23 Sept 2017

Matinya Seorang Aktivis


"Jadi seorang aktivis tidak akan ada gunanya! Kamu hanya mengurangi waktu untuk belajar di kelas dan tidak tepat waktu untuk wisuda."

"Tapi kita tidak bisa tinggal diam bu! Bagaimana dengan orang yang diambil haknya? Bagaimana dengan orang yang tidak diperlakukan secara adil? Bagaimana dengan para petani dan buruh yang makin tercekik? Lalu bagaimana dengan kebijakan pemerintah yang makin tidak peduli dengan rakyatnya sendiri?"

"Pokoknya ibu tidak mau tau! Tahun ini kamu harus wisuda! Cepat dapat kerja! Malu dengan Lukman yang sudah kredit motor sendiri."

Fahmi menutup pintu kamar. Napasnya terengah. Tampaknya idealisme yang selama ini yang digenggam sedang tergoyahkan. Antara menuruti perintah orangtua atau mempertahankan idealisme seorang pemuda dalam ranah kampus.

"Tidak! Ibu hanya belum memahami perkara kemanusiaan yang sedang melanda. Ibu hanya tau kalau selesaikan kuliah, cepat dapat kerja dan jadilah karyawan kantoran yang taat pada perintah atasan. Syukur-syukur cepat diangkat sebagai PNS atau jatah sertifikasi. Sisanya, matilah dalam kebutaan. Tapi di sisi lain, saya juga harus mampu membanggakan orangtua yang mana sudah merindukan putra pertama mereka memakai toga dan menyematkan foto wisuda lengkap dengan figura berlapis emas nan gagah di ruang tamu." Debat batin memuncak dalam beberapa jam.

Fahmi duduk dan menatap ke luar jendela. Sesekali ia menatap sendu pada panji organisasinya yang dipasang rapi pada pintu lemari. Teringat empat tahun lalu ia dikukuhkan menjadi salah satu pejuang kemanusiaan dan menamakan dirinya sebagai pembela rakyat tertindas.

"PING!!!"
"Selamat malam sahabat-sahabat. Perlu diingatkan bahwa besok adalah kajian terakhir terkait isu penyelewengan dana oleh bupati dan stafnya. Oleh karena itu, mohon kehadirannya semua. Tetap tangan terkepal dan maju ke muka!"

Isi pesan berantai malam itu tidak membuatnya tertarik. Kecamuk dalam batin belum mampu direda antara meneruskan skripsi yang berdebu di atas meja atau melanjutkan perjuangan membela kaum tertindas.

Pukul 03.08 pagi belum juga ada tanda-tanda mengantuk. Dua perkara belum juga mampu diputuskan. Di tempat pembaringan, Fahmi berbaring berbantalkan tangan.

"Fahmi anakku. Ayahmu ini sudah tua. Lihatlah ibumu yang juga sudah punya banyak hutang untuk membiayaimu kuliah nak. Sini peluk ayah. Jangan sampai kamu kecewa dikemudian hari." Ucap sang ayah dengan wajah lesu dan tampak suram. Ada tanda kesedihan disana.

"Pemuda. Apa gunanya sekolahmu tinggi jika hanya mempedulikan dirimu sendiri. Jika sekolahmu hanya akan membatasimu dengan tukang pacul dan tukang buruh, maka sekolahmu tidak ada gunanya!" Seorang pemuda dengan kaus lusuh dan sobek di bagian leher mendekati Fahmi. Menatapnya tajam dengan pandangan sinis penuh arti.

"Jadi begini seorang sarjana? Tau ilmu agama tapi mencuri uang rakyat? Hah? Matilah kau!" Kebringasan seorang aparat negara tidak henti-hentinya menghujam tinju dan tendangan tepat di pelipis dan perut Fahmi. Darah segar yang mengucur deras dari pelipisnya juga tidak bisa diseka. Dalam keadaan berlutut dan penerangan yang kurang, kematian adalah pilihan paling masuk akal.

"Matilah kau! Bangsat!"

Sontak Fahmi terbangun dari mimpinya dan menatap ke arah jam dinding. 05.14 pagi. Keringat dingin di telapak tangan dan keningnya menjadi-jadi. Napasnya tersengal. Kemejanya juga terasa lembap. Satu menit kemudian, ia meraih rokok dan diisapnya dalam-dalam.

"Tidak! Besok saya harus kuliah!"

"Tidak! Besok saya harus kajian isu."

"Tidak! Besok saya harus belajar agama."

"Tidak! Besok saya gantung diri."

Hening.

***


Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)