2 Jun 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 6. (BINTANG)


Bumi memang akan selalu menyimpan kenangan. Entah itu adalah nestapa, bahagia, ataupun luka dalam tiap-tiap makhluk hidup yang diberi akal. Semuanya akan berlalu seiring waktu, menjadikan titik-titik hitam dalam bingkaian dan air mata yang terurai bersama malam, lalu menguap bersama embun. Alam tidak akan pernah berbohong tentang sesuatu. Bahkan hal yang paling rahasia pun. Kau tidak akan pernah sadar bahwa dunia ini saksi bisu. Saksi yang tidak akan pernah bisa engkau ajak kerjasama. Kau juga tidak akan pernah mendapati dunia ini tersenyum bahagia, atau kecewa dan membabi buta. Kau hanyalah kau, dan bumi hanyalah bingkai. Tergantung bagaimana isi sebuah gambar yang terpampang indah dalam sebuah pigura. Sederhananya, dirimu yang mewarnai duniamu.

Malam ini, pukul 23.55 WIB. Terdengar beberapa suara serangga malam bersahut-sahutan. Beberapa kamar sudah terlihat gelap dari balik jendela, menandakan penghuninya sudah bermimpi indah. Suara samar-samar sebuah radio juga menjadi salah satu pengisi suara di malam ini. Terdengar seorang penyiar masih membawakan acara tengah malam dengan lagu-lagu sendu pengantar tidur para pendengarnya. Genangan air juga masih terlihat mengkilap di depan teras kamar oleh redupnya lampu temaram. Tadi sore hujan lebat. Tidak ada yang lebih sibuk malam ini kecuali serangga. Para penghuni kos juga memutuskan tidur lebih awal. Mungkin karena suasana dingin setelah hujan.

Ditemani kopi dan beberapa tembakau murahan,  aku masih saja duduk di depan teras. Merenungkan banyak hal yang terjadi siang tadi. Entah kenapa aku masih membayangkan wajah Kastana ketika melihat perempuan tadi di gerbong kereta, juga di warung saat di Bosscha. Ada sesuatu yang membuatnya begitu tertarik. Aku kenal betul Kastana. Tidak seperti biasanya dia segirang itu melihat lawan jenis. Biasanya hanya senyum kecut, atau lebih memilih tidak peduli. Tapi tadi kenapa begitu bersemangat? Sejujurnya aku hanya khawatir, mimpinya tertahan oleh manisnya paras seorang perempuan. Aku tidak pernah menahannya untuk jatuh cinta. Tapi, memang dia yang acuh tak acuh pada lawan jenis. Entahlah, mungkin hanya ketertarikan sesaat.

Aku masih saja menghisap rokokku, menyedotnya dalam-dalam lalu dihembuskan dan berhamburan di udara. Ada banyak hal yang harusnya aku agendakan. Besok jadi panitia di acara seminar. Dua hari lagi ada pelatihan jurnalistik. Akhir pekan, ada acara keluarga. Selain kuliah, aku juga bekerja paruh waktu sebagai karyawan di salah satu tempat fotokopi dekat kampus. Lumayan, uangnya buat jajan, dan yang lebih penting, makalahku dan Kastana terselamatkan dari biaya alias ngeprint gratis. Aku bukanlah perencana yang baik, dan memang suka lupa waktu. Jadi, semuanya harus di tulis dalam agenda, menyetelkan waktu di alarm handphone, dan menuliskan secara garis besar di sebuah karton pada pintu lemari. Belajar menjadi pribadi yang lebih disiplin. Anggaplah sulit. Tapi setidaknya, kau sudah belajar meningkatkan kualitas diri.

“Fajar! Fajar!”

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari luar gerbang. Aku melihat seseorang dari kegelapan berlari mendekat. Suaranya memekik, napasnya tersengal, keringatnya bercucuran dari balik kaus. Aku sontak bangkit dari kursi, berjalan mendekatinya.

“Kau kenapa Jul?”

“Kastana! Mana Kastana?” Napasnya masih tersengal. Wajahnya panik.

“Sebentar. Ada apa ini?”

“Ah lama!”

Ijul kemudian berlari menuju kamar kami dan membuka pintu sekenanya.

“Tidak ada!”

“Maksudnya?”

“Kastana tidak ada Jar!” Mendadak wajahnya berubah lesu.

“Tadi dia disini. Dia sudah tidur sejak jam sepuluh Jul!”

“Tapi ini buktinya tidak ada.”

“Mana saya tau!”

“Berarti benar!”

“Benar apanya!?”

“Kastana tewas!”

Malam itu semakin lengang. Tidak ada yang bisa berbuat apa-apa. Senyap.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)