Pernah dengar
istilah nebula? Kau tahu apa statusnya pada semesta? Tidak perlu kau cari dari
sumber yang kuat. Ini hanya akan makan waktu dan buang-buang peluh saja. Nebula
tidak perlu dianggap untuk menjadikan ada. Nebula akan tetap ada tanpa harus
diketahui, tanpa harus dicari, tanpa harus dikejar. Nebula hanyalah awan
antarbintang. Dari debu dan gas plasma pula dirinya. Nebula sering disebut
tempat lahirnya galaksi dan bintang-bintang. Ia hanyalah tempat awalnya sebuah
sejarah terbentuk, sebuah hidup terpatri, lalu akan hilang tanpa disublim
sejarah.
Aku terpikat
pada pesona benda langit atas alasan ini. mereka seakan tidak peduli pada
masing-masing yang lain. Mereka terlalu sibuk dengan tugasnya demi melakoni
kehidupan ini. mereka tidak pernah mengurusi kehidupan orang lain. Makanya,
benda langit sulit untuk berteman. Sulit juga bermusuhan. Tidak seperti kita. Ya,
kita. Makhluk yang merasa hebat diantara yang lain. Makhluk yang merasa paling
memiliki sifat kepemimpinan, makhluk yang merasa punya posisi tertinggi dalam
kehidupan ini, namun sering membabi buta dalam hidup, saling menusukkan taring
pada sesama, meruncingkan gigi untuk melawan, menumbuhkan tanduk agar berkuasa, bahkan yang mirisnya, kita
seakan menjadi para penikmat, penonton paling setia, atau sebaliknya, kitalah
petarung itu dalam gelanggang. Aku tidak menyalahkan hal itu. Bahkan, jika
sudut malampun kau taklukkan, kau tidak akan pernah disalahkan. Kita semua
punya hak untuk itu. Hati memang perlu dibenahi dalam perjuangan seperti ini.
Malam selalu
larut dalam gelapnya menuju fajar. Mulai mengendapkan kenangan dalam tiap-tiap
memori untuk membuka kembali jika ada tangis atau senyum yang hadir untuk
keesokan harinya. Seharusnya kenangan tidak perlu diendapkan pada tiap-tiap
penyaksian jika hanya menumbuhkan luka. Namun apa daya manusia mendustai alam
yang selalu menyimpan segalanya rapih-rapih. Tidak ada satupun yang tertinggal
disana. Semuanya selalu sama. Selamanya. Hingga kita kembali pada kampung asal.
Akhirat.
Malam ini
kembali pada malam-malam sebelumnya. Kastana sudah kembalikan konsentrasinya pada
teori-teori sebelumnya. Mengumpulkan beberapa gambar dan membandingkannya dengan
hasil riset-risetnya itu. Beberapa lempeng tembaga dimasukkan dalam gelas
cembung, membuat perbandingan dengan teori yang sudah ada, menyesuaikannya
kembali dengan hal-hal yang pernah
dilewati. Lalu kulihat dia mulai memasukkan air ke gelas cembung yang lain,
melihat hasilnya, kemudian ditulis. Aku tidak mendapati ini sebagai sebuah
penelitian ilmiah. Tapi peduli setan, aku memang tidak memahami apa-apa tentang
benda luar angkasa.
“Fajar, kau
punya telor?”
“Buat apa? Kau
lapar?”
“Aku mau
memperhatikan bentuk bumi yang hampir mirip telor.”
“Ada di lemari
buku.”
Kastana sudah
tidak menghiraukan ucapanku. Ia bangkit kemudian mengambil telornya, menatapnya
lamat-lamat, kemudian memasukkan pada gelas cembung yang ke tiga.
Ini bukan hal
yang sepele. Aku hanya menatapnya dengan senyuman. Ada raut wajah yang serius
disana. Keringatnya kembali menampakkan kilap. Lembap di dahinya semakin
terlihat jelas. Dia selalu seperti itu jika sedang serius. Aku jadi teringat
saat mata kuliah Bahasa Arab di kelas.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)