Aku belum
pernah sepeduli ini pada manusia. Entah kenapa harus aku punya rasa kepedulian
untuk saat ini. Mungkin karena aku ditinggal ibu sejak kecil? Atau karena aku
tinggal di lingkungan yang kurang kondusif untuk rasa manusiawi yang standar?
Bahkan tata etika dan kesopanan, baru aku dapatkan saat usia tujuh belas tahun.
Terhitung terlambat aku rasa. Tapi setidaknya, aku sedang belajar menjadi
manusia yang lebih peka sosial. Kastana adalah alasan paling mendasar kenapa
aku harus peduli padanya. Minimal rasa kepedulian manusiaku mulai tumbuh sejak
ada dia.
Tapi saat ini,
aku menjadi bimbang kembali. Ada dua pengetahuan yang bercampur disini. Antara
hak hidup seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dan kewajiban orang lain
untuk mengingatkan sesama manusia. Lebih ke arah pesan moral dari agama.
Harusnya sebagai seorang manusia, aku mampu memimpin diriku sendiri. Minimal
mengambil sebuah keputusan untuk bersikap. Aku tidak perlu menjadi orang lain,
atau? Aku belum menemukan jati diri? Ah, bedebah! Mending aku mereguk kopi,
menikmati malam, menghirup bau tembakau. Kau pernah merasa bimbang untuk
mengambil sebuah keputusan? Barangkali aku harus pura-pura sok kenal dulu
kepada Tuhan? Agar aku dibimbing untuk sementara, lalu aku melarikan diri untuk
yang kesekian kalinya? Oh Tuhan… ini pertanda tidak bagus dari alam pada
diriku. Aku hanya mencoret bait-bait penuh luka. Aku hanya banyak mengkhayal
tentang apa yang akan terjadi pada Kastana. Aku terlalu takut dia kehilangan
mimpinya. Atau apa? Aku tidak pernah bermimpi. Aku hanya tertarik pada mimpi
orang lain. Membantunya untuk meraih mimpi. Lantas aku? Apakah aku harus
bermimpi pula? Ah, basi. Aku hanya perlu bekerja. Menjadi pesuruhpun tak
masalah. Yang penting kuliahku selesai, dapat pekerjaan, hidup mapan, menikah,
dan sebagainya. Aku tidak seperti Kastana. Aku manusia normal. Atau sebaliknya?
Bandung, 19 Juli 2016.
Fajar Sukma Hakiki
“Akhirnyaaaa…
enter!” aku menekan tombol enter pada keyboard komputer. Kemudian melihat
beberapa artikel dari sumber yang berbeda
untuk sebuah tugas kuliah.
“Fajar, kamu
belum pulang kan?”
“Belum teh.
Masih mau nulis curhatan dulu di blog. Ada apa?”
“Teteh nitip
kunci yah. Teteh pulang duluan. Kirana kurang enak badan.”
“Siap teh.
Nanti jam 7 malam baru saya kunci.”
“Iyah boleh.
Eh, disini serem lho. Hiiii….”
“Bodo amat.”
“Ah garing.
Bye Fajar.”
“Salam kali…”
“Assalamu’alaikum
Fajar Sukma Hakiki…”
“Kumsalam…”
Aku tidak
menoleh saat menjawab salam. Aku sudah berpadu kembali pada layar monitor di
depan.
Aku masih saja
duduk di depan layar monitor di dalam toko peralatan kantor yang baru dua bulan
ini memiliki mesin fotokopi sendiri. Disini menjadi tempat aku bekerja. Menjadi
orang yang harus membiayai satu orang lagi selain diriku. Minimal untuk membeli
rokok dan kopi. Harusnya bisa aku paksakan Kastana untuk bekerja, atau mencari
penghasilan sendiri. Tapi sampai hari ini, aku hanya diam tanpa kata. Aku lebih
mengobatinya dengan alasan memberi sedekah. Sudahlah. Tuhan hanya akan
menatapku miris jika mendapati aku mengulang-ulang tentang rencana-Nya padaku.
Aku membaca
kembali beberapa materi yang sudah dicetak. Membolak-balikkan beberapa halaman
dari buku sumber. Aku lebih suka memastikan bahwa pekerjaan aku sudah benar
tertata, daripada harus bingung dan kelabakan saat nanti sudah tiba waktunya.
Beberapa orang menyebutnya sebagai perencanaan. Ada juga yang menyebutnya
dengan siap sedia. Kastana menyebutnya: Fatamorgana. Menurut dia, semuanya
sudah direncanakan. Hanya saja, Tuhan punya kendali untuk merubah. Jadi,
percuma dengan rencana. Dia hanya percaya skenario Tuhan terjadi tanpa rencana
manusia. Terserah dia. Tapi, kata Fatamorgana juga tidak jelek untuk kujadikan
istilah dalam setiap perencanaanku. Kata Fatamorgana dengan dua penafsiran yang
berbeda antara aku dengan Kastana.
Aku lebih
tertarik membuat agenda, menyusun rencana, mencocokkan dengan jadwal kuliah,
pekerjaan atau beberapa agenda lain diluar kegiatan pada umumnya. Aku juga suka
membuat artikel via blog. Sebagai anak yang sudah ditinggal ibu sejak berusia 3
tahun, aku hanya ingat sedikit tentang sosok seorang ibu. Sisanya, aku diasuh
nenek dari keluarga ibu. Aku tidak seharusnya membuat tulisan ini. Tapi aku
juga tidak mau lagi kehilangan sosok yang penting dalam hidupku saat ini.
Kastana.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)