31 May 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 5. (PLANET)



“Kau gila! Hahaha.” Aku meninju dada Kastana.

“Saya kan sudah bilang. Tuhan itu sudah membuat teka-teki ini untuk saya pecahkan. Terima kasih semesta.”

Kami berdua berjalan menuju salah satu warung makan berukuran kecil dan harus sedikit menunduk jika ingin masuk dan duduk. Memesan dua kupat tahu setengah porsi.

“Kau lihat, tadi bagaimana petugas itu menjelaskan? Dia saja tidak tahu benda apa yang ada di foto ini” Kastana berkomentar.

“Berarti harusnya kamu yang jadi petugas disini. Haha!”

“Lebih dari itu Jar. Lebih dari itu. Aku harusnya bekerja di NASA.”

“Peduli setan.”

“Kau yakin semua benda langit sudah kita amati?”

“Yakin. Tetapi benda-benda ini tidak ada satupun disana.”

“Tapi Kas, bagaimana kalau ini adalah konspirasi yang dibuat-buat oleh NASA?” Aku menunjuk wajah Kastana dengan sendok makan.

“Hm… Mulai lagi kau ini. Sudahlah. Kau percaya saja. Saya memang menemukan teori ini Jar. Tinggal dibuktikan secara ilmiah, lalu dibukukan. Kau akan saya jadikan asisten. Kau tidak akan siap dengan jadwal konferensi kita nanti di berbagai belahan dunia.”

“Terserahlah. Tapi saya memang belum sepenuhnya yakin Kas.”

“Bodo amat. Kau akan mendapati tanda tangan saya ini bernilai jutaan dolar nantinya. Menandatangani banyak kontrak, undangan seminar dimana-mana, menjadi motivator ulung, pembicara nomor satu se-Asia–Pasifik. Haha!”

“Sudahlah. Khayalanmu ketinggian.”

“Ini. Orang-orang seperti ini yang hanya siap jadi karyawan dengan seberkas ijazah tidak penting. Orang-orang pesimis. Kata Einstein juga, anak muda itu, harus banyak mengkhayal. Harus banyak bermimpi. Kau catat itu.”

“Iya, mimpi yang tidak pernah bangun hanya akan membuatmu jadi pemimpi selamanya. Bangunlah dari mimpi, kejarlah mimpimu, jadikanlah kenyataan. Gemparkanlah dunia.”

“Tepat!”

“Tapi kau masih bermimpi kalau ada dia?”

“Siapa?”

“Tuh. Lihat ke arah kiri.” Aku sambil menunjukkan seseorang dengan isyarat kepala.
“Astaga. Ini memang teori dari planet. Planet memang mengorbit mengelilingi bintang Jar. Dan perempuan itu, adalah bintang yang mengelilingi kita. Semesta ini punya rencana indah.”

Ucap Kastana sambil terus memandangi perempuan yang tadi sempat menarik perhatiannya di dalam gerbong.

“Sudahlah. Ini hanya kebetulan. Kau masih ingin jadi pembicara di konferensi, motivator ulung, pembicara nomor satu se-Asia–Pasifik kan?”

“Tapi dia seperti bintang Jar, indah saat matahari mulai terbenam merah di ufuk barat.”

“Puitis! Ayo pulang!” Aku menariknya setelah membayar makanan tadi di warung kecil.

“Ah, sialan kau. Tidak mau lihat orang bahagia sedikit apa? Saya ini normal Jar. Ibaratkan sebuah planet yang memiliki massa yang cukup untuk gravitasi tersendiri agar dapat mengatasi tekanan sehingga benda tersebut memiliki kesetimbangan hidrostatik.”

Kastana masih saja berkomentar dengan perlakuan aku yang menariknya pulang. Selama di kereta dalam perjalanan pulang pun, dia masih saja berbicara. Aku sudah tidak mendengarkan. Memutuskan untuk mendengarkan dendangan Fiersa Besari yang berjudul “Bandung” melalui earplug. Aku letih sekali hari itu. Bukannya manja, tapi semalam juga hanya tidur sekitar dua jam, lalu tiba-tiba Kastana membangunkan untuk berangkat ke Bosscha. Mendadak semangat dia.

            Kastana memang menyukai banyak ilmuwan. Dan menurut aku, dia sama sekali tidak nyambung dengan jurusan kuliah yang diambilnya. Jurusan Pendidikan Agama Islam, tapi menyukai pengetahuan di luar itu.

Tapi kata dia, “Jar. Ilmu ini luas. Pengetahuan di dunia ini tidak terbatas. Kalau kau hanya belajar tentang apa yang sudah ada di perkuliahan, lalu apa yang akan buat kau jadi beda dengan yang lain di dunia pekerjaan nanti? Ilmu yang kau dan orang lain punya sama persis. Apa yang akan kau tonjolkan? Makanya, keluarlah dari zona nyaman. Cari hal-hal baru. Dunia ini semuanya adalah guru Jar.” Ucap Kastana pada suatu malam.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)