Bumi memang
akan selalu menyimpan kenangan. Entah itu adalah nestapa, bahagia, ataupun luka
dalam tiap-tiap makhluk hidup yang diberi akal. Semuanya akan berlalu seiring
waktu, menjadikan titik-titik hitam dalam bingkaian dan air mata yang terurai
bersama malam, lalu menguap bersama embun. Alam tidak akan pernah berbohong
tentang sesuatu. Bahkan hal yang paling rahasia pun. Kau tidak akan pernah sadar
bahwa dunia ini saksi bisu. Saksi yang tidak akan pernah bisa engkau ajak kerjasama.
Kau juga tidak akan pernah mendapati dunia ini tersenyum bahagia, atau kecewa
dan membabi buta. Kau hanyalah kau, dan bumi hanyalah bingkai. Tergantung
bagaimana isi sebuah gambar yang terpampang indah dalam sebuah pigura.
Sederhananya, dirimu yang mewarnai duniamu.
Malam ini, pukul 23.55 WIB. Terdengar beberapa suara serangga malam
bersahut-sahutan. Beberapa kamar sudah terlihat gelap dari balik jendela, menandakan
penghuninya sudah bermimpi indah. Suara samar-samar sebuah radio juga menjadi
salah satu pengisi suara di malam ini. Terdengar seorang penyiar masih
membawakan acara tengah malam dengan lagu-lagu sendu pengantar tidur para
pendengarnya. Genangan air juga masih terlihat mengkilap di depan teras kamar
oleh redupnya lampu temaram. Tadi sore hujan lebat. Tidak ada yang lebih sibuk malam ini kecuali serangga. Para penghuni kos juga memutuskan tidur lebih awal.
Mungkin karena suasana dingin setelah hujan.
Ditemani kopi
dan beberapa tembakau murahan, aku masih
saja duduk di depan teras. Merenungkan banyak hal yang terjadi siang tadi.
Entah kenapa aku masih membayangkan wajah Kastana ketika melihat perempuan tadi
di gerbong kereta, juga di warung saat di Bosscha. Ada sesuatu yang membuatnya
begitu tertarik. Aku kenal betul Kastana. Tidak seperti biasanya dia segirang
itu melihat lawan jenis. Biasanya hanya senyum kecut, atau lebih memilih tidak
peduli. Tapi tadi kenapa begitu bersemangat? Sejujurnya aku hanya khawatir,
mimpinya tertahan oleh manisnya paras seorang perempuan. Aku tidak pernah
menahannya untuk jatuh cinta. Tapi, memang dia yang acuh tak acuh pada lawan
jenis. Entahlah, mungkin hanya ketertarikan sesaat.
Aku masih saja
menghisap rokokku, menyedotnya dalam-dalam lalu dihembuskan dan berhamburan di
udara. Ada banyak hal yang harusnya aku agendakan. Besok jadi panitia di acara
seminar. Dua hari lagi ada pelatihan jurnalistik. Akhir pekan, ada acara
keluarga. Selain kuliah, aku juga bekerja paruh waktu sebagai karyawan di salah
satu tempat fotokopi dekat kampus. Lumayan, uangnya buat jajan, dan yang lebih
penting, makalahku dan Kastana terselamatkan dari biaya alias ngeprint
gratis. Aku bukanlah perencana yang baik, dan memang suka lupa waktu. Jadi,
semuanya harus di tulis dalam agenda, menyetelkan waktu di alarm handphone,
dan menuliskan secara garis besar di sebuah karton pada pintu lemari. Belajar
menjadi pribadi yang lebih disiplin. Anggaplah sulit. Tapi setidaknya, kau
sudah belajar meningkatkan kualitas diri.
“Fajar! Fajar!”
Tiba-tiba aku
mendengar suara teriakan dari luar gerbang. Aku melihat seseorang dari kegelapan
berlari mendekat. Suaranya memekik, napasnya tersengal, keringatnya bercucuran
dari balik kaus. Aku sontak
bangkit dari kursi, berjalan mendekatinya.
“Kau kenapa
Jul?”
“Kastana! Mana
Kastana?” Napasnya masih tersengal. Wajahnya panik.
“Sebentar. Ada
apa ini?”
“Ah lama!”
Ijul kemudian berlari menuju kamar kami dan membuka pintu sekenanya.
Ijul kemudian berlari menuju kamar kami dan membuka pintu sekenanya.
“Tidak ada!”
“Maksudnya?”
“Kastana tidak
ada Jar!” Mendadak wajahnya berubah lesu.
“Tadi dia
disini. Dia sudah tidur sejak jam sepuluh Jul!”
“Tapi ini
buktinya tidak ada.”
“Mana saya
tau!”
“Berarti
benar!”
“Benar apanya!?”
“Kastana
tewas!”
Malam itu
semakin lengang. Tidak ada yang bisa berbuat apa-apa. Senyap.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)