Jika
saat ini dirimu sedang menscroll naik-turun feed instagram untuk sekadar
menepis rasa bosan setelah lelah dengan setumpuk tugas kuliah atau tuntutan
pekerjaan yang perlu diselesaikan, cobalah menatap ke luar jendela. Mengamati sinar
mentari yang mulai naik menelusuri pagi, riang dan gelak tawa anak kecil yang
bermain di pekarangan rumah, atau seragam merah putih anak-anak yang berjalan
menuju sekolah masing-masing. Mulailah mengingat-ingat masa kecil yang hampir
tidak ada beban menjalani hidup. Entah harus punya uang atau tidak, menyelesaikan
pekerjaan rumah atau tidak, membereskan masalah pribadi atau tidak, tetap saja
tertawa riang. Sesederhana itu.
Kadangkala kembali menjadi anak kecil adalah impian yang paling tidak masuk akal. Seiring dengan itu, kita juga terkadang merindukan piknik atau sekadar jalan-jalan di waktu sore. Foto-foto dengan gaya yang hampir selalu sama, lalu semuanya di unggah, menanti ratusan simbol jempol atau hati dan puluhan komentar memuji. Sesederhana itu. Lalu kita mulai sadar bahwa itu semua hanyalah kenangan yang mungkin saja nanti terulang kembali.
Kadangkala kembali menjadi anak kecil adalah impian yang paling tidak masuk akal. Seiring dengan itu, kita juga terkadang merindukan piknik atau sekadar jalan-jalan di waktu sore. Foto-foto dengan gaya yang hampir selalu sama, lalu semuanya di unggah, menanti ratusan simbol jempol atau hati dan puluhan komentar memuji. Sesederhana itu. Lalu kita mulai sadar bahwa itu semua hanyalah kenangan yang mungkin saja nanti terulang kembali.
Kini,
kita sudah beranjak dewasa. Khayalan akan masa kecil seakan menjadi mimpi
paling indah jika sudah disergah belasan masalah yang datang silih berganti dan
berharap pelangi hadir di ujung badai. Berharap datang seorang superhero
kemudian menuntaskan sebuah masalah. Kamu seperti itu? Sama! Padahal jika
dipikir baik-baik, terkadang masalah adalah proses pendewasaan paling tak kasat
mata. Karena seringkali kita menganggap bahwa masalah adalah beban berat di
pundak yang jika saja ditarik benang merahnya, semuanya adalah proses
pendewasaan. Maka dari itu, mulailah menjadi seorang yang siap menjadi dewasa. Entah
jika esok lusa kita salah dalam mengambil keputusan yang berujung penyesalan,
toh kita belajar menjadi sosok yang lebih bijak. Belajar menjadi orang dengan
makin banyak pengalaman setelah dirundung masalah.
Tidak
terlepas dari masalah cinta dan air mata. Meskipun sebenarnya terlihat alay
jika sudah bicara soal cinta-cintaan. Ya, seperti itulah. Ketika kita sudah
belajar menjadi sosok paling tangguh untuk melepaskan kepergian seseorang untuk
menjalin bahagia dengan orang lain. Rela kah? Mungkin butuh waktu. Berangsur-angsur
membawa segala rutinitas kita sebagai pelepas luka, penghilang rasa dan
penumpul setia yang sudah dimakan masa. Merangkum segala nostalgia menjadi rujukan
paling indah untuk membuka halaman baru pada kehidupan yang terus berjalan. Ya,
sesederhana itu.
Kemudian
rasa menyesal mulai menghantui. “Kenapa saya terlalu cepat untuk menjadi
dewasa?” “Kenapa saya tidak selamanya menjadi anak-anak saja?” Tertawalah.
Karena dulu saat kita kecil pun demikian. Berharap cepat tumbuh dewasa agar
merasakan yang orang lain lakukan. Secara tidak langsung, kita sudah tidak
mensyukuri proses pertumbuhan yang merupakan sebuah karunia dari Tuhan. Terima saja.
Ini adalah jalan hidup. Lagipula, semuanya akan sampai pada titik jenuh dan
ingin memulainya kembali dari awal. Selalu seperti itu. Jadi intinya, apapun
yang dijalankan hari ini, nikmati sebagai proses paling menyenangkan dalam
tatanan kehidupan.
Belajarlah
menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Minimal kita rela berbagi senyum
dan canda tawa. Minimal, tiap orang yag dekat dengan kita tidak merasa benci
atau illfeel. Setidaknya, kehadiran kita tidak menjadi harapan paling tidak mengenakkan
bagi orang lain. Sesederhana itu. Lalu, mulailah menjadi orang yang tiap
harinya menjadi lebih baik. Menjadi lebih bijak. Menjadi lebih menawan. Karena hidup
bukan hanya soal memetik bintang atau menuding bulan agar disanjung semesta
alam.
Sekarang,
kembalilah pada pekerjaan. Jadikan proses pendewasaan, bukan pemaksaan apalagi
merasa menjadi hamba karena kewalahan. Cukuplah dia yang kamu jadikan penikmat
rasa paling lara. Tidak perlu ditelan dalam-dalam hingga kamu sendiri tidak
bisa membedakan antara racun sementara dan arti hidup yang sesungguhnya.
Sejujurnya,
saya sendiri bingung, apa point dari tulisan ini. Tapi yang pasti,
melangkahlah. Karena hati kita, layak untuk dicintai.

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)