Hampir seminggu sudah kita bernostalgia untuk bercerita banyak rasa. Jatuh, bangun, tawa, duka, senyum, lara, hingga merebah dan tak tentu arah. Segalanya kita bagikan. Merangkai kepingan masa silam hingga tertelan angin malam bahkan pagi menjelang.
Rasanya, hari ini tidak sepilu dulu. Sejak kita tertabrak dan berhamburan di ujung jalan, kita masing-masing melangkah. Bergerak menjauh dan tak mau menoleh ke belakang. Menyisakan butiran air hujan yang seakan menghanyutkan kisah kita pada tiap-tiap rasa.
Hari itu, semuanya menghitam.
Kelam.
Berselimut dendam.
Kita makin menjauh. Menyusuri jalan baru berharap menemukan kisah indah setelah badai menerpa.
Kadangkala bayangmu terlintas. Sering aku menepisnya. Hanya saja, ia seakan berkuasa. Menjajah tiap urat saraf dalam otak. Teganya, itu terjadi hampir tiap gelap tiba hingga tibanya mentari.
Tapi itu sudah berlalu. Kini aku berdiri. Kembali menyapa rasa sayang dan bernaungan diantara bintang.
Indahnya berbeda.
Ada rasa baru yang berseru tiap malam dalam tawamu. Kita bercumbu rayu. Meski kita masih sering malu-malu.
Tetaplah begitu. Tawamu, bahagiaku.
Dia adalah Minu ku tahun 2012.
Dia adalah Minu ku tahun 2012.
Garut, 16 Juli 2017.
*Ditulis saat malam menyelimuti sepi

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)