Capek! Itu yang saya rasakan setelah sepekan ini membuka tabir baru dalam hidup. Belajar menjadi seorang Aziz yang baru. Belajar sebagai seorang Aziz yang penuh tawa. Belajar menjadi sosok gila yang seakan tidak punya hati. Menjadi orang baru dalam hiruk pikuk hidup yang terus melaju. Entah jika raga ini telah berpisah dari jiwanya.
Saya capek! Lelah! Tak berdaya!
Berdiam diri adalah pilihan yang paling tepat daripada harus memaksakan orang lain untuk bercengkerama. Saya hanyalah seorang yang tidak punya arah, mengikuti tiup angin kemana membawa daripada harus menunggu Minu yang sedang menghabiskan waktu entah dengan siapa.
Memang, ia sedang menuntaskan pembekalan debat stadium akhir. Tapi bagi saya ini neraka. Minu tidak tahu bahwa saya sedang disiksa rindu. (Bunuh aja gue!)
Tapi saya tersadar bahwa, terkadang kita harus berjauhan demi menghargai rindu. Terkadang kita harus berdiam untuk menikmati rasa kelam. Terkadang, rasa sepi harus dinikmati sendiri.
(Ya iyalah. Kalau berdua, jadinya gak sepi!)
Biarkan saya yang dihantui rasa sepi untuk yang ke sekian kalinya setelah hingar bingar terlampaui.
Angin. Ya, angin yang selalu menyapa menggantikan dirinya. Menenggelamkan apa saja yang terlintas dalam benak.
Asap. Ya, cukuplah asap rokokku yang mengelabui pedihnya ditinggal seorang diri.
Gelap. Biarkan gelap yang mendekap tidurku malam ini.
Tawa. Ya, biarkan saja ia terngiang dalam sunyiku.
Padahal kita sudah dewasa. Mampu mengontrol emosi meski sedang dibanting masalah pribadi. Harusnya kita sudah lebih tahu perkara hati karena sering disakiti. Pantasnya kita sudah lebih mahir mendekatkan diri setelah sekian lama menyendiri. Mampunya kita sudah bisa meluapkan nurani karena ego hanya akan menertawai.
Lucu. Kita yang sering menelan luka harus kembali mengulanginya.
Lucu. Kita yang sudah saling bahagia harus menggantinya lagi dengan duka.
Lucu. Kita yang dulu sudah serapi merencanai malah saling menyerang untuk menodai.
Saya berhenti disini. Tidak mau lagi melanjutkan. Lelahku berujung. Biarkan aku padamu hanya cerita. Biarkan kamu padaku dan masa silam hanyalah jenaka.
Hingga akhirnya, saya membuka mata dan semua cerita berujung oleh elok senja di ufuk barat. Saya hanya mengigau tadi. Terlihat Minu sudah menanti di ujung duka. Hebat sekali dirinya. Mau berbagi waktu saat sedang ditekan gelisah.
Cukuplah. Mari kita berganti kapal. Kembali berlayar hingga menembus badai yang menerjang dan kita masing-masing tertawa riang dalam pelukan.
Minuuuu... I'm comiiing...
Garut, 18 Juli 2017.
*ditulis sambil mendengarkan lagu Fiersa Besari-Rumah.

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)