Perihal mengenai rindu selalu diutarakan secara gamblang dari diriku padamu. Menertawakan urutan cerita yang terpisah dan berguguran bak daun di musim kemarau. Kita berlari kecil saling mengejar, tersenyum manja, membelai rambut indah lalu tersipu malu akan tatapan yang saling berdekatan.
Perihal indah juga sering memuai pada sumbu hati yang tersentuh jemari. Kadangkala kita berjauhan agar mampu merangkai rindu. Menerka-nerka sedang apa yang dilakukan disana. Padahal, kita sudah terlalu sering berbicara dalam jarak. Lucunya, kita masih sering menggerutu akan rindu yang makin membiru.
"Minu ku, apa kabarmu malam ini?"
Jadi katanya, ia sedang fokus untuk ikutan lomba debat tingkat nasional minggu depan. Untuk itu, saya tidak mau mengganggunya. Tapi tadi sore di ujung ponsel, dia menggerutu manja. Katanya dia gemeteran. Pesimis tingkat tinggi. Takutnya kalah atau mengecewakan kampusnya karena sudah mempercayainya sebagai salah satu peserta debat. Saya hanya tertawa. Namun dalam hati saya berpikir bahwa, inilah gambaran sosok yang bertanggung jawab. Tidak ada seharipun ia lewatkan untuk fokus pada materi lomba, tiap pagi berhadapan dengan dosen pembimbing, ngobrol paling serius dengan tim debatnya, lalu malamnya juga harus mendengarkan cerita tidak penting saya berjam-jam. Serius, itu diluar kemampuan saya. Ia adalah perempuan hebat. Hanya saja, ini permulaan ia mengikuti lomba debat tingkat nasional, dihadiri oleh 72 kampus mentereng se-Indonesia.
"Ada ucapan terakhir sebelum menutup telepon?" Katanya.
Saya mengatakan bahwa, jadilah dirimu sendiri. Fokuslah pada ucapan lawan. Jadilah penakluk yang cerdik karena, debat bukan ditunjang oleh materi dan referensi ilmiah, tetapi juga kejelian membaca ekspresi lawan, gerak langkah, tiap lontaran kata dan tiap lempar jumrah.
*yang terakhir bukan termasuk.
Lalu ia minta saya mendoakannya. Semoga saja ia menang. Karena kalau akan kalah, mending lomba debatnya diundur. Kalau ia sudah pasti menang, baru lombanya dimulai.
Doa itu membuatnya tertawa di ujung telepon. Saya akui saja bahwa tidak bisa membuatnya bahagia dengan hal luar biasa. Jadi, yang sederhana saja ya Minu.
Tidak ada yang lucu disini. Saya juga ikut beban. Ini saja saya sedang bertapa dalam goa. Membaca mantra agar lawan debatnya sakit perut sebelum bertanding. Hahaha!
Sudahlah. Ini tidak penting.
Tapi saya yakin kamu masih mau membacanya. Hehe.
Dia adalah Minu ku tahun 2012-2084 SM.
Garut, 17 Juli 2017
*ditulis disela-sela mengerjakan skripsweet.

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)