8 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 10. (BINTANG)

Dalam perjalanan pulang, kami memutuskan untuk singgah ke warung Pak Dadang. Sebenarnya, tidak hanya ada warung Pak Dadang disana. Hanya saja, makanan di warung Pak Dadang lebih murah harganya, dan yang paling penting, Pak Dadang membolehkan kami mengutang. Teori bertahan hidup paling klasik sebagai mahasiswa penghuni kos-kosan.

Pak Dadang juga pernah berkata

“Kalau kalian memang belum punya uang untuk membayar, utang saja dulu. Bapak juga punya anak. Kalau masih hidup, mungkin seumuran kalian. Anggap saja ini bapak sedang menafkahi anak sendiri.” 

Wajah Pak Dadang tiba-tiba sedih. Ada bentuk penyesalan seorang ayah disana. Aku dan Kastana juga tidak menanyakan kelanjutan cerita Pak Dadang, atau cerita tentang musibah yang menimpa anaknya.

Kami meresapi itu sebagai seorang anak. Ada nilai moral disana. Aku dan Kastana juga tiba-tiba saling bertatap muka, melihat satu sama lain, lalu meraih dengan sigap handphone yang ada di meja untuk menghubungi keluarga. Kami memang sering kacau dengan hal-hal kecil.

Sebenarnya, Kastana mampu membeli handphone jika dia mau. Masalahnya, dia lebih menghargai buku atau setumpuk benda rongsokan lainnya karena sebuah alasan: RISET.

Kastana juga pernah bilang:
“Fajar, kau harus sadar. Hp itu adalah bentuk penjajahan paling lembut zaman modern. Mereka membuat kita senyaman mungkin dengan berbagai fasilitas dalam genggaman. Itu penghegemonian secara total Jar. Kau akan dibodohi oleh alat canggih itu Jar. Kau akan lupa waktu. Kau akan jadi anti sosial. Manusia akan berpecah belah. Lebih mementingkan urusan pribadi daripada kepentingan publik. Itu kan, salah satu teori konspirasi dari buku ‘Novus Ordo Seclorum’ karya Zaynur Ridwan. Kalau tidak salah.”

Aku hanya mengangguk mendengarkan penjelasan hebat darinya. Anggap saja ini seminar pertamanya sebagai pembicara. Tapi hal itu sekarang berubah drastis, semenjak dia mengenal Alena. Orang yang tadinya memang benar-benar anti pada teknologi praktis, sekarang menjadi budak setia. Dia sudah lebih sering meminjam handphoneku untuk berkomunikasi dengan Alena.

Aku juga melihatnya sudah mau lebih merawat diri sekarang. Mungkin dia minder juga kalau harus ketemu Alena dengan keadaan badan bau sampah. Aku tersenyum lebar sekarang. Kastana berubah menjadi lebih baik dalam merawat tubuh, menjadi pemuda yang lebih bersih dan wangi. Minimal dia juga sudah mau ganti baju tiap hari, mandi tiap hari, dan mau mencuci sepatunya.

Kastana seperti terlahir kembali dari asal planet yang berbeda. Kastana yang kau harus bayangkan saat ini adalah, Kastana yang bersih, wangi dan rapih. Sempurna untuk menjadi seorang pembicara ulung, motivator paling handal, serta sederet istilah mentereng untuk seorang ilmuwan muda.

Hari –hari berlalu dengan komunikasi antara Kastana dan Alena yang makin sering. Kastana memang punya bakat untuk menarik hati perempuan. Buku-buku yang sering berserakan di kasur untuk riset tidak jelasnya itu berganti dengan kumpulan kertas penuh coretan. Aku melihat dia lebih berpuisi girang disana. Inilah musibah bermula.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)