Hahaha! Hahaha hahaha. Aduh aduh. Maaf. Ehem! Fokus. Ahahaha gila! gila! Aduh harus fokus nih! 😂😂
Cerita malam ini akan sedikit tidak penting. Sisanya penting sekali. Kurang tau juga. Tapi ya moga saja begitu.
Jadi begini, malam ini saya menelepon Minu dan tiba-tiba dia bercerita soal masa lalu yang sebenarnya dia sembunyikan dengan rapi. Mungkin karena satu atau lain hal tapi malam ini, dengan ucapan bismillah, ia bercerita perihal salah satu orang spesial dalam hatinya. Orang yang tiba-tiba datang tanpa proklamasi cinta seperti yang dilakukan Dilan, tiba-tiba mereka menemukan keselarasan masing-masing. Bercanda, tawa, saling mengejek dan bercerita banyak hal. Astaga. Setahun yang menyenangkan.
Sisanya? Mereka kembali pada tujuan awal pacaran:
1. Melanjutkan diri menuju pelaminan.
2. Berhenti dipersimpangan lalu membuyar pada ego masing-masing.
Dan mereka atau mungkin Minu saja, memilih jalan yang ke-2. Mereka bertabrakan dan berakhir kiamat.
(Hm... ternyata ada yang lebih tega dari saya) 😎
Gerutu Minu malam ini lebih ke arah penyadaran bahwa dirinya berusaha menjadi pahlawan untuk orang yang sebenarnya tidak peduli akan usahanya. Karena sadar ataupun tidak, pahlawan juga punya hati, miliki rasa lelah dan usaha yang juga terbatas. Mungkin Minu menyesal telah berkorban banyak. Itulah cinta. Hahaha!
Dengar ya Minu Istiqomah Mawaddah Warahmatullah, menjalani sebuah hubungan yang cukup lama memang selalu menyematkan rasa yang mendalam. Apalagi untuk seorang perempuan. Ini akan terasa perih. Diakui ataupun tidak, semua orang punya masalah. Boleh jadi di luar sana, banyak yang minum racun atau mati konyol hanya perkara cinta ini. Banyak yang tiba-tiba diambil kewarasannya oleh Tuhan atau kena serangan jantung. Jantungnya diserang, dikeroyok, dibakar dan mungkin hanya dibully.
Satu hal yang membuat saya tertawa adalah, manusia senang berandai-andai akan hari tua dengan banyak anak dan bahagia. Hal itu juga terjadi pada diri Minu dimana sudah berkomitmen panjang lebar lalu kandas. Sudahlah. Fatamorgana semuanya. (Untung saya belum pernah berjanji sehidup semati)
Tapi ya sudahlah. Lagipula, banyak hal yang belum Minu kenal, belum banyak dipelajari, sedang proses memahami. Untungnya, Minu tidak gila atau bunuh diri. Hanya kurang waras saja.
Sudahlah Minu. Berbiasalah. Berbahagialah. Saatnya nikmati senja sempurna tanpa sekat ataupun pelipur lara. Ini hanya sesaat. Sisanya, percayakan pada semesta.
Pelajaran berharganya adalah, saya tetaplah saya dengan segala perlakuan yang telah dibentuk. Mau dimaki, diusir, dicela, ataupun digunjing, saya sudah terlalu kebal untuk hal itu. Sepele. Itu yang seharusnya Minu tanamkan. Bahwa diri hanya akan musnah oleh usia bukan karena ucapan. Apalagi hanya karena sebuah usaha semu tanpa temu.
Dan dengan kesadaran penuh, saya memutuskan bahwa ini adalah akhir dari CERITA MINU(S).
Dan dengan kesadaran penuh, saya memutuskan bahwa ini adalah akhir dari CERITA MINU(S).
Berbiasalah. Berbahagialah.
Salam semesta. 😊
Salam semesta. 😊
Garut, 20 Juli 2017.

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)