“Kau gila!
Hahaha.” Aku meninju dada Kastana.
“Saya kan
sudah bilang. Tuhan itu sudah membuat teka-teki ini untuk saya pecahkan. Terima
kasih semesta.”
Kami berdua
berjalan menuju salah satu warung makan berukuran kecil dan harus sedikit
menunduk jika ingin masuk dan duduk. Memesan dua kupat tahu setengah porsi.
“Kau lihat,
tadi bagaimana petugas itu menjelaskan? Dia saja tidak tahu benda apa yang ada
di foto ini” Kastana berkomentar.
“Berarti
harusnya kamu yang jadi petugas disini. Haha!”
“Lebih dari
itu Jar. Lebih dari itu. Aku harusnya bekerja di NASA.”
“Peduli setan.”
“Kau yakin
semua benda langit sudah kita amati?”
“Yakin. Tetapi
benda-benda ini tidak ada satupun disana.”
“Tapi Kas,
bagaimana kalau ini adalah konspirasi yang dibuat-buat oleh NASA?” Aku menunjuk
wajah Kastana dengan sendok makan.
“Hm… Mulai
lagi kau ini. Sudahlah. Kau percaya saja. Saya memang menemukan teori ini Jar.
Tinggal dibuktikan secara ilmiah, lalu dibukukan. Kau akan saya jadikan
asisten. Kau tidak akan siap dengan jadwal konferensi kita nanti di berbagai
belahan dunia.”
“Terserahlah.
Tapi saya memang belum sepenuhnya yakin Kas.”
“Bodo amat.
Kau akan mendapati tanda tangan saya ini bernilai jutaan dolar nantinya. Menandatangani
banyak kontrak, undangan seminar dimana-mana, menjadi motivator ulung,
pembicara nomor satu se-Asia–Pasifik. Haha!”
“Sudahlah.
Khayalanmu ketinggian.”
“Ini. Orang-orang
seperti ini yang hanya siap jadi karyawan dengan seberkas ijazah tidak penting.
Orang-orang pesimis. Kata Einstein juga, anak muda itu, harus banyak
mengkhayal. Harus banyak bermimpi. Kau catat itu.”
“Iya, mimpi
yang tidak pernah bangun hanya akan membuatmu jadi pemimpi selamanya. Bangunlah
dari mimpi, kejarlah mimpimu, jadikanlah kenyataan. Gemparkanlah dunia.”
“Tepat!”
“Tapi kau
masih bermimpi kalau ada dia?”
“Siapa?”
“Tuh. Lihat ke
arah kiri.” Aku sambil menunjukkan seseorang dengan isyarat kepala.
“Astaga. Ini
memang teori dari planet. Planet memang mengorbit mengelilingi bintang Jar. Dan
perempuan itu, adalah bintang yang mengelilingi kita. Semesta ini punya rencana
indah.”
Ucap Kastana
sambil terus memandangi perempuan yang tadi sempat menarik perhatiannya di
dalam gerbong.
“Sudahlah. Ini
hanya kebetulan. Kau masih ingin jadi pembicara di konferensi, motivator ulung,
pembicara nomor satu se-Asia–Pasifik kan?”
“Tapi dia
seperti bintang Jar, indah saat matahari mulai terbenam merah di ufuk barat.”
“Puitis! Ayo
pulang!” Aku menariknya setelah membayar makanan tadi di warung kecil.
“Ah, sialan
kau. Tidak mau lihat orang bahagia sedikit apa? Saya ini normal Jar. Ibaratkan
sebuah planet yang memiliki massa yang cukup untuk gravitasi tersendiri agar
dapat mengatasi tekanan sehingga benda tersebut memiliki kesetimbangan
hidrostatik.”
Kastana masih
saja berkomentar dengan perlakuan aku yang menariknya pulang. Selama di kereta
dalam perjalanan pulang pun, dia masih saja berbicara. Aku sudah tidak
mendengarkan. Memutuskan untuk mendengarkan dendangan Fiersa Besari yang
berjudul “Bandung” melalui earplug. Aku letih sekali hari itu. Bukannya
manja, tapi semalam juga hanya tidur sekitar dua jam, lalu tiba-tiba Kastana
membangunkan untuk berangkat ke Bosscha. Mendadak semangat dia.
Kastana memang menyukai banyak
ilmuwan. Dan menurut aku, dia sama sekali tidak nyambung dengan jurusan kuliah
yang diambilnya. Jurusan Pendidikan Agama Islam, tapi menyukai pengetahuan di luar
itu.
Tapi kata dia, “Jar. Ilmu ini luas. Pengetahuan di dunia ini tidak
terbatas. Kalau kau hanya belajar tentang apa yang sudah ada di perkuliahan,
lalu apa yang akan buat kau jadi beda dengan yang lain di dunia pekerjaan
nanti? Ilmu yang kau dan orang lain punya sama persis. Apa yang akan kau
tonjolkan? Makanya, keluarlah dari zona nyaman. Cari hal-hal baru. Dunia ini
semuanya adalah guru Jar.” Ucap Kastana pada suatu malam.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)