13 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 14. (SATELIT)

“Eh Fajar, boleh saya pinjam hp kamu?”

“Buat apa?”

“Aduh. Kau tidak ingat? Malam ini saya harus menelepon Alena!”

“Saya sedang baca-baca materi kuliah Kas. Besok saja.”

“Astaga Fajar. Ini kopi kau minum Jar. Kau minum. Saya pake hp kau sebentar saja. Ini penting!” Wajahnya bersemangat. 

“Lain kali saja Kas.” Jawabku datar.

“Wah… Teman macam apa ini. Kau harus dukung saya Fajar…”

“Ini materinya harus saya presentasikan besok Kas… Lagian, menelepon dengan Alena kan bisa lain kali.”

“Fajar. Kau kenapa? Saya pinjam sebentar saja. Ini penting!”

“Akan lebih penting kalau besok saya bisa bertanggung jawab atas apa yang menjadi tugas saya Kas.”

“Kau peduli sekali dengan kuliah!” Aku lihat wajah Kastana memerah.

“Kau kenapa peduli sekali dengan Alena!?” Aku beranjak dari kursi rotan. “Dia sudah sukses Kas! Dia sudah menjadi pembicara! Dan kau? Teori saja masih belum tentu benar!” Aku mengarahkan telunjuk ke wajahnya.

“Jadi kau merasa benar?” Kastana mendekatiku. Mata kami saling bertatapan. Memerah. Ada luapan emosi dalam diri kami.

“Maksud kau apa!?” Mataku memanas, napasku tersengal, jantungku berdegup kencang, keringat di dahiku semakin menjadi.

Kami berdua sudah saling mengepal tangan. Saling menahan tinju.

“Bedebah!”
Kastana membanting pintu. Keluar entah kemana. Peduli setan.

Malam itu hanya bintang yang bersua. Tidak ada satupun yang berani membelah sunyi. Malam itu semua terasa mati. Mungkin ada banyak serangga yang mengurungkan niat untuk berpesta. Hening. Kau tahu, persahabatan yang sudah terjalin hampir setahun mendadak porak-poranda hanya karena seorang wanita. Seseorang yang datang tiba-tiba dengan segudang kegilaan baru. Memuncak, dan menghabiskan semuanya.

Kau memang belum pernah merasakan kiamat, tapi kalau malam itu kau hadir, aku tidak menjamin kau masih menyimpan damai dalam sanubari. Semuanya seakan hampa. Tidak ada yang menjadi penghibur lara. Atau, kau tiba-tiba hadirkan Tuhan disela kegundahan. Merampas semua hal yang kau tangisi agar terlihat dewasa dihadapan yang lain. Sekali lagi, alam memang selalu membuat teka-teki. Begitulah selalu kehidupan ini bernostalgia. Keparatnya, mereka tidak pernah peduli kau sudah berapa kali kecolongan dalam teka-teki ini.

“Paling juga kau tidak akan lama untuk menghilang.” Aku terus saja menggumam. Menarik sebuah kursi, menyandarkan sekenanya dan menghisap tembakau. Mengepulkan asap-asap penyesalan yang berhamburan bersama hampa.

Aku seharusnya tidak  perlu sekasar ini. Aku hanyalah sebatas teman. Tidak ada yang istimewa dari seorang teman. Hanya sebutuhnya, tidak lebih. Atau aku yang memaksakan untuk berubah posisi. Melawan takdir agar tidak menjadi satelit. Berusaha menaikkan posisi dalam lingkaran persahabatan dan cinta.

Sudahlah. Aku tetaplah satelit. Hanya datang untuk menemani planet. Hanya untuk melengkapi planet sebagai planet. Hanya memenuhi aturan paling baku tentang tata surya. Andaikata satelit pun musnah, planet tidak akan pernah berduka cita. Ini hanya hukum alam. Aku tidak perlu menuntut lebih.

Kecuali, jika Kastana mati dalam genggamanku.



***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)