13 Jul 2017

MINU(S)

Beberapa orang yang seringkali hadir dalam hidup khususnya yang istimewa adalah orang-orang yang memang ditabrakan kepada dua planet yang berbeda. Katakan saja planet mars dan venus. Untuk beberapa orang, mars adalah simbol yang tepat untuk laki-laki dan venus adalah simbol yang tepat untuk perempuan. Anggap saja ini benar bagaimana semua orang bebas berandai-andai pada titik tumpu yang sama. Angan.

Tidak jauh berbeda dengan saya yang juga selalu ditemani oleh beberapa orang yang katanya istimewa. Sebut saja pacar. Ibaratkan mars, saya sering menabrakan diri pada venus. Mengenali beberapa orang yang kemudian menjadi teman hati. Bercerita banyak hal, hingga rencana paling tak kasat mata. Sampai berulang kali terjadi tabrakan (jadian) lalu kemudian berakhir dengan kiamat (putus). Biasanya selalu punya dua pilihan dalam mengakhiri. Menjadi teman kembali seperti sedia kala, atau menjadi pendamping hati dalam bahtera rumah tangga. Semuanya kembali pada mars dan venus. Terserah.

Malam ini akan saya ceritakan sedikit tentang orang yang pernah bertabrakan dengan saya yang terjadi lima tahun yang lalu. baca: nostalgia.

M-I-N-U
Ya, itu nama panggilan kesayanganku padanya saat itu. Setelah bertukar nomer ponsel secara tidak sengaja, kami sudah sering sms-an. Seperti orang-orang pada umumnya, kami sms-an seadanya. Beberapa kali biasanya teleponan. Pernah sekali saya kerumahnya. Modus paling nekad menurut saya, yang penting bisa ketemu Minu. Hal indah lainnya adalah kami pernah berjalan kaki berdua di malam hari dibawah sebuah payung. Celana yang digulung sampai lutut adalah saksi paling nyata. Tetapi, hanya berjangka 1 bulan 15 hari, kami mengalami guncangan hebat dan akhirnya kiamat. Kami pisah.

(cerita lengkapnya akan dibahas di posting selanjutnya).

Saat ini, setelah lima tahun berlalu, kami mulai berkomunikasi lagi.
Bermula dari saling menyukai postingan di instagram, saya memberanikan diri untuk nge-DM dia. Seperti biasa, hal basa-basi saya lakukan. Menanyakan kabar, sedang sibuk apa, sedang dimana, atau pertanyaan2 yang lebih klise. "Kamu sudah makan belum?" "Lagi ngapain?" "Kenapa belum tidur?" dan beberapa pertanyaan penunjang lainnya yang penting chatingan ini bertahan lama. Sayangnya, jawabannya singkat, padat.
Saya memang bukan mantan yang baik. (Mantan mana yang baik).

Lalu, semuanya berubah saat negara api menyerang.

Bukan!

Semuanya berubah saat kami mulai membahas tentang beasiswa S.2 ke luar negeri. Semangatnya meningkat, antusiasnya memuncak. Mungkin dia juga sudah berkeringat hebat. Saya tidak tahu. Tapi yang pasti, ini yang menjadi babak baru dalam komunikasi kami yang sempat tersekat lima tahun lalu.

Tapi anehnya, dia sudah tidak terlihat sedih pasca guncangan hebat waktu itu. Mungkin karena sudah lama, atau juga mungkin dia amnesia. Tidak. Dia masih sangat ingat. Hanya saja pola pikirnya berubah. Sudah tidak ada lagi kebencian disana. Saya mensyukuri itu. Jujur saja, saya merindukan venus yang saat itu sedang indah-indahnya. Saya merindukannya.

Entah kenapa, kami saat ini (meski baru dua hari) sudah saling akrab satu sama lain. Sudah mulai berbagi cerita yang terjadi lima tahun lalu tanpa beban. Tertawa dalam telepon hingga larut malam, kemudian besok paginya dia atau aku akan menyapa duluan. Mengucapkan selamat pagi. Indah ya? Ya iyalah!

Lalu kenapa judul postingan ini MINU(S)? Selain nama kesayanganku padanya adalah Minu, matanya juga rabun. Jadi, dia berkacamata. Makanya biar antioksidan, eh antimainstream, saya menyebutnya Minu(s). Haha!

Astaga. Ada rasa apa ini yang muncul mengitari ruang-ruang dalam dada. Hahaha. Saya terbahagiakan sekali.

Cukup saja dulu cerita ini. Saya tidak rela jika semua bahagia ini saya dibagikan. Saya memang pelit untuk urusan ini.

Dia adalah Minuku tahun 2012. (Kok kayak Dilan?) 😂😂😂

Garut, 13 Juli 2017
Mas.
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)