Bahasa dalam
kehidupan manusia selalu menjadi hal paling menarik untuk diterjemahkan secara
nyata. Mengikuti alunan pemahaman atau kau akan hilang tanpa tanya. Adat yang
sudah menjadikan bahasa itu ada, sejak pertama kali manusia diciptakan. Hukumya
memang akan jadi temurun. Mengikuti yang telah ada, atau kau akan dianggap
pembangkang. Tidak ada yang berani mengubahnya. Hanya saja, adat pula tidak
sadar akan adanya dinamis. Kehidupan yang selalu berubah dan berakibat fatal
akan eksistensinya dalam kehidupan. Ibarat sebuah lingkaran, tidak ada ujung
dan pangkalnya tidak ada awal dan akhirnya tidak ada pula yang tahu siapa yang harus
bertanggungjawab. Semuanya diam tertimbun alunan pesta tanpa kata.
Begitu pula
dengan satelit. Benda luar angkasa yang mengorbit pada sebuah planet atau benda
lain yang lebih besar dari dirinya. Bahasa menciptakan kata, lalu kata
menciptakan makna. Satelit sendiri pun dengan terpaksa harus punya definisi
yang belum tentu semestinya. Adat manusialah yang memaksakan demikian. Tidak
ada yang tahu lebih rinci tentang satelit. Kecuali astronot dan para ahli
perbintangan. Mungkin.
Hubungan
antara Kastana dengan Alena membuat diriku menjadi seakan-akan satelit belaka.
Hanya berputar mengelilingi orbit, dan ukurannya pun tidak lebih besar dari
planet. Aku seharusnya tidak perlu menjadi satelit. Hanya saja, aku seakan
dipaksakan oleh Kastana untuk mengorbit. Aku juga tidak perlu menuruti segala
kemauan planet. Lagipula, satelit dan planet hanya berdekatan. Tidak saling
ketergantungan. Tidak saling terikat. Atau satu, satelit tidak akan ada tanpa
planet!
Harusnya aku
mulai menghunus pedang kesadaranku sendiri. Keluar dari lintasan kehidupan
melihat dua manusia termabukkan oleh rasa. Menambahkan ikan segar agar lebih
nikmat terasa ketika direguk. Biarkan saja mereka bermabuk ria, biarkan
puisi-puisi cinta yang menggerogoti jantung mereka, biarkan bait-bait jiwa
mengunyah dengan rakus isi otak mereka, biarkan mereka terhujam pedang prosa
sendiri. Biarkan. Lagipula, aku tidak tega membangunkan orang yang sedang
terlelap dalam cinta fatamorgana.
“Alena, saya
boleh tanya sesuatu?”
Kastana
berjalan menjauh saat teleponnya diangkat.
“Tanya apa?"
“Kamu besok
ada agenda?”
“Emang ada
apa?”
“Nanya aja… susah
banget!”
“Kamu bukan
mau ngajak aku jalan kan? Basi tau.”
“Cuma mau
memastikan saja. Sesibuk apa sih perempuan yang satu ini. GR banget jadi orang.!
”
“Besok ada
riset di Garut. Hari Kamis ada acara pernikahan teman. Jum’at jadwal kuliah....”
“Oke! Hari
minggu kita jalan.”
“Bentar… kok
kamu tahu hari Minggu aku kosong?”
“Haha. Tuhan
memang selalu punya rencana indah.”
“Ih dasar yah.
Kamu dukun peramal yah?”
“Bukan. Aku
calon motivator ulung bidang luar angkasa.”
“Maaf yah, bapak
calon motivator ulung. Cita-cita itu bukan dibicarakan saja, tapi lakukan.”
“Tenang saja…
saya sedang jatuh cinta padamu.”
“Apaan sih.
Basi tau gak?”
“Emang, saya
tidak menyenangkan yah?”
“BIASA.
Sudahlah. Aku mau tidur. Banyak impian yang harus saya gapai keesokan hari.”
“Akan
kukirimkan lagi puisi untukmu malam ini.”
“Boleh… Bye…”
Suara
perempuan itu menghilang di ujung telepon.
Aku yang
sedari tadi menikmati hujan, menunggu datangnya cerah di malam itu. Aku mulai
merindukan bintang menggantikan kelabu. Ada hal yang hilang dari keberadaanku
semenjak ada Alena. Semuanya berubah. Kembali sunyi. Hanya hujan dan malam yang
menemani. Acap kali terdengar desingan radio butut yang tetap saja disetel
sebagai pengusir sepi. Aku merasa makin kecil menjadi satelit. Aku merasa makin
jauh dari poros perputaran pada planet. Aku tidak sedang bermimpi Tuhan. Aku
memang semakin jauh dan terancam musnah dari peredaran.
Aku tiba-tiba
merasakan sesuatu. Merasakan hawa kehilangan meskipun aku tidak pernah
merasakan kesedihan ditinggal oleh seorang ibu, tapi aku merasakan ketakutan
disini. Ada sosok yang akan pergi lagi meninggalkan diriku.
Ya, betul. Aku
harus mengambil sikap. Harus menentukan pilihan. Mau memaksakan Kastana fokus
kembali pada cita-citanya dan menjadi lagi Kastana yang seperti dulu, atau
membiarkan Kastana menikmati wanginya cinta yang baru pertama kali ia rasakan
ini. Betul! Biarkan Alena yang harus menjauhi Kastana. Lagian, ini hanya
pertemuan yang tidak disengaja. Masih mudah untuk menghilangkannya. Masih dini
untuk memutuskannya. Dan jikalau sudah berbuahpun, ada cara untuk mematikannya.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)