20 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 18. (NEBULA)

Pernah dengar istilah nebula? Kau tahu apa statusnya pada semesta? Tidak perlu kau cari dari sumber yang kuat. Ini hanya akan makan waktu dan buang-buang peluh saja. Nebula tidak perlu dianggap untuk menjadikan ada. Nebula akan tetap ada tanpa harus diketahui, tanpa harus dicari, tanpa harus dikejar. Nebula hanyalah awan antarbintang. Dari debu dan gas plasma pula dirinya. Nebula sering disebut tempat lahirnya galaksi dan bintang-bintang. Ia hanyalah tempat awalnya sebuah sejarah terbentuk, sebuah hidup terpatri, lalu akan hilang tanpa disublim sejarah.

Aku terpikat pada pesona benda langit atas alasan ini. mereka seakan tidak peduli pada masing-masing yang lain. Mereka terlalu sibuk dengan tugasnya demi melakoni kehidupan ini. mereka tidak pernah mengurusi kehidupan orang lain. Makanya, benda langit sulit untuk berteman. Sulit juga bermusuhan. Tidak seperti kita. Ya, kita. Makhluk yang merasa hebat diantara yang lain. Makhluk yang merasa paling memiliki sifat kepemimpinan, makhluk yang merasa punya posisi tertinggi dalam kehidupan ini, namun sering membabi buta dalam hidup, saling menusukkan taring pada sesama, meruncingkan gigi untuk melawan, menumbuhkan tanduk  agar berkuasa, bahkan yang mirisnya, kita seakan menjadi para penikmat, penonton paling setia, atau sebaliknya, kitalah petarung itu dalam gelanggang. Aku tidak menyalahkan hal itu. Bahkan, jika sudut malampun kau taklukkan, kau tidak akan pernah disalahkan. Kita semua punya hak untuk itu. Hati memang perlu dibenahi dalam perjuangan seperti ini.

Malam selalu larut dalam gelapnya menuju fajar. Mulai mengendapkan kenangan dalam tiap-tiap memori untuk membuka kembali jika ada tangis atau senyum yang hadir untuk keesokan harinya. Seharusnya kenangan tidak perlu diendapkan pada tiap-tiap penyaksian jika hanya menumbuhkan luka. Namun apa daya manusia mendustai alam yang selalu menyimpan segalanya rapih-rapih. Tidak ada satupun yang tertinggal disana. Semuanya selalu sama. Selamanya. Hingga kita kembali pada kampung asal. Akhirat.

Malam ini kembali pada malam-malam sebelumnya. Kastana sudah kembalikan konsentrasinya pada teori-teori sebelumnya. Mengumpulkan beberapa gambar dan membandingkannya dengan hasil riset-risetnya itu. Beberapa lempeng tembaga dimasukkan dalam gelas cembung, membuat perbandingan dengan teori yang sudah ada, menyesuaikannya kembali dengan  hal-hal yang pernah dilewati. Lalu kulihat dia mulai memasukkan air ke gelas cembung yang lain, melihat hasilnya, kemudian ditulis. Aku tidak mendapati ini sebagai sebuah penelitian ilmiah. Tapi peduli setan, aku memang tidak memahami apa-apa tentang benda luar angkasa.

“Fajar, kau punya telor?”

“Buat apa? Kau lapar?”

“Aku mau memperhatikan bentuk bumi yang hampir mirip telor.”

“Ada di lemari buku.”

Kastana sudah tidak menghiraukan ucapanku. Ia bangkit kemudian mengambil telornya, menatapnya lamat-lamat, kemudian memasukkan pada gelas cembung yang ke tiga.

Ini bukan hal yang sepele. Aku hanya menatapnya dengan senyuman. Ada raut wajah yang serius disana. Keringatnya kembali menampakkan kilap. Lembap di dahinya semakin terlihat jelas. Dia selalu seperti itu jika sedang serius. Aku jadi teringat saat mata kuliah Bahasa Arab di kelas.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)