Aku memang
membenci ayahku semenjak mendengarkan cerita dari nenek. Cerita itulah yang aku
genggam erat. Tidak ada hal lain yang tergambarkan tentang ibu. Saat itu, aku
memang masih terlalu kecil untuk mengingat semua kejadian yang menimpa ibuku.
Siang itu
setelah pulang sekolah, aku bersandar pada bahu nenekku. Memeluknya erat. Kami berdua
duduk di bale-bale pos ronda depan rumah, tempat pemuda berkumpul untuk bermain
kartu atau sekadar mengobrol mengisi keheningan saat malam tiba di kampungku.
Nenek sedang
sibuk memisahkan biji kapuk dari dagingnya. Menyeratnya seteliti mungkin meski
selaput matanya sudah mulai dilapisi katarak. Wajah tuanya semakin tergambar
jelas saat kehilangan anaknya. Saat itu aku sudah berumur tiga belas tahun.
“Fajar… Nenek
rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mendengarkan cerita ini.”
“Cerita tentang
apa nek?” Aku memandangi nenekku. Memasang wajah paling penasaran.
“Sekarang
dengarkan cu. Ingatlah baik-baik sejarah penting ini.” Nenek berhenti dari
pekerjaannya. Membalikkan badannya ke arahku. Wajah ramahnya berubah menjadi
serius.
“Ibumu
seharusnya tidak perlu meninggalkanmu saat masih kecil. Hanya saja, itu terjadi
karena ibumu sangat kecewa. Waktu itu, kakekmu memang tidak menyetujui ibumu
untuk menikah dengan Sartaji ayahmu. Hanya saja, ibumu memang benar-benar
mencintai ayahmu. Nenek tidak rela kalau ibumu harus bersedih setiap hari
karena tidak diizinkan menikah dengan laki-laki yang dicintainya.”
Aku
mengernyitkan dahi. Aku memang belum memahami apa artinya cinta, rasa sayang
atau apapun itu namanya.
“Dengarkan
saja dulu cu. Jangan sampai nenek keburu pikun untuk mengingat semuanya. Nanti
juga kamu akan paham.”
Aku
mengangguk. “Baiklah nek.”
Nenek
melanjutkan. “Saat itu, hampir setiap hari nenek membujuk kakekmu untuk mau
mengizinkan ibumu agar menikah dengan Sartaji. Akhirnya, kakekmu setuju dan
terjadilah pernikahan itu.” Aku melihat wajah renta itu semakin lesu. Pelupuk
matanya dipenuhi air mata yang nyaris tertumpah menahan pedih.
“Ketika ibumu
sedang mengandung, ayahmu sudah mulai jarang dirumah. Katanya ada proyek yang jauh
dari desa. Jadi, datangnya hanya seminggu sekali. Makin lama, pulangnya semakin
jarang. Hanya sebulan sekali datang menengok ibumu. Itu juga hanya membawa
beras seadanya. Akhirnya, ibumu yang sedang mengandung, datang kesini. Ke rumah
ini. Menunggu saat-saat kamu dilahirkan. Bahkan saat ibumu melahirkan, ayahmu
Sartaji tidak datang untuk menengok. Padahal surat sudah dikirimkan sejak
seminggu sebelum ibumu melahirkan. Namun ayahmu tetap tidak datang. Kakek yang
mengadzankanmu cu…”
Sampai disini,
aku sudah sedikit memahami apa yang terjadi. Aku sudah mulai punya penilaian
sendiri tentang ayahku.
“Ibumu memang
benar-benar mencintai ayahmu. Meskipun sudah ditinggal berbulan-bulan dalam
keadaan hamil, ibumu tidak pernah membencinya. Hingga suatu hari saat kamu
berumur tiga tahun dan sedang bermain di bale-bale ini, seorang perempuan
datang kerumah memberikan sebuah surat pendek pada ibumu. Isi persisnya nenek tidak
tahu. Tapi yang pasti setelah perempuan itu pergi, ibumu mendadak seperti orang
yang kesurupan. Membanting semua piring yang ada di rak dapur, menarik-narik
dasternya sendiri hingga sobek, kemudian berteriak sekuat-kuatnya. Nenek yang
dari tadi menyaksikan ibumu meronta kemudian berlari ke rumah tetangga meminta
pertolongan.”
Aku lihat air
mata nenek sudah tidak bisa menampung lagi kesedihan ini. Titik-titik air mata
sudah membasahi wajah keriputnya. Aku hanya tertegun. Tidak mampu berkomentar.
“Lalu saat
nenek datang dengan beberapa tetangga, nenek sudah melihat ibumu terkapar di
tanah. Wajahnya membiru. Mulutnya dipenuhi busa. Ibumu bunuh diri dengan
memakan empat lempeng obat nyamuk bakar. Kakekmu yang baru datang dari kebun
juga mendadak kaget dan tidak mampu lagi menahan sakit di dadanya. Serangan
jantungnya kumat. Akhirnya, hari itu adalah hari penuh kesumat. Dua orang yang
sangat nenek cintai tewas mengenaskan. Nenek hanya menangis sejadi-jadinya
sambil memelukmu yang juga ikutan menangis. Beberapa tetangga ikut membantu
memindahkan jenazah ibu dan kakekmu. Kata Pak Ramli yang sempat membaca tulisan
dari perempuan itu bahwa Sartaji sudah menikah lagi dengan perempuan lain, dan
meminta ibumu untuk mengurus surat perceraian. Nenek sudah tidak tahu lagi
harus seperti apa menjalani hidup ini. Tapi nenek melihatmu. Kamu adalah
penerus yang paling berharga di keluarga
ini.”
Nenek menghapus air matanya dengan lengan. Berusaha menjadi sosok
orangtua paling tegar demi seorang cucu.
Aku sudah
memahami sepenuhnya sekarang. Ayah yang ada dalam pikiranku saat ini adalah
manusia paling bejat se-alam semesta. Aku sudah tidak pernah lagi mempercayai
sosok seorang ayah sejak saat itu. Sartaji yang aku kenal adalah monster dalam
keluarga kami. Aku juga tidak pernah mau menemui sanak saudara dari ayahku sendiri. Aku membenci
semua orang yang berhubungan dengan Sartaji, ayahku.
Nenek sudah
menjadi tulang punggung tunggal untuk membiayai aku seorang. Dari membantu
pekerjaan orang lain sebagai buruh padi, memikul hasil bumi untuk ditimbang,
atau beberapa pekerjaan kasar lainnya yang penting aku bisa hidup dan
melanjutkan sekolah.
Aku juga
sempat berhenti sekolah. Aku tidak tega melihat seorang wanita tua menjadi
buruh kerja hanya untuk menghidupiku. Tetapi saat itu, aku disuruh oleh Pak
Ramli untuk pindah ke salah satu madrasah diniyah cuma-cuma yang ada di desa.
Menjadi salah satu murid paling melarat dan hidup dalam keadaan yang paling
minim. Aku juga menjadi pribadi yang tertutup untuk mau bersosialisasi dengan
orang lain kecuali nenekku. Aku saat itu, tidak pernah percaya sepenuhnya
kepada orang lain. Aku tidak punya rasa sayang atau belas kasihan untuk
dibagikan kepada orang lain. Aku sudah tidak bisa berkompromi dengan alam.
Kau tahu, rasa
manusia terbentuk dari lingkungannya. Jangan salahkan aku karena sering menutup
diri. Salahkan semuanya pada Sartaji, ayahku yang bejat itu. Tapi sudahlah. Aku
percaya bahwa ini rencana Tuhan. Atau, aku adalah anak kutukan alam yang sudah
terlampau dibenci. Ah, aku tidak perlu sedungu ini menjalani hidup. Aku hanya
perlu hentakan yang lebih kuat untuk melambung melewati yang lain. Aku juga
tidak harus menjadi sosok yang terbelenggu dengan masa lalu. Aku adalah Fajar
Sukma Hakiki yang baru. Mari Kastana, Alena, Sartaji, kita bersulang. Mari kita
pestakan skenario alam ini.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)