Pagi hari
sejak mimpi buruk tadi malam, aku sudah tidak tidur lagi. Memilih membuka
beberapa materi kuliah yang sempat tertinggal saat ke Bosscha kemarin. Suasana
kos-an sudah mulai berisik dengan suara radio pagi, obrolan para penghuni lain dan
beberapa mahasiswa yang sudah sibuk menyiapkan diri. Mungkin kuliah pagi. Ada
juga yang masih duduk santai di teras dengan segelas kopi hitam hangat. Masih
memakai sarung pula. Ini gambaran paling lazim para mahasiswa pada umumnya.
Khususnya di kos-an yang aku tempati.
“Kas, kau
tidak ikut?”
Kastana yang
masih berbaring di atas kasurnya berusaha untuk duduk. Wajahnya masih ngantuk.
Sempoyongan, lalu meraih gelas dan menuangkan air.
“Kemana?”
“Hari ini ada
seminar dan bedah buku di kampus.”
“Buku apa?
Pematerinya siapa? Darimana? Pernah mendapat penghargaan apa?”
“Sudahlah…
Kamu ikut saja. Pasti keren.”
“Saya harus
mandi atau tidak usah?”
“Astaga. Mandi
Kas! Ini sudah hari ke lima kau hanya gosok gigi dan cuci muka.”
“Pinjam
sabunmu. Sikat gigi dan odolnya juga.”
“Astaga…
Bagaimana kalau disana ada perempuan cantik? Terus ketemu dengan calon
motivator ulung, pembicara paling ekslusif, jadwal seminar yang padat tapi bau
badan. Sikat gigi saja kamu masih pake punya saya?”
“Sudahlah Jar…
Tidak akan kau temui perempuan seindah dia yang kemarin ada di kereta itu di kampus
kita.”
Aku
membalikkan badan setelah mengaitkan kancing baju yang terakhir.
“Bagaimana
kalau ada? Berani tarung?”
“Bagaimana
kalau kau ketemu lagi dengan perempuan kemarin?” Lanjutku. Aku sengaja
menantang. Membuat beberapa kemungkinan. Minimal dia penasaran dengan acara
ini.
“Kalau saya
menang, kau harus mau mandi. Minimal sehari sekali. Bukan seminggu sekali.”
“Kalau saya
yang menang?” Kastana bertanya.
“Handphone saya kau pake saja seminggu”
“Deal?” Aku
menyodorkan tangan.
“Deal! Aku
gosok gigi saja.”
“Dasar alien!”
“Bodo amat!”
Kastana menyambar sebuah handuk. Berjalan ke kamar mandi.
Dalam
perjalanan menuju kampus, Kastana berkomentar.
“Eh,
pematerinya siapa?”
“Tidak tau.
Katanya perempuan muda gitu.”
“Alah. Paling
juga wanita sok idealis, merasa paling berprestasi dan menunjukkan kualitas
diri biar dapat calon suami yang keren.”
“Bodo ah.
Lagian, dia bersedia untuk tidak dibayar Kas. Itu yang lebih penting.”
“Gila kau.
Eksploitasi manusia!”
“Lah, yang mau
kan dia. Lagipula dari pihak panitia tidak memaksa.”
“Kampus
murahan nih, kayak gini nih. Tidak mau bersedia mengeluarkan biaya.”
“Anggap saja
ini amal bakti Kas.”
“Baguslah.
Minimal punya perilaku baik dihadapan Tuhan.”
“Urus tuh
diri!”
“Mulai lagi…
Kau tidak akan siap Jar, kalau nanti teori saya sudah diakui”
“Mimpi saja
terus…”
“Kamu ingat
kata Einstein? Dia kan pernah bilang bahwa…”
Belum lanjut
Kastana berbicara, aku sudah berjalan menjauhinya. Menuju tempat kumpul
panitia. Kastana langsung menuju aula utama. Menunggu disana sambil merokok
bersama beberapa teman kelas atau orang lain yang kebetulan kenal.
“Ayu, siapa
pembicaranya?” Aku bertanya, berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kastana. Aku juga penasaran.
“Oh… Mbak
Alena. Lengkapnya Alena Sasmita. Nih biografinya.”
Ayu memberikan
selembar kertas berisi biografi perempuan tadi.
“Dia itu salah
satu pemerhati lingkungan. Ilmuwan muda juga dalam bidang sains. Katanya dia
juga sedang membuat riset tentang ruang angkasa gitu.”
Ayu terus saja berucap.
Melengkapi sekelumit informasi yang ada pada biografi tadi.
Aku menerawang
lebih jauh. “Kira-kira perempuan ini siapa?”
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)