Sering aku merasa konyol dengan hal-hal yang pernah kita
lalui. Makan bakso, cari es cendol, bikin rujak asem, sesederhana itu. Masih sering
kudengar rekaman canda tawamu tiap kali kita komunikasi via selular. Melalui malam-malam
penuh bintang, disaksikan banyak purnama yang datang silih berganti. Kadang engkau
mulai menelepon membahas hal-hal yang tidak penting. Aku rasa itu hanya rasa
rindu yang engkau selimuti dengan seribu alasan seorang wanita. Aku tersenyum
saja. Aku tahu dirimu malu mengungkapkannya secara langsung. Aku juga tahu
sebenarnya engkau juga rindu akan hadirku. Bukannya aku merasa GR, tapi itu
sering terjadi. Kulalui saja. Lagipula, memang indah untuk didengarkan, indah pula
untuk dirasakan. Kita juga sering beradu argumen, mempertahankan ego
masing-masing tentang banyak hal yang juga tidak penting. Tapi itulah dirimu. Sering
membuatku tiba-tiba tertawa puas, atau cemberut datang menyiksa. Sering pula
dirimu tiba-tiba datang menyapaku dalam mimpi. Ah, kau tidak akan percaya
denganku. Kau sering menyebutnya modus. Biarkan saja. Toh kamu wanita yang
tidak percaya begitu saja. Makanya aku sering bersumpah. Lalu sejenak kau diam,
dan mengulanginya lagi “Ah, modus. Mana buktinya?” Selalu seperti itu.
Aku memang sering menjawabnya dengan tertawa. Menutupi segala
yang kau tuduhkan. Aku hanya seorang pria, bukan agen rahasia yang punya
seberkas bukti akan tanda cinta. Sering orang bilang bahwa cinta adalah kata
kerja. Tidak hanya melalui kata indah, namun perlu dibuktikan dengan nyata. Entahlah.
Aku juga bukan pujangga yang sering menyematkan tiap syair indah saat kau
terlelap. Kau juga sudah sering berkata, “Gak tau sih yah. Aku nyaman aja sama
kamu.” Sesederhana itu. Itu yang membuatku makin tidak percaya teori
gravitasi. Aku melayang. Seenaknya saja dirimu membuatku terbang. Takjub!
Kau ingat saat hujan-hujan kita berlari, kemuudian menepi
pada salah satu warung makan di sisi jalan? Jujur saja, waktu itu aku masuk angin.
Dingin. Tapi saat melihatmu, aku jadi merasa direndam air panas. Hangat. Nyaman.
Padahal kau hanya diam menatapku. Menunggu hujan reda dengan wajah yang
cemberut. Aku hanya tersenyum. Lalu kau tiba-tiba berbalik arah, membelakangi
aku seakan-akan menunjukkan bahwa kau sedang kesal. Tapi kan wajahmu merona. “Kau
sedang kesal atau senang?” Ah, kau tidak akan pernah jujur sesering itu. Mahal
untuk jujur pada seorang pria yang bukan pasangan halal katamu. Ku abaikan
saja. Jika mencintaimu adalah dosa, biarkan pula aku menuntut pada Tuhan kenapa
hati diciptakan, menganugerahi rasa dan dengan mudah membuat jantung ini
berdebar. Indahnya dosa ini.
Tapi itu dulu. Memasuki bulan yang baru, entah kenapa
tiba-tiba engkau ragu padaku. Ada sosok lain yang sengaja ditawarkan padamu. Katanya
lebih siap dibanding aku. Entahlah. Aku hanya jarang bercerita tentang usaha
dan doa yang sering kupanjatkan atas namamu. Aku hanya ingin memberimu kejutan
diakhir cerita kita nantinya. Tapi, aku juga tidak pandai membagi waktu hingga
kau merasa tidak diistimewakan lagi. Ku akui saja, ini hanya sesaat. Kau hanya
perlu bertahan sedikit untuk kemudian kita melesat menuju akad. Oh Tuhan,
skenario apalagi ini. Sudahlah Tuhan, aku sudah muak dengan permainanMu. Aku sudah
berlabuh padanya. Atau, dia sudah berlabuh pada yang lain? Biarkan saja, aku
akan tetap dengan perasaan ini. Mencintaimu adalah urusanku. Kalau kau sudah tidak
cinta padaku, itu urusanmu.
Hingga akhirnya, kita sama-sama terdiam. Saling menunggu
kepastian. Aku padamu, dan kau padanya. Lucu yah. Kita yang sering menghabiskan
waktu bersama, belum tentu akan berbagi rasa selamanya. Tapi sudahlah. Tidak perlu
engkau mengutuk waktu. Aku juga tidak bisa berkutik. Barangkali, bulan Juli
adalah persembahan terbaik dari Tuhan. Membuka jalan yang baru, menapaki jejak
hidup yang baru, dan kenangan kita, biarkan terhapus oleh hujan. Biarkan aku
menyimpannya rapat-rapat pada sudut hati yang sering kau sekat.
Terima kasih untuk waktumu padaku.
Mengisi kekosongan dengan kebahagiaan sesaat.
Aku tetap menantimu.
Garut, 01 Juli 2017
Tika Abdul Aziz

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)