Tiba-tiba handphoneku
berdering. Tidak ada identitas di sana.
“Hallo. Siapa?”
“Fajaaar… Apa kabar dirimu disana?”
Keparat! Aku
mengenali suara itu. Suara tua itu baru aku dengar kembali. Hampir sepuluh
tahun aku tidak pernah mendengar suara ayahku sendiri. Sudah terlalu lama dia
menghilang.
“Ada perlu apa
kau telepon!?”
Ayah tertawa
kecil. Mungkin tersenyum masam. “Kau memang seperti ibumu nak. Bapak jadi ingat
saat ibumu belum meninggal dunia.”
“Cukup! Tutup
mulutmu! Tidak akan ada yang lupa kejadian itu!” Mataku kembali memanas. Aku
belum siap untuk mengingat itu kembali untuk saat ini.
Ayah kemudian
batuk. Suaranya berat. “Setidaknya orangtua ini masih mau didengarkan oleh
anaknya sendiri. Bapak rindu kamu nak. Pulanglah.”
Kemudian aku
mematikan telepon.
Malam itu
makin lengang. Aku seakan ditusuk oleh dua mata pisau yang berbeda. Tajam dan
mematikan. Aku kalut. Membenci sahabat sendiri oleh karena sikapnya, dan masih
tidak mau menerima masa lalu yang memang sudah terjadi. Kau tahu, kenangan
pahit memang selalu jahat untuk dikenang.
Tuhan, kemana
aku harus berlari? Aku terlalu gengsi untuk terus meminta padaMu. Aku bukan anak
kecil lagi yang merengek jika tidak diberi permen. Aku sudah dewasa Tuhan. Aku
gengsi padaMu. Aku juga tahu malu. Kau urus saja dirimu Tuhan!
Jangan diam
saja Tuhan! Ini aku… Ambillah jika mau. Aku sudah terlalu gengsi pada semua
orang. Bahkan pada dirimu Tuhan. Andai Engkau rela mengirimkan malaikatMu, atau
bahkan aku siap jika dibelah dadaku oleh NabiMu.
Aku membasahi
pipi di malam itu. Meratapi segala kesalahan. Menangisi segala kegilaan. Akulah
yang sebenarnya gila. Memaksa semua orang untuk mengikuti mauku. Ku mohon Tuhan,
aku masih mencintai orang-orang disekitarku. Aku masih saja memupuk keegoisan
sesaat. Masih menyimpan gengsi pada orang yang sebenarnya mencintaiku.
Dalam
kelengangan malam, aku memeluk diriku sendiri di sudut kamar. Merenungi segala
kejadian. Merangkai hal-hal yang hilang untuk diperbaiki. Kini ada dua orang
yang menambah rasa bersalahku. Kastana dan Ayahku sendiri.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)