15 Jul 2017

CERITA MINU(S) PART 1

Beberapa hari ini, whatsapp saya dipenuhi candaan, tawa, sedih, bahagia dan gerutunya Minu. Entah kenapa, saya juga semangat-semangat saja menerima dan membalas chatingan ini dengan penuh bahagia. Jujur saja, ini petualangan baru dengan salah satu spesies manusia yang hampir punah. Unik memang. Minu memang anak unik. Eh, anak mama deh. Tapi unik, jadi gimana nih? Ah sudahlah.

Melalui hari-hari dengan rasa dan warna yang baru memang selalu membuat hal ini menjadi lebih indah, heboh dan sensasinya beda. Ibaratkan nonton acara gossip di televisi, ini memang lebih menghebohkan.

“HEBOH!!! Seorang pria setengah dewasa sedang bahagia bukan kepalang akibat ulah perempuan setengah tua!”

Kamu tahu? Salah satu alasan paling mendasar kenapa manusia itu bahagia adalah ketika dia menemukan orang yang lebih cocok saat diajak ngobrol, pas saat di ajak curhat, sehat saat diajak begadang dan semuanya, ada pada Minu. Penggila kopi sachet, pemain futsal abal-abal, motivator tidak teratur dan pejuang beasiswa paling tidak berdaya. Tapi saya bahagia saja. Toh, dia punya kekurangan dan saya bertugas melengkapinya. Bukankah itu sangat bijak? Pastinya.

Katanya, “Saya ini high quality! Saya tertawa saja mendengarnya. Gadis macam apa yang menyombongkan diri di depan pria? Ya dia saja. Katanya, itu percaya diri. Baiklah…

Malam ini juga sama. Katanya mau tidur sejak jam 21.03, tapi sampai jam 00.40 WIB, dia belum juga tidur. Kenapa? Dia merindukanku. Haha!

Bukan bukan! Dia insomnia katanya.

Pamit tidurnya juga sudah hampir sepuluh kali, tapi kemudian, hanya jeda lima menit dia membalas lagi chat dari saya. Selalu seperti itu. Hingga harus mengirimkan dulu foto, gambar hantu, video jump scare atau apapun itu bentuknya yang penting dia ketawa. Bahagia mengerjai saya. Dan saya? Juga bahagia mengerjainya. Kami memang saling mengerjai. Ibarat membangun sebuah rumah, saya mandor, dia kulinya. Eh, kebalik. Dia kuli, saya mandornya.

Kamu tahu? Kami juga membentuk Scholarship Hunter. Semacam paguyuban atau komunitas pemburu beasiswa. Dan kerjaannya? Cerita soal hantu.

Berguna? Iya. Berfaedah? Gak banget! Tapi itulah. Sering bercerita hal-hal yang tidak penting. Paling tidak, kami mulai kembali akrab. Bodo amat kalau tidak ada hubungannya dengan beasiswa. Yang penting, kami bahagia. Buktinya, ketawa ketiwi terus. Susah tidur juga.

Rindu? Pasti!

Hingga pada akhirnya, kami juga sering berhenti tertawa. Memikirkan kembali kejadian yang pernah dilalui dan kembali meledek satu sama lain. Merasa paling benar sendiri, dan posisi saya? Sebagai orang paling berdosa. Mr. Right, Mrs. Always right!

Saya tidak pernah mempermasalahkan apa yang Minu lakukan. Hanya saja, yang membuat saya kesal ketika sudah mulai menyebut-nyebut nama mantan. Bukan apa-apa, ini sedang proses melepaskan sauh dari pelabuhan yang sudah terancam hancur oleh ombak dan badai paling memilukan yang sesungguhnya. Masa dia tidak peka? Ah!

Dia juga mulai menyematkan nama baru untuk dirinya sendiri; Bintang, Bintang Timur, Ikan Timur, bahkan Patrick. Aneh saja dia selabil ini hanya untuk gonta-ganti nama panggilan.

Tapi percuma saja. Itu hanya memanjangkan cerita. Saya menghargainya namun, dia tetap Minu. Bagiku, dia tetap Minu ku tahun 2012.

Bersambung…

Eh, ganti. To be Continued…

Salam semesta.

Garut, 15 Juli 2017
Mas

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)