3 Aug 2017

DUA BULAN SUDAH

Sudah hampir tiga minggu ini aku sering ke luar rumah. Melangkah kemana saja yang penting tidak teringat lagi tentang dia. Wanita yang sudah hampir dua bulan meninggalkan puing-puing kenangan yang runtuh bersama anganku padanya. Ya, dua bulan sudah ponselku kehilangan nama favorit dalam buku telepon yang biasanya bertengger paling atas ketika membuka pesan singkat atau daftar telepon. 

Rasanya begitu menghujam dada. Entah, jika tiba-tiba hujan turun dan membasahi angan lalu menyapu bersih himpitan kelam yang menikam relung hati paling dalam. Aku, sosok pria yang sering ia katakan sebagai pemilik akal paling tidak biasa, pemilik perasaan paling tidak mengenakkan, pemilik raga paling tidak menjaga kebersihan. Ya, aku yang katanya hanya mandi seminggu sekali. Aku, yang katanya sering begadang dan tidak menjaga kesehatan, dan aku yang sering ia katakan sebagai perokok aktif yang tidak memperhatikan kondisi badan. Ya, itu aku.

Demi cinta, aku berusaha untuk menghilangkan kebiasaan yang menurutnya dan beberapa ahli kesehatan adalah kebiasaan buruk. Mulai tidur paling larut jam sebelas malam, merokok barang sebatang atau dua batang dalam sehari, dan mampu mandi dua kali dalam sehari. Aku bahagia saja diperlakukan seperti itu. Toh, katamu “Demi masa depan kita!” yang saat ini berubah menjadi “Demi masa depan aku dan dia!” Sudahlah. Aku terlalu lelah untuk mengingat semuanya sejernih mungkin. Karena itu hanya akan menuai pedih batin yang semakin tumbuh subur dalam nurani.

Ya, dua bulan sudah kejadian paling nestapa itu berlalu. Kiamat kecil dalam hati itu membiru. Andai saja kita tidak pernah berjuang untuk sebuah angan, mungkin aku tidak akan begitu terlena dan merekat gundah. Tapi juga ini menjadi pelajaran paling berharga dalam kehidupan bahwa, menuai rasa rindu berdua hanya akan berujung sesak tak tertahankan. (kecuali berujung pernikahan). Aku juga semakin tahu bahwa hadirnya, kini tidak akan pernah se-merekah dulu. Tidak akan pernah se-jingga dulu dan tidak akan pernah se-indah dulu.

Tenang saja, dirinya tetap indah dalam anganku. Ya, tetap saja indah. Meskipun nanti aku harus menggantinya dengan sosok baru yang lebih menerimaku apa adanya, ia tetap saja indah. Tapi aku akan menempatkannya pada sudut hati yang paling dalam dan gelap. Agar aku hanya akan merasakan hadirnya, bukan melihatnya lagi sebagai sebuah keindahan. Karena, aku percaya bahwa ketika dua insan telah memutuskan untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan yang halal, disaat itulah semua kenangan hanya akan menjadi reruntuhan masa silam yang tersusun rapi dalam memori yang terdalam.

Baiklah. Aku akan menunggu amplop undangan pernikahannya. Tapi, di hari bahagianya itu, aku tidak akan hadir. Ia tidak akan mau melihat orang yang sudah mengecewakannya kembali hadir pada hari paling bersejarahnya bersama pria lain yang dicintainya. Seorang pria yang akan menemani tidur malamnya, yang akan memeluk erat lingkar pinggangnya, yang akan setia di samping saat ia mengerang kesakitan di keheningan malam, atau mungkin nanti ketika harus mencari makanan yang diinginkan saat sedang mengandung anak pertamanya.

Aku akan pergi. Kembali menyembunyikan diri dalam keheningan malam atau di pelataran belantara. Menghitung hari menunggu saat-saat paling tidak menyejukkan saat di bumi hanguskan rasa kasihan. Ah, aku tidak membutuhkan rasa belasungkawa.

Oh iya, jika dirimu sempat membaca tulisan ini, aku mau katakan bahwa; kalau dirimu ingin berbagi cerita tentang suamimu nanti, telinga ini akan selalu setia menemani. Mendengar keluh kesahmu tetap saja indah bagiku. Tapi, mungkin aku hanya akan memberikanmu tisu untuk menyapu air mata, atau teh hangat sebagai solusi pelepas penat. Tidak lebih. Karena, buku-buku agama yang engkau sarankan padaku untuk membacanya, masih aku ingat. Aku akan menjaganya sebagai acuan paling normal dalam tatanan keagamaan. Aku juga masih membuka dan membacanya sekadar mengingat siapa pemiliknya. Maafkan aku yang tidak pernah menjadi apa yang kamu mau.

Jujur saja, namamu masih sering aku perhatikan dalam ponselku. Mengelus-elus layarnya, siapa tahu kamu tiba-tiba muncul ibarat jin yang ada di dalam teko. Aneh saja, tapi aku bahagia kok. Sesederhana itu mengenangmu. Tapi karena sekarang kita sudah tidak bersama, aku jadi makin banyak tahu tempat indah di Garut. Mungkin aku akan selalu seperti itu. Mencari kedamaian baru setelah membereskan yang lama.

Aku akan kembali melangkah. Mengikat tali sepatu sekencang mungkin, kemudian melesat tak terhingga menggapai mimpi-mimpi baru yang sempat usang oleh indahnya hadirmu.

Terima kasih untuk dua bulan ini. Aku semakin tidak kaku pada setiap orang yang kujumpai, dan kamu semakin tahu siapa yang akan menjadi pemilik hatimu. Melangkahlah. Hati kita, layak untuk dicintai.

Garut, 3 Agustus 2017.
*ditulis sambil mendengarkan ceramah Papah Dedeh
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)