1 Jul 2017

Untuk Bulan Juli



Sering aku merasa konyol dengan hal-hal yang pernah kita lalui. Makan bakso, cari es cendol, bikin rujak asem, sesederhana itu. Masih sering kudengar rekaman canda tawamu tiap kali kita komunikasi via selular. Melalui malam-malam penuh bintang, disaksikan banyak purnama yang datang silih berganti. Kadang engkau mulai menelepon membahas hal-hal yang tidak penting. Aku rasa itu hanya rasa rindu yang engkau selimuti dengan seribu alasan seorang wanita. Aku tersenyum saja. Aku tahu dirimu malu mengungkapkannya secara langsung. Aku juga tahu sebenarnya engkau juga rindu akan hadirku. Bukannya aku merasa GR, tapi itu sering terjadi. Kulalui saja. Lagipula, memang indah untuk didengarkan, indah pula untuk dirasakan. Kita juga sering beradu argumen, mempertahankan ego masing-masing tentang banyak hal yang juga tidak penting. Tapi itulah dirimu. Sering membuatku tiba-tiba tertawa puas, atau cemberut datang menyiksa. Sering pula dirimu tiba-tiba datang menyapaku dalam mimpi. Ah, kau tidak akan percaya denganku. Kau sering menyebutnya modus. Biarkan saja. Toh kamu wanita yang tidak percaya begitu saja. Makanya aku sering bersumpah. Lalu sejenak kau diam, dan mengulanginya lagi “Ah, modus. Mana buktinya?” Selalu seperti itu.

Aku memang sering menjawabnya dengan tertawa. Menutupi segala yang kau tuduhkan. Aku hanya seorang pria, bukan agen rahasia yang punya seberkas bukti akan tanda cinta. Sering orang bilang bahwa cinta adalah kata kerja. Tidak hanya melalui kata indah, namun perlu dibuktikan dengan nyata. Entahlah. Aku juga bukan pujangga yang sering menyematkan tiap syair indah saat kau terlelap. Kau juga sudah sering berkata, “Gak tau sih yah. Aku nyaman aja sama kamu.” Sesederhana itu. Itu yang membuatku makin tidak percaya teori gravitasi. Aku melayang. Seenaknya saja dirimu membuatku terbang. Takjub!

Kau ingat saat hujan-hujan kita berlari, kemuudian menepi pada salah satu warung makan di sisi jalan? Jujur saja, waktu itu aku masuk angin. Dingin. Tapi saat melihatmu, aku jadi merasa direndam air panas. Hangat. Nyaman. Padahal kau hanya diam menatapku. Menunggu hujan reda dengan wajah yang cemberut. Aku hanya tersenyum. Lalu kau tiba-tiba berbalik arah, membelakangi aku seakan-akan menunjukkan bahwa kau sedang kesal. Tapi kan wajahmu merona. “Kau sedang kesal atau senang?” Ah, kau tidak akan pernah jujur sesering itu. Mahal untuk jujur pada seorang pria yang bukan pasangan halal katamu. Ku abaikan saja. Jika mencintaimu adalah dosa, biarkan pula aku menuntut pada Tuhan kenapa hati diciptakan, menganugerahi rasa dan dengan mudah membuat jantung ini berdebar. Indahnya dosa ini.

Tapi itu dulu. Memasuki bulan yang baru, entah kenapa tiba-tiba engkau ragu padaku. Ada sosok lain yang sengaja ditawarkan padamu. Katanya lebih siap dibanding aku. Entahlah. Aku hanya jarang bercerita tentang usaha dan doa yang sering kupanjatkan atas namamu. Aku hanya ingin memberimu kejutan diakhir cerita kita nantinya. Tapi, aku juga tidak pandai membagi waktu hingga kau merasa tidak diistimewakan lagi. Ku akui saja, ini hanya sesaat. Kau hanya perlu bertahan sedikit untuk kemudian kita melesat menuju akad. Oh Tuhan, skenario apalagi ini. Sudahlah Tuhan, aku sudah muak dengan permainanMu. Aku sudah berlabuh padanya. Atau, dia sudah berlabuh pada yang lain? Biarkan saja, aku akan tetap dengan perasaan ini. Mencintaimu adalah urusanku. Kalau kau sudah tidak cinta padaku, itu urusanmu.

Hingga akhirnya, kita sama-sama terdiam. Saling menunggu kepastian. Aku padamu, dan kau padanya. Lucu yah. Kita yang sering menghabiskan waktu bersama, belum tentu akan berbagi rasa selamanya. Tapi sudahlah. Tidak perlu engkau mengutuk waktu. Aku juga tidak bisa berkutik. Barangkali, bulan Juli adalah persembahan terbaik dari Tuhan. Membuka jalan yang baru, menapaki jejak hidup yang baru, dan kenangan kita, biarkan terhapus oleh hujan. Biarkan aku menyimpannya rapat-rapat pada sudut hati yang sering kau sekat.

Terima kasih untuk waktumu padaku.
Mengisi kekosongan dengan kebahagiaan sesaat.
Aku tetap menantimu.



Garut, 01 Juli 2017
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)