A-L-E-N-A S-A-S-M-I-T-A.
Nama perempuan berparas cantik bak bidadari yang pertama kali bertemu secara
tidak sengaja di salah satu gerbong kereta menuju Observatorium Bosscha di
Lembang. Alena harus bertanggung jawab pada kehadirannya dalam kehidupan kami.
Dia sudah membuat sahabatku terobsesi dengan dirinya. Jangan sampai Alena
menjadi musibah paling indah bagi Kastana. Aku tidak rela mimpinya hancur hanya
karena terpukau oleh seorang manusia.
Alena ibarat bintang. Benda langit
yang memancarkan cahaya yang mempesona. Bintang selalu terlihat terang saat
malam gelap. Kerlipnya menunjukkan keindahan, ketenangan jiwa dan pemanis bagi
gelap. Namun kau harus sadar bahwa, ada sisi lain yang disembunyikan bintang
secara rapih. Ada hal yang tidak diungkapkan malam tentang bintang. Bintang
memang susah diatur untuk tidak bercahaya. Dan malam menjadi tidak dianggap
oleh kehadirannya.
Anggaplah Alena menjadi cahaya baru
dalam hidup Kastana. Membuat Kastana menjadi sosok yang lebih bersemangat dalam
hidup untuk dikatakan ‘normal’. Tapi dia tidak sadar kalau Kastana menjadi
redup dari sisi yang berbeda. Entah jiwa gilanya tentang ilmu pengetahuan
menjadi redup, atau makin benderang bak cahaya purnama. Aku harusnya
bertanggung jawab akan hal ini, atau sebaliknya? Aku tidak punya hak untuk
mengatur hidup seseorang, meski dia adalah sahabat karibku. Entahlah. Aku masih
bingung untuk menentukan sikap. Biarlah Kastana menjadi dirinya sendiri, walau
resikonya adalah kehilangan akan impiannya.
“Wah… Bengong
saja kau ini.” Kastana menepuk pundakku pada suatu malam di teras kos-an.
“Eh? Tidak. Santai
aja Kas.”
“Kau kenapa?
Kau galau? Ini hp mu saya pulangkan.” Kastana meletakkannya di atas meja.
“Ya tadi
kasihan Kas. Ada ibu-ibu setengah baya di tempat fotokopi minta sumbangan,
sambil bawa proposal gitu. Lusuh lagi proposalnya.”
“Itu hanya
formalitas Jar. Biar tidak terlihat mengemis. Terus, kau kasih dia uang?”
“Tidak. Saya
kasih contoh proposal yang baru.”
“Kau sakit!”
“Hahaha. Kamu
mending putarkan kopi. Tolonglah.”
“Siap
komandan!” Kastana sudah melesat ke dalam kamar.
Aku harusnya
tidak perlu berbohong barusan. Tentang kejadian di tempat fotokopi tempat aku
bekerja. Cerita seorang ibu yang meminta sumbangan hanya karangan belaka. Tapi
paling tidak, Kastana tidak mendapati aku sedang bimbang tentang sesuatu.
Apalagi harus memikirkan tentang nasibnya. Sepertinya aku memang tidak punya
hak tentang itu.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)