2 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 7. (BINTANG)

Kami berdua kemudian berlari, mengejar pusat cahaya, tempat kerumunan banyak orang yang menyaksikan tanpa kata. Ada darah yang bersimbah disana. Beberapa meter dari kerumunan, ada plang jalan yang terlihat patah akibat tabrakan. Disamping kiri jalan ada sebuah mobil sedan dalam keadaan setengah hancur. Aku tidak pernah menyangka akan kejadian ini. Dalam keadaan yang benar-benar kalut dan bingung. Kau tahu bahwa aku sudah hilang akal. Keakraban yang sudah terjalin hampir enam bulan ini seakan direnggut paksa oleh Tuhan. Aku belum siap bahwa Kastana harus meninggal. Aku harus mengenangnya seperti apa? Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan sesuatu untuk yang terakhir kalinya.

“Kau Fajar?”

“Iya. Iya Pak. Saya Fajar!”

“Bawa mayat temanmu pulang. Tidak akan ada yang peduli disini. Kalian hanya menyusahkan. Semesta mengutuk kalian!”
 
Wajah pria itu memerah. Matanya melotot tajam.

“Ba ba baik Pak.”

Aku gemetar. Benar-benar kebingungan. Ijul juga mendadak lenyap.

Tinggal aku dan Kastana yang sudah terbujur kaku. Aku melangkah beberapa meter mencari pertolongan, siapapun itu. Oh. Andaikata Tuhan tiba-tiba turun dan mengambil kami berdua, atau tiba-tiba iblis datang dan menjemput kami ke neraka. Terserahlah. Aku pasrah.

Rintikan hujan kembali terasa. Membumbui dan menyegarkan bau darah Kastana. Daging-daging yang tergores aspal jalan seakan makin terjalin erat dengan suasana hujan ini. Hujan kematian. Hening. Aku berbalik arah, kembali mendekati mayat Kastana. Kulihat kepalanya menganga, bekas benda tumpul yang terbentur keras dan menyebabkan lubang. Hujan semakin lebat. Aku harus tetap menarik mayat Kastana. Aku sudah sambil menangis disini. Anggap saja kita bertukar tempat. Gantikan posisiku saat ini. Kau tahu, bagaimana rasa bingung, takut, sedih, hampa dan kalut bercampur dan menyatu dalam puing-puing otak manusia ini sendirian dan sedang menarik mayat. Lalu, tiba-tiba kepalaku memberat, bahuku membeku, langkahku terpaku. Aku terdiam sejenak. Memandang sekitar. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.

Astaga! Mimpi buruk lagi!

Aku dengan cepat membuka mata. Keringat masih menitik di dahi dan telapak tangan. Ku perhatikan jam tanganku, 04.15 pagi. Suasana masih hening. Hanya beberapa serangga yang masih bersuara. Dari kejauhan, terdengar suara lantunan kitab suci al-Qur’an dari pengeras suara. Aku beranjak dari kursi menuju kamar. Aku haus dan sudah mulai kedinginan. Tapi yang lebih penting, memastikan keberadaan Kastana. Aku ketiduran di teras.

Beberapa kamar kos sudah kembali beraktifitas. Minimal alarm dari tiap-tiap kamar sudah mulai berbunyi dan membumbung hingga langit-langit kamar. “Kebiasaan tiap dinihari yang akan tetap beraktifitas mulai jam tujuh pagi. Suara alarm sudah tidak ampuh lagi.” Pikirku sambil berjalan menuju kamar.

“Baguslah. Dia memang mayat kalau sudah tidur. Jadi mummypun Kastana siap kalau untuk urusan tidur. ”

Ucapku dengan tenang melihat Kastana masih terlelap dalam tidurnya.

Betul saja. Tadi hanya mimpi. “Terima kasih semesta.” Ucapku sambil tersenyum.

Kau tahu bahwa malam itu ibarat cermin. Buruk dan baiknya ada pada penilaianmu. Jika engkau ditinggal malam saat sedang berbahagia, malam pun turut bahagia. Tapi jika engkau ditinggal ketika bersedih, bersiaplah! Malam selalu kejam. Kau akan dihujani kenangan indah bersama seseorang yang pergi saat engkau sedang sayang-sayangnya. Saat engkau sedang bermesra ria bersama kasmaran, jatuh cinta dan rasa sayang yang fana. Tapi begitulah alam ini. Tuhan memang selalu membuatnya berimbang. Jika kau bahagia akan datangnya siang, tidak perlu engkau kutuk akan hadirnya malam. Biarlah mereka berpadu dalam konstalasi yang semestinya. Setidaknya, kau punya pengalaman akan gelapnya malam dan silaunya siang. Namun sayangnya, tidak akan pernah kau temui bintang di siang hari. Tapi bisa kau temui matahari saat gelapnya malam dari bayang-bayang bulan yang bundar dan benderang.

Tersenyumlah. Kau tidak pantas untuk menghujani bumi. Kau tidak pantas membasahi tanah. Kau juga tidak pantas menimbulkan bau debu. Cukuplah itu terjadi oleh hujan kepada tanah. Jika kau masih bersikukuh, hujanlah. Tapi basahi alas sujudmu. Basahi kursi ibadahmu. Bercak kan pada kitab-kitab suci mu. Jangan sampai tanah dan hujan mengutukmu. Seperti aku dan Kastana yang dikutuk semesta.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)