4 Aug 2017

FILOSOFI ITIK

Pagi ini ditemani segelas susu hangat, saya duduk di teras rumah. Memandangi hamparan sawah yang sedang menguning dan beberapa petani yang sibuk memanen padi di beberapa petak sawah. Di sampingnya, ada juga padi yang telah kering setelah satu atau dua hari yang lalu padinya dipanen dan menyisakan lumpur kering yang meretak indah. Dari kejauhan, terlihat seorang mandor sibuk mengawasi pekerjaan anak buahnya menggiling padi. Dan seperti biasa, anak-anak SD melewati pekarangan rumah menuju sekolahnya masing-masing. Semangat yang sama hampir setiap hari. Perlahan matahari menyemburat naik dan menunjukkan dengan indah bahwa hari ini awan begitu cerah dan langit membiru indah.

Dari sisa-sisa pembakaran padi yang mengering, terdapat genangan air sisa hujan semalam. Saya mendapati seorang penggembala itik yang sedang menghalau peliharaannya menuju genangan air lumpur itu. Hal pertama yang saya lihat adalah begitu banyaknya itik yang digiring, hanya satu-dua ekor yang keluar dari barisan kelompoknya. Sisanya mengikuti gerak itik yang paling depan. Jika satu ekor itik turun ke kubangan, maka yang lain juga ikut.

Dari sana, saya bertanya "Bagaimana kalau itik paling depan terjun ke jurang?" "Bagaimana kalau itiknya minum racun?". Dari sini saya sangat bersyukur menjadi manusia. Sangat sangat bersyukur. Makhluk yang bernama manusia ini dikaruniai akal oleh yang maha kuasa. Mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mampu memisahkan yang halal dan yang haram. Juga mampu mengendalikan yang salah dan yang benar. Terbayang jika kita sebagai manusia tidak dibekali akal oleh sang maha pencipta.

Disinilah titik pembeda paling mendasar antara manusia dan yang bukan manusia. Saya juga makin bersyukur karena bukan hanya dibekali akal, tetapi juga diberi hati yang mana memiliki perasaan hingga seorang manusia sebejat apapun mampu menangis jika hatinya tersentuh. Saya juga makin berterima kasih yang tidak terhingga kepada sang pemilik alam yang mana kita mampu menikmati udara pagi, hamparan langit tanpa tiang, atau gemuruh angin yang menyapa dingin. Entah jika itu semua diambil kembali oleh yang maha punya.

Lalu, masih tidak bersyukurkah kita sebagai manusia? Lalu, hanya berucap yang dapat kita lakukan? Bukankah menjadi yang baik adalah yang makin bermanfaat untuk orang lain? Sudahlah. Kata Four Twenty, "Kita ini insan bukan seekor sapi."

Mari mulai nikmati hari sebagai orang yang bermanfaat meski hanya setitik karena kita berbeda dengan kawanan itik. Nikmatilah tiap rasa, dan berterima kasihlah pada yang kuasa.

Bukankah kita akan kembali pada yang maha menghakimi?
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)