Dalam
perjalanan pulang, kami memutuskan untuk singgah ke warung Pak Dadang.
Sebenarnya, tidak hanya ada warung Pak Dadang disana. Hanya saja, makanan di
warung Pak Dadang lebih murah harganya, dan yang paling penting, Pak Dadang
membolehkan kami mengutang. Teori bertahan hidup paling klasik sebagai
mahasiswa penghuni kos-kosan.
Pak Dadang
juga pernah berkata
“Kalau kalian memang belum punya uang untuk membayar, utang
saja dulu. Bapak juga punya anak. Kalau masih hidup, mungkin seumuran kalian.
Anggap saja ini bapak sedang menafkahi anak sendiri.”
Wajah Pak
Dadang tiba-tiba sedih. Ada bentuk penyesalan seorang ayah disana. Aku dan
Kastana juga tidak menanyakan kelanjutan cerita Pak Dadang, atau cerita tentang
musibah yang menimpa anaknya.
Kami meresapi
itu sebagai seorang anak. Ada nilai moral disana. Aku dan Kastana juga
tiba-tiba saling bertatap muka, melihat satu sama lain, lalu meraih dengan
sigap handphone yang ada di meja
untuk menghubungi keluarga. Kami memang sering kacau dengan hal-hal kecil.
Sebenarnya,
Kastana mampu membeli handphone jika
dia mau. Masalahnya, dia lebih menghargai buku atau setumpuk benda rongsokan
lainnya karena sebuah alasan: RISET.
Kastana juga
pernah bilang:
“Fajar, kau
harus sadar. Hp itu adalah bentuk penjajahan paling lembut zaman modern. Mereka
membuat kita senyaman mungkin dengan berbagai fasilitas dalam genggaman. Itu
penghegemonian secara total Jar. Kau akan dibodohi oleh alat canggih itu Jar.
Kau akan lupa waktu. Kau akan jadi anti sosial. Manusia akan berpecah belah.
Lebih mementingkan urusan pribadi daripada kepentingan publik. Itu kan, salah
satu teori konspirasi dari buku ‘Novus Ordo Seclorum’ karya Zaynur Ridwan.
Kalau tidak salah.”
Aku hanya
mengangguk mendengarkan penjelasan hebat darinya. Anggap saja ini seminar
pertamanya sebagai pembicara. Tapi hal itu sekarang berubah drastis, semenjak
dia mengenal Alena. Orang yang tadinya memang benar-benar anti pada teknologi praktis,
sekarang menjadi budak setia. Dia sudah lebih sering meminjam handphoneku untuk berkomunikasi dengan
Alena.
Aku juga
melihatnya sudah mau lebih merawat diri sekarang. Mungkin dia minder juga kalau
harus ketemu Alena dengan keadaan badan bau sampah. Aku tersenyum lebar
sekarang. Kastana berubah menjadi lebih baik dalam merawat tubuh, menjadi
pemuda yang lebih bersih dan wangi. Minimal dia juga sudah mau ganti baju tiap
hari, mandi tiap hari, dan mau mencuci sepatunya.
Kastana
seperti terlahir kembali dari asal planet yang berbeda. Kastana yang kau harus
bayangkan saat ini adalah, Kastana yang bersih, wangi dan rapih. Sempurna untuk
menjadi seorang pembicara ulung, motivator paling handal, serta sederet istilah
mentereng untuk seorang ilmuwan muda.
Hari –hari
berlalu dengan komunikasi antara Kastana dan Alena yang makin sering. Kastana
memang punya bakat untuk menarik hati perempuan. Buku-buku yang sering
berserakan di kasur untuk riset tidak jelasnya itu berganti dengan kumpulan
kertas penuh coretan. Aku melihat dia lebih berpuisi girang disana. Inilah
musibah bermula.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)