesra untuk kota yang tersimpan cerita.

Salam Semesta. 😊

*Semua tanda kutip adalah kata yang menunjukkan kiasan (bukan arti yang sebenarnya.) Silahkan ditafsirkan sendiri.
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)