Kau pernah
menatap bintang? Apa yang kau dapat disana? Indah? Betul. Bintang memang indah
saat malam telah menyelimuti. Bintang memang kecil menurut sebagian orang.
Bintang juga berukuran besar menurut sebagian orang yang lain. Tapi apakah
bintang memang seperti itu? Kau tidak akan pernah tahu pasti. Malam memang suka
membuat misteri.
Begitu juga bintang. Tidak ada yang benar-benar yakin dengan ukurannya. Tidak ada yang benar-benar menyebut dengan pasti mengenai cahayanya. Tapi apapun perkaramu tentang bintang, dia berhasil membuatmu takjub. Bahkan, bintang juga mampu membuatmu terkesima dengan tampilannya. Kau juga harus tahu bahwa bintang menjadi penunjuk arah saat di laut bagi nelayan. Bintang bukan hanya sekadar bintang. Lebih dari itu, dia adalah penunjuk bagi yang terpuruk, pengindah bagi yang resah, penerang bagi yang sedang bungkam. Tuhan memang selalu adil dalam mencipta. Alam semesta adalah mahakarya tanpa tanding.
Begitu juga bintang. Tidak ada yang benar-benar yakin dengan ukurannya. Tidak ada yang benar-benar menyebut dengan pasti mengenai cahayanya. Tapi apapun perkaramu tentang bintang, dia berhasil membuatmu takjub. Bahkan, bintang juga mampu membuatmu terkesima dengan tampilannya. Kau juga harus tahu bahwa bintang menjadi penunjuk arah saat di laut bagi nelayan. Bintang bukan hanya sekadar bintang. Lebih dari itu, dia adalah penunjuk bagi yang terpuruk, pengindah bagi yang resah, penerang bagi yang sedang bungkam. Tuhan memang selalu adil dalam mencipta. Alam semesta adalah mahakarya tanpa tanding.
“Fajar, sini!”
Kastana melambaikan tangan lalu berbisik padaku saat mendekat.
“Sini, duduk
dulu.!” Dia menepuk salah satu dudukan kursi plastik di sampingnya. Aku melihat
semangat Kastana berkobar disana. Kami duduk di salah satu pojok aula yang 4
menit lagi akan dimulai acara seminar dan bedah bukunya.
“Ada apa?” Aku
menarik kursi.
“Kau harus tahu
kalau semesta memang sudah merencanakan pertemuan ini. Kau lihat perempuan yang
berkacamata itu?”
Kastana menunjuk pelan ke arah seorang perempuan yang sibuk
menatap layar handphonenya.
“Astaga! Dia!
Aku menang Kas! Haha!” Tertawaku ternyata mengalihkan perhatian yang lain. Semua
menoleh ke arah kami sebentar.
“Sssstt.!!!
Berisik! Kau tahu Jar, bahwa ini sudah ketiga kalinya kita bertemu dengan
perempuan ini. Ini bukan kebetulan Jar! Ini skenario Tuhan. Terima kasih
semesta.
“Berarti kau
akan mandi tiap hari!”
“Persetan
dengan perjudian kita. Saya akan mandi sejam sekali kalau saya sudah dapat
nomer handphonenya.!” Kastana meremas
jari. Air mukanya makin bersemangat.
“Saya harus
dapatkan nomer handphonenya Jar!
Harus!”
Kastana mengepalkan tangan. Uratnya terlihat dari balik kulit
lengannya.
“Tapi kan kau
tidak punya handphone.”
“Oh iya saya
lupa.”
Kastana berhenti sejenak.
“Tapi kan saya
bisa pinjam handphone kamu.”
“Itu tidak ada
dalam perjudian Kas!”
“Astaga.
Ayolah. Kau tidak paham juga. Ini hati Jar. Bukan permen Yuppi.”
Wajahnya
memelas. Berekspresi sesedih mungkin. Munafik.
“Dasar alien!”
“Itu saya
anggap jawaban setuju.”
“Terserah!
Bedebah!”
“Kau memang
sobat terbaik Jar. “Yes! Yes! Yeah!! Terima kasih semesta!”
Kastana masih saja
meremas tangannya. Tinjunya belum dilemaskan. Masih berurat tanda semangat.
Lalu Kastana mendadak memelukku dan tiba-tiba mencium pipiku.
Mohon tenang!
Kami bukan pasangan penyuka sesama jenis. Ini hanya bentuk kegirangan Kastana.
Tapi aku mau muntah.
Ini kali
keduanya aku melihat Kastana tersihir oleh sesuatu. Yang pertama adalah
kegilaannya pada ilmu pengetahuan, dan yang kedua kegilaannya tentang perempuan
itu. Andaikata ada bidadari langit yang tersesat, Alena lah orangnya.
Hari itu di
penghujung acara, Kastana memberanikan diri untuk berkenalan dengan Alena. Handphone ku juga sudah dirampas oleh
Kastana.
“Mbak, mbak
Alena. Tunggu sebentar. Aku sangat tertarik dengan kemampuan anda. Anda adalah
sosok perempuan yang berprestasi. Anda tahu bahwa Kartini masa depan adalah
anda! Anda seorang.” Matanya menyala-nyala.
Aku
memperhatikan Kastana dari jauh. Ibarat seorang pemain sirkus yang sedang
beraksi di depan panggung yang dipenuhi penonton.
“Oh ya? Terima
kasih loh atas pujiannya.”
“Tahan mbak.
Tahan. Itu bukan pujian. Tapi ungkapan jujur dari seorang pecinta ilmu seperti
saya.”
Alena hanya
tersenyum. “Langsung saja. Intinya apa?”
“Nomer handphone anda. Barangkali ada hal yang
perlu saya tanyakan nanti.”
“Oh Tuhan.
Antusias sekali anda.!”
Aku menilai,
ekspresi Alena itu hanyalah sebuah bentuk penghargaan kepada Kastana.
Manusiawi. Hanya saja kurang ekspresif. Jadinya ketahuan usaha aktingnya itu.
“Saya
Kastana.” Kastana menyodorkan tangan. Kemudian mereka berjabat tangan.
"Alena. Alena Sasmita."
"Alena. Alena Sasmita."
Aku tidak
habis pikir dengan Kastana. Kenapa seorang laki-laki yang sebenarnya antipati
pada perempuan, hari ini berubah drastis jadi gila. Dia kesurupan, pikirku.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)