Untuk yang sedang menanti namun tak kunjung dihampiri. Mungkin kau sedang dihadapi segudang emosi setelah lebaran dilalui, tapi dia tak kunjung menjumpai. Sedangkan pertanyaan2 tidak penting saat bertemu keluarga sudah mampu kau lewati. "Pasanganmu mana? Kapan menikah? Kapan punya keluarga? Kuliahmu selesai kan? Si dia apa kabar?" Kau hebat, sudah mampu menepisnya dengan jawaban paling meneduhkan.
Cukup! Cukup dirimu saja yang tahu. Jangan sampai tanganmu membuka media dengan cara paling memilukan. Kau tidak akan siap dijejali dengan segala pose indah dirinya dengan yang lain. Telapak tangan yang sering menyentuh punggungnya kini juga layu dan berdebu. Semakin kau menatapnya, maka rentetan memori lama semakin membentang. Sejenak kau melamun. Menyesali segala perdebatan yang dulu sering kau egokan. Merasa diri paling benar dengan gaya paling sok jagoan.
Sempat dirimu mulai menggali kisah yang baru, tapi kau juga tertahan rasa rindu yang kian merundung. Lalu kau semakin merasa terpukul. Sering kau menutupinya menuju keramaian. Sejenak menutup rasa hampa di dada yang kian menggila. Ah, kau tidak akan bisa!
Sudahlah. Menyimpan rasa bersalah diam-diam hanya akan membuatmu jengah. Pergilah. Nanti juga akan kau temui pelita baru di singgasana. Lalu kau mulai merasa hari-harimu kembali baru.
Tapi ingat! Cukup dia yang menyengat. Tidak perlu kau mengutuk sakitnya ditindas. Lagipula, ada Tuhan yang bisa kau curhat.
Memang. Menanti tak sedekat bumi pada telapak kaki.
Tersenyumlah. Terbiasalah.
3 Jul 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)