Sudah hampir tiga minggu ini aku sering ke luar rumah. Melangkah kemana
saja yang penting tidak teringat lagi tentang dia. Wanita yang sudah hampir dua
bulan meninggalkan puing-puing kenangan yang runtuh bersama anganku padanya. Ya,
dua bulan sudah ponselku kehilangan nama favorit dalam buku telepon yang biasanya bertengger paling atas ketika membuka pesan singkat atau daftar
telepon.
Rasanya begitu menghujam dada. Entah, jika tiba-tiba hujan turun
dan membasahi angan lalu menyapu bersih himpitan kelam yang menikam relung hati
paling dalam. Aku, sosok pria yang sering ia katakan sebagai pemilik akal
paling tidak biasa, pemilik perasaan paling tidak mengenakkan, pemilik raga
paling tidak menjaga kebersihan. Ya, aku yang katanya hanya mandi seminggu
sekali. Aku, yang katanya sering begadang dan tidak menjaga kesehatan, dan aku
yang sering ia katakan sebagai perokok aktif yang tidak memperhatikan kondisi
badan. Ya, itu aku.
Demi cinta, aku berusaha untuk menghilangkan kebiasaan yang menurutnya
dan beberapa ahli kesehatan adalah kebiasaan buruk. Mulai tidur paling larut
jam sebelas malam, merokok barang sebatang atau dua batang dalam sehari, dan
mampu mandi dua kali dalam sehari. Aku bahagia saja diperlakukan seperti itu. Toh,
katamu “Demi masa depan kita!” yang saat ini berubah menjadi “Demi masa depan
aku dan dia!” Sudahlah. Aku terlalu lelah untuk mengingat semuanya sejernih
mungkin. Karena itu hanya akan menuai pedih batin yang semakin tumbuh subur
dalam nurani.
Ya, dua bulan sudah kejadian paling nestapa itu berlalu. Kiamat
kecil dalam hati itu membiru. Andai saja kita tidak pernah berjuang untuk
sebuah angan, mungkin aku tidak akan begitu terlena dan merekat gundah. Tapi juga
ini menjadi pelajaran paling berharga dalam kehidupan bahwa, menuai rasa rindu
berdua hanya akan berujung sesak tak tertahankan. (kecuali berujung pernikahan).
Aku juga semakin tahu bahwa hadirnya, kini tidak akan pernah se-merekah dulu. Tidak
akan pernah se-jingga dulu dan tidak akan pernah se-indah dulu.
Tenang saja, dirinya tetap indah dalam anganku. Ya, tetap saja
indah. Meskipun nanti aku harus menggantinya dengan sosok baru yang lebih
menerimaku apa adanya, ia tetap saja indah. Tapi aku akan menempatkannya pada
sudut hati yang paling dalam dan gelap. Agar aku hanya akan merasakan hadirnya,
bukan melihatnya lagi sebagai sebuah keindahan. Karena, aku percaya bahwa
ketika dua insan telah memutuskan untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan yang
halal, disaat itulah semua kenangan hanya akan menjadi reruntuhan masa silam
yang tersusun rapi dalam memori yang terdalam.
Baiklah. Aku akan menunggu amplop undangan pernikahannya. Tapi, di hari
bahagianya itu, aku tidak akan hadir. Ia tidak akan mau melihat orang yang
sudah mengecewakannya kembali hadir pada hari paling bersejarahnya bersama pria
lain yang dicintainya. Seorang pria yang akan menemani tidur malamnya, yang
akan memeluk erat lingkar pinggangnya, yang akan setia di samping saat ia
mengerang kesakitan di keheningan malam, atau mungkin nanti ketika harus
mencari makanan yang diinginkan saat sedang mengandung anak pertamanya.
Aku akan pergi. Kembali menyembunyikan diri dalam keheningan malam
atau di pelataran belantara. Menghitung hari menunggu saat-saat paling tidak
menyejukkan saat di bumi hanguskan rasa kasihan. Ah, aku tidak membutuhkan rasa
belasungkawa.
Oh iya, jika dirimu sempat membaca tulisan ini, aku mau katakan
bahwa; kalau dirimu ingin berbagi cerita tentang suamimu nanti, telinga ini
akan selalu setia menemani. Mendengar keluh kesahmu tetap saja indah bagiku. Tapi,
mungkin aku hanya akan memberikanmu tisu untuk menyapu air mata, atau teh
hangat sebagai solusi pelepas penat. Tidak lebih. Karena, buku-buku agama yang
engkau sarankan padaku untuk membacanya, masih aku ingat. Aku akan menjaganya
sebagai acuan paling normal dalam tatanan keagamaan. Aku juga masih membuka dan
membacanya sekadar mengingat siapa pemiliknya. Maafkan aku yang tidak pernah
menjadi apa yang kamu mau.
Jujur saja, namamu masih sering aku perhatikan dalam ponselku. Mengelus-elus
layarnya, siapa tahu kamu tiba-tiba muncul ibarat jin yang ada di dalam teko. Aneh
saja, tapi aku bahagia kok. Sesederhana itu mengenangmu. Tapi karena sekarang
kita sudah tidak bersama, aku jadi makin banyak tahu tempat indah di Garut. Mungkin
aku akan selalu seperti itu. Mencari kedamaian baru setelah membereskan yang
lama.
Aku akan kembali melangkah. Mengikat tali sepatu sekencang mungkin,
kemudian melesat tak terhingga menggapai mimpi-mimpi baru yang sempat usang
oleh indahnya hadirmu.
Terima kasih untuk dua bulan ini. Aku semakin tidak kaku pada
setiap orang yang kujumpai, dan kamu semakin tahu siapa yang akan menjadi
pemilik hatimu. Melangkahlah. Hati kita, layak untuk dicintai.
Garut, 3 Agustus 2017.
*ditulis sambil mendengarkan ceramah Papah Dedeh

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)