15 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 17. (NEBULA)


Pagi yang cerah untuk menyajikan kopi dan cerita yang  berpadu menyusun serangkai bunga tak beraturan mencari cela. Kos-an yang aku tempati masih seperti hari-hari biasanya. Burung-burung pagi juga sedang sibuk mencari madu, kalau-kalau ada bunga yang bermekaran. Beberapa tempat masih tergenang air sisa hujan semalam. Bau kopi juga semakin menyengat menyapa hidungku. Ada rasa damai disini.

            Aku sudah tidak melaknati kejadian semalam. Andai saja hari ini Kastana, Alena dan Sartaji ayahku datang bersamaan, aku yang akan memeluk mereka dengan erat. Aku tidak perlu lagi membenci siapapun dalam hidup. Lagipula, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka yang kukenal.

            “Fajar, saya minta maaf soal semalam.”

            Kastana datang dengan raut muka penuh penyesalan.

“Seharusnya saya tidak perlu seegois ini dalam hidup. Saya seharusnya menghargai kamu yang sudah mempedulikan cita-citaku. Saya memang terlalu terobsesi pada Alena. Saya harusnya mau mendengarkanmu dari awal.” Wajahnya layu.

Aku kemudian duduk di sampingnya. “Kas, harusnya saya yang minta maaf padamu. Saya tidak punya hak untuk melarangmu mencintai siapa saja. Itu hak kamu Kas. Hanya saja, aku takut kehilangan lagi sosok seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.”

Lalu Kastana menoleh padaku dengan tatapan yang aneh.

“Gila! Sok muda kamu! Ngaca Jar! Ngaca!”

“Saya sedang serius Kas.”

“Intinya, saya meminta maaf atas kejadian semalam. Kau mau saya buatkan kopi? Apa? Gorengan? Roti hangat? Pisang rebus?”

Kastana sudah mulai kembali dengan gilanya.

“Hahaha… Saya juga minta maaf Kas.”

Aku menepuk pundak Kastana. Ada perasaan yang tergambarkan antara adik dan kakak dalam sebuah keluarga yang harmonis. Jujur, ini salah satu hal paling indah dalam hidup. Berpeluk mesra dengan orang yang benar-benar membuatku menjadi orang yang mantap dalam menatap sebuah jalur hidup yang baru.

“Oh iya.”

“Apa?” Sambar Kastana

“Saya butuh kopi panas, roti coklat, pisang rebus, dan rokok dua  bungkus!”

“Bunuh saja saya!”

“Hahaha. Sudahlah… Kau bisa mengutangnya lagi di warung Pak Dadang.”

“Oke siap komandan! Lima menit!” Kastana keluar kamar. Mengenakan sandal menuju warung Pak Dadang.

“Bagaimana hubunganmu dengan Alena?”

“Kau ulang lagi.”

“Saya tidak melarang Kas. Hanya saja kau perlu atur waktu. Bahkan, saya bisa membuatkan bait-bait cinta yang lebih keren. Puisimu payah!”

“Kami memang tidak pacaran Jar. Alena tidak mau hubungan kami rusak jika suatu saat nanti hubungan kami rusak.”

“Bilang saja kau tidak mampu melumpuhkan hatinya.”

“Bukan begitu Jar. Ah, tidak peka kau ini.”

“Alah! Alasan!” Aku melempari Kastana dengan sepotong roti.

“Eh tapi bagaimana kalau sebenarnya Alena sudah punya pacar?”

“Nah. Mampus kau!”

“Ah, tidak mungkin. Lagian wajahnya masih polos. Tidak ada tanda cium di pipinya.”

“Kas! Apa hubungannya coba?”

“Saya hanya menerawang. Siapa tahu kelihatan bekas cium, kalau memang dia sudah punya kekasih.”

“Kau sudah gila Kas. Payah juga kau kalau jadi detektif.”

“Saya kan calon pembicara kelas kakap nantinya. Motivator ulung. Ilmuwan dalam bidang perbintangan.”

“Oh ya? Sudah sejauh mana usahamu?”

“Kita buktikan mulai malam ini!” Kastana meremas sisa potongan roti yang ada di genggamannya. Ada percikan semangat itu kembali dari wajahnya. Kastana kembali.

Kau tahu, tidak ada yang lebih bahagia ketika sebuah usaha dari seorang manusia menampakkan hasil yang tidak percuma. Aku merasakan hal itu sekarang. Aku berhasil mengembalikan semangat seorang manusia yang tadi sudah tinggi bercita-cita lalu sempat membelok ke arah yang berbeda. Kini, seseorang yang kukagumi sejak pertama masuk kuliah kembali menjadi dirinya sendiri. Terima kasih Tuhan. Engkau memang maha penyayang yang tiada tara.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)