31 May 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 4. (PLANET)



Di pagi hari yang sedikit mendung, ada mata kuliah yang memang sengaja tidak kami ikuti. Kami memilih ke tempat anak-anak bisa mengisi liburan sekaligus menambah pengetahuan. “Teropong Bintang Bosscha” di daerah Lembang. Sedikit mengenai Lembang adalah daerah di Jawa Barat, bisa dikatakan pusat hiburan atau rekreasi alam dengan nuansa dingin dan sejuk, serta kabut yang sering menyelimuti meskipun siang hari dan dengan jarak yang cukup dekat dari kota Bandung.
Kami memutuskan menggunakan kereta api dari stasiun Bandung. Percakapan ringan sambil mengunyah keripik menikmati alam raya. Ciptaan yang maha kuasa ini memang tidak ada tandingannya. Aku mensyukuri karena dilahirkan di Indonesia. Tempat sejuta keindahan terpatri dan terjaga dengan baik.

“Jar, kau lihat perempuan itu? Astaga… Manisnya…”

Tepukan Kastana ke pundakku sontak membuatku mengalihkan perhatian yang sejak tadi hanya menyenderkan kepalaku pada jendela berkaca tebal di salah satu gerbong yang kami tumpangi.

“Yang mana Kas?”

“Lihatlah ke arah kanan.”

Aku menoleh ke arah kanan, melihat seorang perempuan yang kira-kira berumur 21 tahun. Kepalanya ditutupi kupluk berwarna merah muda, dibaluti jaket tebal dan celana jeans ketat. Kelihatannya dia sedang bingung mencari-cari kursi yang kosong.

“Oh… Itu.  Biasa.”

“Ah, gila kau! Itu cantik Jaaar… Mati hati kau itu.”

“Terserah. Bacakan saja buku mu itu.”

Aku memang tidak berselera melihat orang lain. Bukan aku tidak tertarik pada perempuan, tapi pemandangan di luar jendela memang lebih menggugah selera.

Perempuan itu kemudian duduk di sebuah kursi penumpang bersebelahan dengan tempat duduk kami dipisahkan oleh jalan kecil tempat lalu-lalang penumpang. Kastana masih mencuri-curi pandangan padanya. Aku sudah tidak peduli.

“Kas, aku tidur. Ngantuk.”

“Mati hati kau itu.”

Aku melambaikan tangan.

Perjalanan kami menuju Lembang, tidak cukup hanya dengan menggunakan kereta. Namun setelahnya, harus menggunakan lagi angkutan umum menuju gerbang bawah Observatorium Bosscha.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)