5 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 9. (BINTANG)


Kau pernah menatap bintang? Apa yang kau dapat disana? Indah? Betul. Bintang memang indah saat malam telah menyelimuti. Bintang memang kecil menurut sebagian orang. Bintang juga berukuran besar menurut sebagian orang yang lain. Tapi apakah bintang memang seperti itu? Kau tidak akan pernah tahu pasti. Malam memang suka membuat misteri.

Begitu juga bintang. Tidak ada yang benar-benar yakin dengan ukurannya. Tidak ada yang benar-benar menyebut dengan pasti mengenai cahayanya. Tapi apapun perkaramu tentang bintang, dia berhasil membuatmu takjub. Bahkan, bintang juga mampu membuatmu terkesima dengan tampilannya. Kau juga harus tahu bahwa bintang menjadi penunjuk arah saat di laut bagi nelayan. Bintang bukan hanya sekadar bintang. Lebih dari itu, dia adalah penunjuk bagi yang terpuruk, pengindah bagi yang resah, penerang bagi yang sedang bungkam. Tuhan memang selalu adil dalam mencipta. Alam semesta adalah mahakarya tanpa tanding.

“Fajar, sini!” Kastana melambaikan tangan lalu berbisik padaku saat mendekat.

“Sini, duduk dulu.!” Dia menepuk salah satu dudukan kursi plastik di sampingnya. Aku melihat semangat Kastana berkobar disana. Kami duduk di salah satu pojok aula yang 4 menit lagi akan dimulai acara seminar dan bedah bukunya.

“Ada apa?” Aku menarik kursi.

“Kau harus tahu kalau semesta memang sudah merencanakan pertemuan ini. Kau lihat perempuan yang berkacamata itu?”

Kastana menunjuk pelan ke arah seorang perempuan yang sibuk menatap layar handphonenya.

“Astaga! Dia! Aku menang Kas! Haha!” Tertawaku ternyata mengalihkan perhatian yang lain. Semua menoleh ke arah kami sebentar.

“Sssstt.!!! Berisik! Kau tahu Jar, bahwa ini sudah ketiga kalinya kita bertemu dengan perempuan ini. Ini bukan kebetulan Jar! Ini skenario Tuhan. Terima kasih semesta.

“Berarti kau akan mandi tiap hari!”

“Persetan dengan perjudian kita. Saya akan mandi sejam sekali kalau saya sudah dapat nomer handphonenya.!” Kastana meremas jari. Air mukanya makin bersemangat.

“Saya harus dapatkan nomer handphonenya Jar! Harus!”

Kastana mengepalkan tangan. Uratnya terlihat dari balik kulit lengannya.

“Tapi kan kau tidak punya handphone.

“Oh iya saya lupa.”

Kastana berhenti sejenak.
“Tapi kan saya bisa pinjam handphone kamu.”

“Itu tidak ada dalam perjudian Kas!”

“Astaga. Ayolah. Kau tidak paham juga. Ini hati Jar. Bukan permen Yuppi.” 
Wajahnya memelas. Berekspresi sesedih mungkin. Munafik.

“Dasar alien!”

“Itu saya anggap jawaban setuju.”

“Terserah! Bedebah!”

“Kau memang sobat terbaik Jar. “Yes! Yes! Yeah!! Terima kasih semesta!”

Kastana masih saja meremas tangannya. Tinjunya belum dilemaskan. Masih berurat tanda semangat. Lalu Kastana mendadak memelukku dan tiba-tiba mencium pipiku.

Mohon tenang! Kami bukan pasangan penyuka sesama jenis. Ini hanya bentuk kegirangan Kastana. Tapi aku mau muntah.

Ini kali keduanya aku melihat Kastana tersihir oleh sesuatu. Yang pertama adalah kegilaannya pada ilmu pengetahuan, dan yang kedua kegilaannya tentang perempuan itu. Andaikata ada bidadari langit yang tersesat, Alena lah orangnya.

Hari itu di penghujung acara, Kastana memberanikan diri untuk berkenalan dengan Alena. Handphone ku juga sudah dirampas oleh Kastana.

“Mbak, mbak Alena. Tunggu sebentar. Aku sangat tertarik dengan kemampuan anda. Anda adalah sosok perempuan yang berprestasi. Anda tahu bahwa Kartini masa depan adalah anda! Anda seorang.” Matanya menyala-nyala.

Aku memperhatikan Kastana dari jauh. Ibarat seorang pemain sirkus yang sedang beraksi di depan panggung yang dipenuhi penonton.

“Oh ya? Terima kasih loh atas pujiannya.”

“Tahan mbak. Tahan. Itu bukan pujian. Tapi ungkapan jujur dari seorang pecinta ilmu seperti saya.”

Alena hanya tersenyum. “Langsung saja. Intinya apa?”

“Nomer handphone anda. Barangkali ada hal yang perlu saya tanyakan nanti.”
“Oh Tuhan. Antusias sekali anda.!”

Aku menilai, ekspresi Alena itu hanyalah sebuah bentuk penghargaan kepada Kastana. Manusiawi. Hanya saja kurang ekspresif. Jadinya ketahuan usaha aktingnya itu.

“Saya Kastana.” Kastana menyodorkan tangan. Kemudian mereka berjabat tangan.

"Alena. Alena Sasmita."

Aku tidak habis pikir dengan Kastana. Kenapa seorang laki-laki yang sebenarnya antipati pada perempuan, hari ini berubah drastis jadi gila. Dia kesurupan, pikirku.

***

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)