2 Aug 2017

AS A SIMPLE THAT



Jika saat ini dirimu sedang menscroll naik-turun feed instagram untuk sekadar menepis rasa bosan setelah lelah dengan setumpuk tugas kuliah atau tuntutan pekerjaan yang perlu diselesaikan, cobalah menatap ke luar jendela. Mengamati sinar mentari yang mulai naik menelusuri pagi, riang dan gelak tawa anak kecil yang bermain di pekarangan rumah, atau seragam merah putih anak-anak yang berjalan menuju sekolah masing-masing. Mulailah mengingat-ingat masa kecil yang hampir tidak ada beban menjalani hidup. Entah harus punya uang atau tidak, menyelesaikan pekerjaan rumah atau tidak, membereskan masalah pribadi atau tidak, tetap saja tertawa riang. Sesederhana itu.

Kadangkala kembali menjadi anak kecil adalah impian yang paling tidak masuk akal. Seiring dengan itu, kita juga terkadang merindukan piknik atau sekadar jalan-jalan di waktu sore. Foto-foto dengan gaya yang hampir selalu sama, lalu semuanya di unggah, menanti ratusan simbol jempol atau hati dan puluhan komentar memuji. Sesederhana itu. Lalu kita mulai sadar bahwa itu semua hanyalah kenangan yang mungkin saja nanti terulang kembali.

Kini, kita sudah beranjak dewasa. Khayalan akan masa kecil seakan menjadi mimpi paling indah jika sudah disergah belasan masalah yang datang silih berganti dan berharap pelangi hadir di ujung badai. Berharap datang seorang superhero kemudian menuntaskan sebuah masalah. Kamu seperti itu? Sama! Padahal jika dipikir baik-baik, terkadang masalah adalah proses pendewasaan paling tak kasat mata. Karena seringkali kita menganggap bahwa masalah adalah beban berat di pundak yang jika saja ditarik benang merahnya, semuanya adalah proses pendewasaan. Maka dari itu, mulailah menjadi seorang yang siap menjadi dewasa. Entah jika esok lusa kita salah dalam mengambil keputusan yang berujung penyesalan, toh kita belajar menjadi sosok yang lebih bijak. Belajar menjadi orang dengan makin banyak pengalaman setelah dirundung masalah.

Tidak terlepas dari masalah cinta dan air mata. Meskipun sebenarnya terlihat alay jika sudah bicara soal cinta-cintaan. Ya, seperti itulah. Ketika kita sudah belajar menjadi sosok paling tangguh untuk melepaskan kepergian seseorang untuk menjalin bahagia dengan orang lain. Rela kah? Mungkin butuh waktu. Berangsur-angsur membawa segala rutinitas kita sebagai pelepas luka, penghilang rasa dan penumpul setia yang sudah dimakan masa. Merangkum segala nostalgia menjadi rujukan paling indah untuk membuka halaman baru pada kehidupan yang terus berjalan. Ya, sesederhana itu.

Kemudian rasa menyesal mulai menghantui. “Kenapa saya terlalu cepat untuk menjadi dewasa?” “Kenapa saya tidak selamanya menjadi anak-anak saja?” Tertawalah. Karena dulu saat kita kecil pun demikian. Berharap cepat tumbuh dewasa agar merasakan yang orang lain lakukan. Secara tidak langsung, kita sudah tidak mensyukuri proses pertumbuhan yang merupakan sebuah karunia dari Tuhan. Terima saja. Ini adalah jalan hidup. Lagipula, semuanya akan sampai pada titik jenuh dan ingin memulainya kembali dari awal. Selalu seperti itu. Jadi intinya, apapun yang dijalankan hari ini, nikmati sebagai proses paling menyenangkan dalam tatanan kehidupan.

Belajarlah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Minimal kita rela berbagi senyum dan canda tawa. Minimal, tiap orang yag dekat dengan kita tidak merasa benci atau illfeel. Setidaknya, kehadiran kita tidak menjadi harapan paling tidak mengenakkan bagi orang lain. Sesederhana itu. Lalu, mulailah menjadi orang yang tiap harinya menjadi lebih baik. Menjadi lebih bijak. Menjadi lebih menawan. Karena hidup bukan hanya soal memetik bintang atau menuding bulan agar disanjung semesta alam.

Sekarang, kembalilah pada pekerjaan. Jadikan proses pendewasaan, bukan pemaksaan apalagi merasa menjadi hamba karena kewalahan. Cukuplah dia yang kamu jadikan penikmat rasa paling lara. Tidak perlu ditelan dalam-dalam hingga kamu sendiri tidak bisa membedakan antara racun sementara dan arti hidup yang sesungguhnya.

Sejujurnya, saya sendiri bingung, apa point dari tulisan ini. Tapi yang pasti, melangkahlah. Karena hati kita, layak untuk dicintai.

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)