Kami berdua
kemudian berlari, mengejar pusat cahaya, tempat kerumunan banyak orang yang
menyaksikan tanpa kata. Ada darah yang bersimbah disana. Beberapa meter dari
kerumunan, ada plang jalan yang terlihat patah akibat tabrakan. Disamping kiri
jalan ada sebuah mobil sedan dalam keadaan setengah hancur. Aku tidak pernah
menyangka akan kejadian ini. Dalam keadaan yang benar-benar kalut dan bingung.
Kau tahu bahwa aku sudah hilang akal. Keakraban yang sudah terjalin hampir enam
bulan ini seakan direnggut paksa oleh Tuhan. Aku belum siap bahwa Kastana harus
meninggal. Aku harus mengenangnya seperti apa? Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak
sempat mengucapkan sesuatu untuk yang terakhir kalinya.
“Kau Fajar?”
“Iya. Iya Pak.
Saya Fajar!”
“Bawa mayat
temanmu pulang. Tidak akan ada yang peduli disini. Kalian hanya menyusahkan.
Semesta mengutuk kalian!”
Wajah pria itu
memerah. Matanya melotot tajam.
“Ba ba baik
Pak.”
Aku gemetar. Benar-benar kebingungan. Ijul juga mendadak lenyap.
Tinggal aku
dan Kastana yang sudah terbujur kaku. Aku melangkah beberapa meter mencari
pertolongan, siapapun itu. Oh. Andaikata Tuhan tiba-tiba turun dan mengambil
kami berdua, atau tiba-tiba iblis datang dan menjemput kami ke neraka.
Terserahlah. Aku pasrah.
Rintikan hujan
kembali terasa. Membumbui dan menyegarkan bau darah Kastana. Daging-daging yang
tergores aspal jalan seakan makin terjalin erat dengan suasana hujan ini. Hujan
kematian. Hening. Aku berbalik arah, kembali mendekati mayat Kastana. Kulihat kepalanya
menganga, bekas benda tumpul yang terbentur keras dan menyebabkan lubang. Hujan
semakin lebat. Aku harus tetap menarik mayat Kastana. Aku sudah sambil menangis
disini. Anggap saja kita bertukar tempat. Gantikan posisiku saat ini. Kau tahu,
bagaimana rasa bingung, takut, sedih, hampa dan kalut bercampur dan menyatu
dalam puing-puing otak manusia ini sendirian dan sedang menarik mayat. Lalu,
tiba-tiba kepalaku memberat, bahuku membeku, langkahku terpaku. Aku terdiam sejenak.
Memandang sekitar. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
Astaga! Mimpi
buruk lagi!
Aku dengan
cepat membuka mata. Keringat masih menitik di dahi dan telapak tangan. Ku
perhatikan jam tanganku, 04.15 pagi. Suasana masih hening. Hanya beberapa
serangga yang masih bersuara. Dari kejauhan, terdengar suara lantunan kitab
suci al-Qur’an dari pengeras suara. Aku beranjak dari kursi menuju kamar. Aku
haus dan sudah mulai kedinginan. Tapi yang lebih penting, memastikan keberadaan
Kastana. Aku ketiduran di teras.
Beberapa kamar
kos sudah kembali beraktifitas. Minimal alarm dari tiap-tiap kamar sudah mulai berbunyi
dan membumbung hingga langit-langit kamar. “Kebiasaan tiap dinihari yang akan tetap
beraktifitas mulai jam tujuh pagi. Suara alarm sudah tidak ampuh lagi.” Pikirku
sambil berjalan menuju kamar.
“Baguslah. Dia
memang mayat kalau sudah tidur. Jadi mummypun Kastana siap kalau untuk
urusan tidur. ”
Ucapku dengan
tenang melihat Kastana masih terlelap dalam tidurnya.
Betul saja.
Tadi hanya mimpi. “Terima kasih semesta.” Ucapku sambil tersenyum.
Kau tahu bahwa
malam itu ibarat cermin. Buruk dan baiknya ada pada penilaianmu. Jika engkau
ditinggal malam saat sedang berbahagia, malam pun turut bahagia. Tapi jika
engkau ditinggal ketika bersedih, bersiaplah! Malam selalu kejam. Kau akan
dihujani kenangan indah bersama seseorang yang pergi saat engkau sedang
sayang-sayangnya. Saat engkau sedang bermesra ria bersama kasmaran, jatuh cinta
dan rasa sayang yang fana. Tapi begitulah alam ini. Tuhan memang selalu
membuatnya berimbang. Jika kau bahagia akan datangnya siang, tidak perlu engkau
kutuk akan hadirnya malam. Biarlah mereka berpadu dalam konstalasi yang
semestinya. Setidaknya, kau punya pengalaman akan gelapnya malam dan silaunya
siang. Namun sayangnya, tidak akan pernah kau temui bintang di siang hari. Tapi
bisa kau temui matahari saat gelapnya malam dari bayang-bayang bulan yang
bundar dan benderang.
Tersenyumlah.
Kau tidak pantas untuk menghujani bumi. Kau tidak pantas membasahi tanah. Kau
juga tidak pantas menimbulkan bau debu. Cukuplah itu terjadi oleh hujan kepada
tanah. Jika kau masih bersikukuh, hujanlah. Tapi basahi alas sujudmu. Basahi
kursi ibadahmu. Bercak kan pada kitab-kitab suci mu. Jangan sampai tanah dan
hujan mengutukmu. Seperti aku dan Kastana yang dikutuk semesta.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)