12 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 13. (SATELIT)

Bahasa dalam kehidupan manusia selalu menjadi hal paling menarik untuk diterjemahkan secara nyata. Mengikuti alunan pemahaman atau kau akan hilang tanpa tanya. Adat yang sudah menjadikan bahasa itu ada, sejak pertama kali manusia diciptakan. Hukumya memang akan jadi temurun. Mengikuti yang telah ada, atau kau akan dianggap pembangkang. Tidak ada yang berani mengubahnya. Hanya saja, adat pula tidak sadar akan adanya dinamis. Kehidupan yang selalu berubah dan berakibat fatal akan eksistensinya dalam kehidupan. Ibarat sebuah lingkaran, tidak ada ujung dan pangkalnya tidak ada awal dan akhirnya tidak ada pula yang tahu siapa yang harus bertanggungjawab. Semuanya diam tertimbun alunan pesta tanpa kata.

Begitu pula dengan satelit. Benda luar angkasa yang mengorbit pada sebuah planet atau benda lain yang lebih besar dari dirinya. Bahasa menciptakan kata, lalu kata menciptakan makna. Satelit sendiri pun dengan terpaksa harus punya definisi yang belum tentu semestinya. Adat manusialah yang memaksakan demikian. Tidak ada yang tahu lebih rinci tentang satelit. Kecuali astronot dan para ahli perbintangan. Mungkin.

Hubungan antara Kastana dengan Alena membuat diriku menjadi seakan-akan satelit belaka. Hanya berputar mengelilingi orbit, dan ukurannya pun tidak lebih besar dari planet. Aku seharusnya tidak perlu menjadi satelit. Hanya saja, aku seakan dipaksakan oleh Kastana untuk mengorbit. Aku juga tidak perlu menuruti segala kemauan planet. Lagipula, satelit dan planet hanya berdekatan. Tidak saling ketergantungan. Tidak saling terikat. Atau satu, satelit tidak akan ada tanpa planet!

Harusnya aku mulai menghunus pedang kesadaranku sendiri. Keluar dari lintasan kehidupan melihat dua manusia termabukkan oleh rasa. Menambahkan ikan segar agar lebih nikmat terasa ketika direguk. Biarkan saja mereka bermabuk ria, biarkan puisi-puisi cinta yang menggerogoti jantung mereka, biarkan bait-bait jiwa mengunyah dengan rakus isi otak mereka, biarkan mereka terhujam pedang prosa sendiri. Biarkan. Lagipula, aku tidak tega membangunkan orang yang sedang terlelap dalam cinta fatamorgana.

“Alena, saya boleh tanya sesuatu?”
Kastana berjalan menjauh saat teleponnya diangkat.

“Tanya apa?"

“Kamu besok ada agenda?”

“Emang ada apa?”

“Nanya aja… susah banget!”

“Kamu bukan mau ngajak aku jalan kan? Basi tau.”

“Cuma mau memastikan saja. Sesibuk apa sih perempuan yang satu ini. GR banget jadi orang.! ”

“Besok ada riset di Garut. Hari Kamis ada acara pernikahan teman. Jum’at jadwal kuliah....”

“Oke! Hari minggu kita jalan.”

“Bentar… kok kamu tahu hari Minggu aku kosong?”

“Haha. Tuhan memang selalu punya rencana indah.”

“Ih dasar yah. Kamu dukun peramal yah?”

“Bukan. Aku calon motivator ulung bidang luar angkasa.”

“Maaf yah, bapak calon motivator ulung. Cita-cita itu bukan dibicarakan saja, tapi lakukan.”

“Tenang saja… saya sedang jatuh cinta padamu.”

“Apaan sih. Basi tau gak?”

“Emang, saya tidak menyenangkan yah?”

“BIASA. Sudahlah. Aku mau tidur. Banyak impian yang harus saya gapai keesokan hari.”

“Akan kukirimkan lagi puisi untukmu malam ini.”

“Boleh… Bye…”

Suara perempuan itu menghilang di ujung telepon.

Aku yang sedari tadi menikmati hujan, menunggu datangnya cerah di malam itu. Aku mulai merindukan bintang menggantikan kelabu. Ada hal yang hilang dari keberadaanku semenjak ada Alena. Semuanya berubah. Kembali sunyi. Hanya hujan dan malam yang menemani. Acap kali terdengar desingan radio butut yang tetap saja disetel sebagai pengusir sepi. Aku merasa makin kecil menjadi satelit. Aku merasa makin jauh dari poros perputaran pada planet. Aku tidak sedang bermimpi Tuhan. Aku memang semakin jauh dan terancam musnah dari peredaran.

Aku tiba-tiba merasakan sesuatu. Merasakan hawa kehilangan meskipun aku tidak pernah merasakan kesedihan ditinggal oleh seorang ibu, tapi aku merasakan ketakutan disini. Ada sosok yang akan pergi lagi meninggalkan diriku.

Ya, betul. Aku harus mengambil sikap. Harus menentukan pilihan. Mau memaksakan Kastana fokus kembali pada cita-citanya dan menjadi lagi Kastana yang seperti dulu, atau membiarkan Kastana menikmati wanginya cinta yang baru pertama kali ia rasakan ini. Betul! Biarkan Alena yang harus menjauhi Kastana. Lagian, ini hanya pertemuan yang tidak disengaja. Masih mudah untuk menghilangkannya. Masih dini untuk memutuskannya. Dan jikalau sudah berbuahpun, ada cara untuk mematikannya.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)