3 Jul 2017

Ada Cerita Di Kedai Kopi Ini

Alunan gitar yang berpadu malam ini seakan merayuku agar tidak terus ditemani kelabu. Berusaha melerai diriku agar tidak terus dirundung pilu.
Kopi hitam yang mengepul masih saja ku tatap penuh sendu. Ia seakan menyapaku dalam endapan yang lambat laun kian menyiksaku.

Meja-meja bundar yang dipenuhi pengunjung seakan menertawakan kehadiranku.
Terduduk di salah satu sudut kedai kopi seharusnya tidak se-nista ini. Mengikuti langkah kaki kemana harus diamini.

Lalu aku mulai mereguk pahitnya kopi yang ditaburi kenangan akan indah dirimu. Kepalaku juga mendadak dipenuhi untaian kata indahmu, atau gaya manja nan lugu yang sering kau tempelkan pada bahuku.

Kedai ini memang membungkus kenangan kita yang lalu. Terbius oleh jiwa yang berpadu dalam asmara sebulan lalu. Ada namaku dan namamu diantara bentuk hati yang kau tulis di meja bundar ini. "Aku gak sengajaaa... aku suka aja" katamu sambil tersipu malu.
Seakan menambah lara akan sederhananya cinta ini.
Kureguk lagi pahitnya kenangan ini.

Gitar yang sedari tadi mengalunkan melodi manis mendadak sunyi.
Meja-meja bundar juga ikut terbungkam.
Aku memaksakan diri menghibur lirih. Tapi yang kudapati hanya mati terjatuh dalam lingkaran indah ini.

Aku mengingat satu hal. Kau memang tidak pantas untuk dicintai. Bahkan hanya sekadar mengagumi pun aku tak mampu.

Berbahagialah. Bersahajalah.
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)