14 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 16. (NEBULA)

Aku memang membenci ayahku semenjak mendengarkan cerita dari nenek. Cerita itulah yang aku genggam erat. Tidak ada hal lain yang tergambarkan tentang ibu. Saat itu, aku memang masih terlalu kecil untuk mengingat semua kejadian yang menimpa ibuku.

Siang itu setelah pulang sekolah, aku bersandar pada bahu nenekku. Memeluknya erat. Kami berdua duduk di bale-bale pos ronda depan rumah, tempat pemuda berkumpul untuk bermain kartu atau sekadar mengobrol mengisi keheningan saat malam tiba di kampungku.

Nenek sedang sibuk memisahkan biji kapuk dari dagingnya. Menyeratnya seteliti mungkin meski selaput matanya sudah mulai dilapisi katarak. Wajah tuanya semakin tergambar jelas saat kehilangan anaknya. Saat itu aku sudah berumur tiga belas tahun.

“Fajar… Nenek rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mendengarkan cerita ini.”

“Cerita tentang apa nek?” Aku memandangi nenekku. Memasang wajah paling penasaran.

“Sekarang dengarkan cu. Ingatlah baik-baik sejarah penting ini.” Nenek berhenti dari pekerjaannya. Membalikkan badannya ke arahku. Wajah ramahnya berubah menjadi serius.

“Ibumu seharusnya tidak perlu meninggalkanmu saat masih kecil. Hanya saja, itu terjadi karena ibumu sangat kecewa. Waktu itu, kakekmu memang tidak menyetujui ibumu untuk menikah dengan Sartaji ayahmu. Hanya saja, ibumu memang benar-benar mencintai ayahmu. Nenek tidak rela kalau ibumu harus bersedih setiap hari karena tidak diizinkan menikah dengan laki-laki yang dicintainya.”

Aku mengernyitkan dahi. Aku memang belum memahami apa artinya cinta, rasa sayang atau apapun itu namanya.

“Dengarkan saja dulu cu. Jangan sampai nenek keburu pikun untuk mengingat semuanya. Nanti juga kamu akan paham.”

Aku mengangguk. “Baiklah nek.”

Nenek melanjutkan. “Saat itu, hampir setiap hari nenek membujuk kakekmu untuk mau mengizinkan ibumu agar menikah dengan Sartaji. Akhirnya, kakekmu setuju dan terjadilah pernikahan itu.” Aku melihat wajah renta itu semakin lesu. Pelupuk matanya dipenuhi air mata yang nyaris tertumpah menahan pedih.

“Ketika ibumu sedang mengandung, ayahmu sudah mulai jarang dirumah. Katanya ada proyek yang jauh dari desa. Jadi, datangnya hanya seminggu sekali. Makin lama, pulangnya semakin jarang. Hanya sebulan sekali datang menengok ibumu. Itu juga hanya membawa beras seadanya. Akhirnya, ibumu yang sedang mengandung, datang kesini. Ke rumah ini. Menunggu saat-saat kamu dilahirkan. Bahkan saat ibumu melahirkan, ayahmu Sartaji tidak datang untuk menengok. Padahal surat sudah dikirimkan sejak seminggu sebelum ibumu melahirkan. Namun ayahmu tetap tidak datang. Kakek yang mengadzankanmu cu…”

Sampai disini, aku sudah sedikit memahami apa yang terjadi. Aku sudah mulai punya penilaian sendiri tentang ayahku.

“Ibumu memang benar-benar mencintai ayahmu. Meskipun sudah ditinggal berbulan-bulan dalam keadaan hamil, ibumu tidak pernah membencinya. Hingga suatu hari saat kamu berumur tiga tahun dan sedang bermain di bale-bale ini, seorang perempuan datang kerumah memberikan sebuah surat pendek pada ibumu. Isi persisnya nenek tidak tahu. Tapi yang pasti setelah perempuan itu pergi, ibumu mendadak seperti orang yang kesurupan. Membanting semua piring yang ada di rak dapur, menarik-narik dasternya sendiri hingga sobek, kemudian berteriak sekuat-kuatnya. Nenek yang dari tadi menyaksikan ibumu meronta kemudian berlari ke rumah tetangga meminta pertolongan.”

Aku lihat air mata nenek sudah tidak bisa menampung lagi kesedihan ini. Titik-titik air mata sudah membasahi wajah keriputnya. Aku hanya tertegun. Tidak mampu berkomentar.

“Lalu saat nenek datang dengan beberapa tetangga, nenek sudah melihat ibumu terkapar di tanah. Wajahnya membiru. Mulutnya dipenuhi busa. Ibumu bunuh diri dengan memakan empat lempeng obat nyamuk bakar. Kakekmu yang baru datang dari kebun juga mendadak kaget dan tidak mampu lagi menahan sakit di dadanya. Serangan jantungnya kumat. Akhirnya, hari itu adalah hari penuh kesumat. Dua orang yang sangat nenek cintai tewas mengenaskan. Nenek hanya menangis sejadi-jadinya sambil memelukmu yang juga ikutan menangis. Beberapa tetangga ikut membantu memindahkan jenazah ibu dan kakekmu. Kata Pak Ramli yang sempat membaca tulisan dari perempuan itu bahwa Sartaji sudah menikah lagi dengan perempuan lain, dan meminta ibumu untuk mengurus surat perceraian. Nenek sudah tidak tahu lagi harus seperti apa menjalani hidup ini. Tapi nenek melihatmu. Kamu adalah penerus yang paling berharga  di keluarga ini.”

Nenek menghapus air matanya dengan lengan. Berusaha menjadi sosok orangtua paling tegar demi seorang cucu.

Aku sudah memahami sepenuhnya sekarang. Ayah yang ada dalam pikiranku saat ini adalah manusia paling bejat se-alam semesta. Aku sudah tidak pernah lagi mempercayai sosok seorang ayah sejak saat itu. Sartaji yang aku kenal adalah monster dalam keluarga kami. Aku juga tidak pernah mau menemui sanak  saudara dari ayahku sendiri. Aku membenci semua orang yang berhubungan dengan Sartaji, ayahku.

Nenek sudah menjadi tulang punggung tunggal untuk membiayai aku seorang. Dari membantu pekerjaan orang lain sebagai buruh padi, memikul hasil bumi untuk ditimbang, atau beberapa pekerjaan kasar lainnya yang penting aku bisa hidup dan melanjutkan sekolah.

Aku juga sempat berhenti sekolah. Aku tidak tega melihat seorang wanita tua menjadi buruh kerja hanya untuk menghidupiku. Tetapi saat itu, aku disuruh oleh Pak Ramli untuk pindah ke salah satu madrasah diniyah cuma-cuma yang ada di desa. Menjadi salah satu murid paling melarat dan hidup dalam keadaan yang paling minim. Aku juga menjadi pribadi yang tertutup untuk mau bersosialisasi dengan orang lain kecuali nenekku. Aku saat itu, tidak pernah percaya sepenuhnya kepada orang lain. Aku tidak punya rasa sayang atau belas kasihan untuk dibagikan kepada orang lain. Aku sudah tidak bisa berkompromi dengan alam.

Kau tahu, rasa manusia terbentuk dari lingkungannya. Jangan salahkan aku karena sering menutup diri. Salahkan semuanya pada Sartaji, ayahku yang bejat itu. Tapi sudahlah. Aku percaya bahwa ini rencana Tuhan. Atau, aku adalah anak kutukan alam yang sudah terlampau dibenci. Ah, aku tidak perlu sedungu ini menjalani hidup. Aku hanya perlu hentakan yang lebih kuat untuk melambung melewati yang lain. Aku juga tidak harus menjadi sosok yang terbelenggu dengan masa lalu. Aku adalah Fajar Sukma Hakiki yang baru. Mari Kastana, Alena, Sartaji, kita bersulang. Mari kita pestakan skenario alam ini.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)