11 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 12. (SATELIT)

Aku belum pernah sepeduli ini pada manusia. Entah kenapa harus aku punya rasa kepedulian untuk saat ini. Mungkin karena aku ditinggal ibu sejak kecil? Atau karena aku tinggal di lingkungan yang kurang kondusif untuk rasa manusiawi yang standar? Bahkan tata etika dan kesopanan, baru aku dapatkan saat usia tujuh belas tahun. Terhitung terlambat aku rasa. Tapi setidaknya, aku sedang belajar menjadi manusia yang lebih peka sosial. Kastana adalah alasan paling mendasar kenapa aku harus peduli padanya. Minimal rasa kepedulian manusiaku mulai tumbuh sejak ada dia.

Tapi saat ini, aku menjadi bimbang kembali. Ada dua pengetahuan yang bercampur disini. Antara hak hidup seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dan kewajiban orang lain untuk mengingatkan sesama manusia. Lebih ke arah pesan moral dari agama. Harusnya sebagai seorang manusia, aku mampu memimpin diriku sendiri. Minimal mengambil sebuah keputusan untuk bersikap. Aku tidak perlu menjadi orang lain, atau? Aku belum menemukan jati diri? Ah, bedebah! Mending aku mereguk kopi, menikmati malam, menghirup bau tembakau. Kau pernah merasa bimbang untuk mengambil sebuah keputusan? Barangkali aku harus pura-pura sok kenal dulu kepada Tuhan? Agar aku dibimbing untuk sementara, lalu aku melarikan diri untuk yang kesekian kalinya? Oh Tuhan… ini pertanda tidak bagus dari alam pada diriku. Aku hanya mencoret bait-bait penuh luka. Aku hanya banyak mengkhayal tentang apa yang akan terjadi pada Kastana. Aku terlalu takut dia kehilangan mimpinya. Atau apa? Aku tidak pernah bermimpi. Aku hanya tertarik pada mimpi orang lain. Membantunya untuk meraih mimpi. Lantas aku? Apakah aku harus bermimpi pula? Ah, basi. Aku hanya perlu bekerja. Menjadi pesuruhpun tak masalah. Yang penting kuliahku selesai, dapat pekerjaan, hidup mapan, menikah, dan sebagainya. Aku tidak seperti Kastana. Aku manusia normal. Atau sebaliknya?

Bandung, 19 Juli 2016.
Fajar Sukma Hakiki


“Akhirnyaaaa… enter!” aku menekan tombol enter pada keyboard komputer. Kemudian melihat beberapa artikel dari sumber yang berbeda  untuk sebuah tugas kuliah.

“Fajar, kamu belum pulang kan?”

“Belum teh. Masih mau nulis curhatan dulu di blog. Ada apa?”

“Teteh nitip kunci yah. Teteh pulang duluan. Kirana kurang enak badan.”

“Siap teh. Nanti jam 7 malam baru saya kunci.”

“Iyah boleh. Eh, disini serem lho. Hiiii….”

“Bodo amat.”
 
“Ah garing. Bye Fajar.”

“Salam kali…”

“Assalamu’alaikum Fajar Sukma Hakiki…”

“Kumsalam…”

Aku tidak menoleh saat menjawab salam. Aku sudah berpadu kembali pada layar monitor di depan.

Aku masih saja duduk di depan layar monitor di dalam toko peralatan kantor yang baru dua bulan ini memiliki mesin fotokopi sendiri. Disini menjadi tempat aku bekerja. Menjadi orang yang harus membiayai satu orang lagi selain diriku. Minimal untuk membeli rokok dan kopi. Harusnya bisa aku paksakan Kastana untuk bekerja, atau mencari penghasilan sendiri. Tapi sampai hari ini, aku hanya diam tanpa kata. Aku lebih mengobatinya dengan alasan memberi sedekah. Sudahlah. Tuhan hanya akan menatapku miris jika mendapati aku mengulang-ulang tentang rencana-Nya padaku.

Aku membaca kembali beberapa materi yang sudah dicetak. Membolak-balikkan beberapa halaman dari buku sumber. Aku lebih suka memastikan bahwa pekerjaan aku sudah benar tertata, daripada harus bingung dan kelabakan saat nanti sudah tiba waktunya. Beberapa orang menyebutnya sebagai perencanaan. Ada juga yang menyebutnya dengan siap sedia. Kastana menyebutnya: Fatamorgana. Menurut dia, semuanya sudah direncanakan. Hanya saja, Tuhan punya kendali untuk merubah. Jadi, percuma dengan rencana. Dia hanya percaya skenario Tuhan terjadi tanpa rencana manusia. Terserah dia. Tapi, kata Fatamorgana juga tidak jelek untuk kujadikan istilah dalam setiap perencanaanku. Kata Fatamorgana dengan dua penafsiran yang berbeda antara aku dengan Kastana.

Aku lebih tertarik membuat agenda, menyusun rencana, mencocokkan dengan jadwal kuliah, pekerjaan atau beberapa agenda lain diluar kegiatan pada umumnya. Aku juga suka membuat artikel via blog. Sebagai anak yang sudah ditinggal ibu sejak berusia 3 tahun, aku hanya ingat sedikit tentang sosok seorang ibu. Sisanya, aku diasuh nenek dari keluarga ibu. Aku tidak seharusnya membuat tulisan ini. Tapi aku juga tidak mau lagi kehilangan sosok yang penting dalam hidupku saat ini. Kastana.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)