9 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 11. (SATELIT)

A-L-E-N-A S-A-S-M-I-T-A. Nama perempuan berparas cantik bak bidadari yang pertama kali bertemu secara tidak sengaja di salah satu gerbong kereta menuju Observatorium Bosscha di Lembang. Alena harus bertanggung jawab pada kehadirannya dalam kehidupan kami. Dia sudah membuat sahabatku terobsesi dengan dirinya. Jangan sampai Alena menjadi musibah paling indah bagi Kastana. Aku tidak rela mimpinya hancur hanya karena terpukau oleh seorang manusia.

            Alena ibarat bintang. Benda langit yang memancarkan cahaya yang mempesona. Bintang selalu terlihat terang saat malam gelap. Kerlipnya menunjukkan keindahan, ketenangan jiwa dan pemanis bagi gelap. Namun kau harus sadar bahwa, ada sisi lain yang disembunyikan bintang secara rapih. Ada hal yang tidak diungkapkan malam tentang bintang. Bintang memang susah diatur untuk tidak bercahaya. Dan malam menjadi tidak dianggap oleh kehadirannya.

            Anggaplah Alena menjadi cahaya baru dalam hidup Kastana. Membuat Kastana menjadi sosok yang lebih bersemangat dalam hidup untuk dikatakan ‘normal’. Tapi dia tidak sadar kalau Kastana menjadi redup dari sisi yang berbeda. Entah jiwa gilanya tentang ilmu pengetahuan menjadi redup, atau makin benderang bak cahaya purnama. Aku harusnya bertanggung jawab akan hal ini, atau sebaliknya? Aku tidak punya hak untuk mengatur hidup seseorang, meski dia adalah sahabat karibku. Entahlah. Aku masih bingung untuk menentukan sikap. Biarlah Kastana menjadi dirinya sendiri, walau resikonya adalah kehilangan akan impiannya.

“Wah… Bengong saja kau ini.” Kastana menepuk pundakku pada suatu malam di teras kos-an.

“Eh? Tidak. Santai aja Kas.”

“Kau kenapa? Kau galau? Ini hp mu saya pulangkan.” Kastana meletakkannya di atas meja.

“Ya tadi kasihan Kas. Ada ibu-ibu setengah baya di tempat fotokopi minta sumbangan, sambil bawa proposal gitu. Lusuh lagi proposalnya.”

“Itu hanya formalitas Jar. Biar tidak terlihat mengemis. Terus, kau kasih dia uang?”

“Tidak. Saya kasih contoh proposal yang baru.”

“Kau sakit!”

“Hahaha. Kamu mending putarkan kopi. Tolonglah.”

“Siap komandan!” Kastana sudah melesat ke dalam kamar.

Aku harusnya tidak perlu berbohong barusan. Tentang kejadian di tempat fotokopi tempat aku bekerja. Cerita seorang ibu yang meminta sumbangan hanya karangan belaka. Tapi paling tidak, Kastana tidak mendapati aku sedang bimbang tentang sesuatu. Apalagi harus memikirkan tentang nasibnya. Sepertinya aku memang tidak punya hak tentang itu.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)