4 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 8. (BINTANG)

Pagi hari sejak mimpi buruk tadi malam, aku sudah tidak tidur lagi. Memilih membuka beberapa materi kuliah yang sempat tertinggal saat ke Bosscha kemarin. Suasana kos-an sudah mulai berisik dengan suara radio pagi, obrolan para penghuni lain dan beberapa mahasiswa yang sudah sibuk menyiapkan diri. Mungkin kuliah pagi. Ada juga yang masih duduk santai di teras dengan segelas kopi hitam hangat. Masih memakai sarung pula. Ini gambaran paling lazim para mahasiswa pada umumnya. Khususnya di kos-an yang aku tempati.

“Kas, kau tidak ikut?”

Kastana yang masih berbaring di atas kasurnya berusaha untuk duduk. Wajahnya masih ngantuk. Sempoyongan, lalu meraih gelas dan menuangkan air.

“Kemana?”

“Hari ini ada seminar dan bedah buku di kampus.”

“Buku apa? Pematerinya siapa? Darimana? Pernah mendapat penghargaan apa?”

“Sudahlah… Kamu ikut saja. Pasti keren.”

“Saya harus mandi atau tidak usah?”

“Astaga. Mandi Kas! Ini sudah hari ke lima kau hanya gosok gigi dan cuci muka.”

“Pinjam sabunmu. Sikat gigi dan odolnya juga.”

“Astaga… Bagaimana kalau disana ada perempuan cantik? Terus ketemu dengan calon motivator ulung, pembicara paling ekslusif, jadwal seminar yang padat tapi bau badan. Sikat gigi saja kamu masih pake punya saya?”

“Sudahlah Jar… Tidak akan kau temui perempuan seindah dia yang kemarin ada di kereta itu di kampus kita.”

Aku membalikkan badan setelah mengaitkan kancing baju yang terakhir.
 
“Bagaimana kalau ada? Berani tarung?” 

“Bagaimana kalau kau ketemu lagi dengan perempuan kemarin?” Lanjutku. Aku sengaja menantang. Membuat beberapa kemungkinan. Minimal dia penasaran dengan acara ini.

“Kalau saya menang, kau harus mau mandi. Minimal sehari sekali. Bukan seminggu sekali.”

“Kalau saya yang menang?” Kastana bertanya.

Handphone saya kau pake saja seminggu”

“Deal?” Aku menyodorkan tangan.

“Deal! Aku gosok gigi saja.”

“Dasar alien!”

“Bodo amat!” Kastana menyambar sebuah handuk. Berjalan ke kamar mandi.

Dalam perjalanan menuju kampus, Kastana berkomentar.

“Eh, pematerinya siapa?”

“Tidak tau. Katanya perempuan muda gitu.”

“Alah. Paling juga wanita sok idealis, merasa paling berprestasi dan menunjukkan kualitas diri biar dapat calon suami yang keren.”

“Bodo ah. Lagian, dia bersedia untuk tidak dibayar Kas. Itu yang lebih penting.”

“Gila kau. Eksploitasi manusia!”

“Lah, yang mau kan dia. Lagipula dari pihak panitia tidak memaksa.”

“Kampus murahan nih, kayak gini nih. Tidak mau bersedia mengeluarkan biaya.”

“Anggap saja ini amal bakti Kas.”

“Baguslah. Minimal punya perilaku baik dihadapan Tuhan.”

“Urus tuh diri!”

“Mulai lagi… Kau tidak akan siap Jar, kalau nanti teori saya sudah diakui”

“Mimpi saja terus…”

“Kamu ingat kata Einstein? Dia kan pernah bilang bahwa…”

Belum lanjut Kastana berbicara, aku sudah berjalan menjauhinya. Menuju tempat kumpul panitia. Kastana langsung menuju aula utama. Menunggu disana sambil merokok bersama beberapa teman kelas atau orang lain yang kebetulan kenal.

“Ayu, siapa pembicaranya?” Aku bertanya, berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kastana. Aku juga penasaran.

“Oh… Mbak Alena. Lengkapnya Alena Sasmita. Nih biografinya.”

Ayu memberikan selembar kertas berisi biografi perempuan tadi.

“Dia itu salah satu pemerhati lingkungan. Ilmuwan muda juga dalam bidang sains. Katanya dia juga sedang membuat riset tentang ruang angkasa gitu.”

Ayu terus saja berucap. Melengkapi sekelumit informasi yang ada pada biografi tadi.

Aku menerawang lebih jauh. “Kira-kira perempuan ini siapa?”

***

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)