4 Jul 2017

DIARY NINGSIH

Denganmu aku tidak pernah menuntut lebih. Rumah sederhana, sepeda tua, kandang ayam, atap yang bocor, kasur yang peot atau nuansa pagi yang tidak sejuk seperti di kampung. Aku tidak menuntut. Padahal jika dipikir-pikir, diriku ini mahkota. Kata orang, aku perempuan paling cantik di desa ini dan direbut banyak pria. Tapi mereka hidung belang. Banyak yang sudah beristri. Enak saja mau padaku yang masih gadis. Tiap pagi, biasanya aku mandi di kali. Ditemani tumpukan baju kotor. Aku mencucinya. Kalau senja tiba, aku biasanya sudah di surau. Menunggu adzan dikumandangkan dengan mengaji.

Kamu ingat saat kita berpapasan? Saat itu, angin cukup menyapa dingin. Semilirnya menyibakkan sedikit mukena yang ku pakai. Bergerak-gerak melawan dinginnya malam menuju surau. Kamu terlihat gagah dengan peci hitam itu. Sarungmu juga bergerak mengikuti arah angin membawa. Kau menyapaku dengan salam lembutmu. Aku hanya menunduk sambil menjawabnya. Kamu tahu? Senyumku tiada henti selama menuju surau. Jantungku juga mendadak berdegup lebih kencang. Tidak seperti biasanya. Ya Allah, apakah hambaMu jatuh cinta? Indah sekali.

Besoknya entah kenapa kita sudah sering bertemu. Percaya padaku, ini titah Tuhan agar kita saling bertegur sapa. Tapi aku belum tahu namamu. Apa aku harus bertanya lebih dulu? Malu ah. Aku kan perempuan. Enak saja aku mau menyapa. Kamu masih saja diam? Atau tidak paham? Tega sekali hanya memberikan senyum manis, tapi namamu tidak. Aku Ningsih. Masih tidak dengar juga? Aku Ningsih.

Dasar lelaki tidak peka! Ini sudah hampir sebulan kita sering bertemu di surau, pengajian, madrasah diniyah, bahkan pasar. Aku tetap tidak mengenalmu lebih jauh. Jika kamu tahu, aku mulai menyukaimu. Kamu sering mengajak anak-anak belajar membaca di bawah pohoh pisang. Kamu juga sering menjadi ustad dadakan jika ada pengajian yang sering ditunda mendadak akibat pembicaranya tidak bisa hadir. Sering aku tersenyum dengan guyonanmu. Bahkan kalau kamu tahu, kemarin aku memimpikan dirimu. Hehehe. Perempuan macam apa aku. Biarkan saja. Kan mimpi itu bunga tidur. Tapi kamu jangan jadi bunga. Jadi kumbang saja. Aku kembangnya. Sini dekati aku, bukan sebaliknya. Dasar lelaki tidak peka!

Biasanya setelah sholat tahajud, aku suka iseng menggambar wajahmu dengan pensil, lalu di dadamu aku menuliskan namaku dan ditengahnya ada gambar hati. Tapi tetap tidak ku ketahui namamu. Aku kasih tahu ya, kalau kamu mau kerumah dan meminangku, aku siap. Kapan saja, Ningsih ini sudah siap dengan pinanganmu.

Tapi tiba-tiba kamu menghilang. Kata Ayah, kamu sudah kembali ke kota. Mengurusi sekolah dan pesantren yang baru rampung. Aku makin takjub padamu. Lelaki yang bertanggung jawab. Pasti kamu juga cerdas. Jika aku boleh jujur, aku sudah cinta padamu. Entah sejak kapan. Tapi aku sudah mulai rindu padamu. Apakah aku salah? Aku kenapa merasa hampa ya? Padahal kita bertemu baru sebulan. Aku jatuh cinta padamu. Datang saja ke rumahku. Aku tidak menuntut lebih padamu. Tidak harus rumah mewah dan perhiasan segudang. Cukuplah menghidupiku dengan sederhana. Asal penuh cinta.

Garut, 4 Juli 2017
Ningsih Mahardika


-Aziz Timur-

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)