14 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 15. (SATELIT)

Tiba-tiba handphoneku berdering. Tidak ada identitas di sana.

            “Hallo. Siapa?” 

            “Fajaaar… Apa kabar dirimu disana?”

Keparat! Aku mengenali suara itu. Suara tua itu baru aku dengar kembali. Hampir sepuluh tahun aku tidak pernah mendengar suara ayahku sendiri. Sudah terlalu lama dia menghilang.

“Ada perlu apa kau telepon!?”

Ayah tertawa kecil. Mungkin tersenyum masam. “Kau memang seperti ibumu nak. Bapak jadi ingat saat ibumu belum meninggal dunia.”

“Cukup! Tutup mulutmu! Tidak akan ada yang lupa kejadian itu!” Mataku kembali memanas. Aku belum siap untuk mengingat itu kembali untuk saat ini.

Ayah kemudian batuk. Suaranya berat. “Setidaknya orangtua ini masih mau didengarkan oleh anaknya sendiri. Bapak rindu kamu nak. Pulanglah.”

Kemudian aku mematikan telepon.

Malam itu makin lengang. Aku seakan ditusuk oleh dua mata pisau yang berbeda. Tajam dan mematikan. Aku kalut. Membenci sahabat sendiri oleh karena sikapnya, dan masih tidak mau menerima masa lalu yang memang sudah terjadi. Kau tahu, kenangan pahit memang selalu jahat untuk dikenang.

Tuhan, kemana aku harus berlari? Aku terlalu gengsi untuk terus meminta padaMu. Aku bukan anak kecil lagi yang merengek jika tidak diberi permen. Aku sudah dewasa Tuhan. Aku gengsi padaMu. Aku juga tahu malu. Kau urus saja dirimu Tuhan!

Jangan diam saja Tuhan! Ini aku… Ambillah jika mau. Aku sudah terlalu gengsi pada semua orang. Bahkan pada dirimu Tuhan. Andai Engkau rela mengirimkan malaikatMu, atau bahkan aku siap jika dibelah dadaku oleh NabiMu.

Aku membasahi pipi di malam itu. Meratapi segala kesalahan. Menangisi segala kegilaan. Akulah yang sebenarnya gila. Memaksa semua orang untuk mengikuti mauku. Ku mohon Tuhan, aku masih mencintai orang-orang disekitarku. Aku masih saja memupuk keegoisan sesaat. Masih menyimpan gengsi pada orang yang sebenarnya mencintaiku.

Dalam kelengangan malam, aku memeluk diriku sendiri di sudut kamar. Merenungi segala kejadian. Merangkai hal-hal yang hilang untuk diperbaiki. Kini ada dua orang yang menambah rasa bersalahku. Kastana dan Ayahku sendiri.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)