Pagi yang
cerah untuk menyajikan kopi dan cerita yang
berpadu menyusun serangkai bunga tak beraturan mencari cela. Kos-an yang
aku tempati masih seperti hari-hari biasanya. Burung-burung pagi juga sedang
sibuk mencari madu, kalau-kalau ada bunga yang bermekaran. Beberapa tempat
masih tergenang air sisa hujan semalam. Bau kopi juga semakin menyengat menyapa
hidungku. Ada rasa damai disini.
Aku sudah tidak melaknati kejadian
semalam. Andai saja hari ini Kastana, Alena dan Sartaji ayahku datang
bersamaan, aku yang akan memeluk mereka dengan erat. Aku tidak perlu lagi
membenci siapapun dalam hidup. Lagipula, aku tidak punya siapa-siapa lagi
selain mereka yang kukenal.
“Fajar, saya minta maaf soal
semalam.”
Kastana datang dengan raut muka
penuh penyesalan.
“Seharusnya
saya tidak perlu seegois ini dalam hidup. Saya seharusnya menghargai kamu yang
sudah mempedulikan cita-citaku. Saya memang terlalu terobsesi pada Alena. Saya
harusnya mau mendengarkanmu dari awal.” Wajahnya layu.
Aku kemudian
duduk di sampingnya. “Kas, harusnya saya yang minta maaf padamu. Saya tidak
punya hak untuk melarangmu mencintai siapa saja. Itu hak kamu Kas. Hanya saja,
aku takut kehilangan lagi sosok seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai
kakakku sendiri.”
Lalu Kastana
menoleh padaku dengan tatapan yang aneh.
“Gila! Sok
muda kamu! Ngaca Jar! Ngaca!”
“Saya sedang
serius Kas.”
“Intinya, saya
meminta maaf atas kejadian semalam. Kau mau saya buatkan kopi? Apa? Gorengan?
Roti hangat? Pisang rebus?”
Kastana sudah
mulai kembali dengan gilanya.
“Hahaha… Saya
juga minta maaf Kas.”
Aku menepuk
pundak Kastana. Ada perasaan yang tergambarkan antara adik dan kakak dalam
sebuah keluarga yang harmonis. Jujur, ini salah satu hal paling indah dalam
hidup. Berpeluk mesra dengan orang yang benar-benar membuatku menjadi orang
yang mantap dalam menatap sebuah jalur hidup yang baru.
“Oh iya.”
“Apa?” Sambar
Kastana
“Saya butuh
kopi panas, roti coklat, pisang rebus, dan rokok dua bungkus!”
“Bunuh saja
saya!”
“Hahaha.
Sudahlah… Kau bisa mengutangnya lagi di warung Pak Dadang.”
“Oke siap
komandan! Lima menit!” Kastana keluar kamar. Mengenakan sandal menuju warung
Pak Dadang.
“Bagaimana
hubunganmu dengan Alena?”
“Kau ulang
lagi.”
“Saya tidak
melarang Kas. Hanya saja kau perlu atur waktu. Bahkan, saya bisa membuatkan
bait-bait cinta yang lebih keren. Puisimu payah!”
“Kami memang tidak
pacaran Jar. Alena tidak mau hubungan kami rusak jika suatu saat nanti hubungan
kami rusak.”
“Bilang saja
kau tidak mampu melumpuhkan hatinya.”
“Bukan begitu
Jar. Ah, tidak peka kau ini.”
“Alah!
Alasan!” Aku melempari Kastana dengan sepotong roti.
“Eh tapi
bagaimana kalau sebenarnya Alena sudah punya pacar?”
“Nah. Mampus
kau!”
“Ah, tidak
mungkin. Lagian wajahnya masih polos. Tidak ada tanda cium di pipinya.”
“Kas! Apa
hubungannya coba?”
“Saya hanya
menerawang. Siapa tahu kelihatan bekas cium, kalau memang dia sudah punya
kekasih.”
“Kau sudah
gila Kas. Payah juga kau kalau jadi detektif.”
“Saya kan
calon pembicara kelas kakap nantinya. Motivator ulung. Ilmuwan dalam bidang
perbintangan.”
“Oh ya? Sudah
sejauh mana usahamu?”
“Kita buktikan
mulai malam ini!” Kastana meremas sisa potongan roti yang ada di genggamannya.
Ada percikan semangat itu kembali dari wajahnya. Kastana kembali.
Kau tahu,
tidak ada yang lebih bahagia ketika sebuah usaha dari seorang manusia
menampakkan hasil yang tidak percuma. Aku merasakan hal itu sekarang. Aku
berhasil mengembalikan semangat seorang manusia yang tadi sudah tinggi
bercita-cita lalu sempat membelok ke arah yang berbeda. Kini, seseorang yang
kukagumi sejak pertama masuk kuliah kembali menjadi dirinya sendiri. Terima
kasih Tuhan. Engkau memang maha penyayang yang tiada tara.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)