31 May 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 3. (PLANET)



Semenjak itu setelah selesai perkuliahan, aku menghampirinya. Bertukar obrolan ringan di sebuah meja makan panjang di warung milik Pak Dadang yang berada di ujung jalan pertigaan di luar kampus. Aku juga tahu bahwa Kastana tinggal di Bandung bersama teman ayahnya. Sejak saat itu, kami berdua memutuskan untuk tinggal di kos-kosan dekat kampus dengan dalih agar lebih mudah ke kampus. Alasan logis untuk semua ras mahasiswa. Sisanya, agar aku lebih belajar hidup mandiri, dan Kastana agar tidak memberatkan teman ayahnya itu. Alasan yang bijaksana.

            Lalu, disinilah kami setelah seminggu berkuliah, aku dan Kastana sudah sering bertukar cerita tentang keluarga masing-masing. Ada juga beberapa penghuni kos lain yang sengaja bergabung, meminjam buku, minta air, berbagi pengalaman atau sekedar basa-basi agar lebih terjalin keakraban sebagai sesama penghuni kos-kosan ini.

            Sedikit gambaran tentang kos-kosan yang aku tempati ini, berada sekitar 400 meter dari gerbang kampus. Memiliki 10 ruangan yang terpisah imbang kiri dan kanan oleh tangga menuju lantai dua. Lantai satu, khusus untuk laki-laki, dan di lantai dua, khusus untuk perempuan. Di ujung tangga, terdapat pintu yang terbuat dari besi berukuran 2 x 1 meter. Mungkin pemilik kos khawatir ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Meskipun hal itu tetap terjadi. Haha!

“Jar! Kau setuju bahwa alam raya ini bukan terbentuk dari teori big bang bukan?” Ujar Kastana sambil mendekati aku setelah kegirangan menemukan teori barunya beberapa menit lalu.

“Iya, terus?”

“Begini” Kastana menarik sebuah bantal lusuh dari atas kasur dan menempatkan di punggungnya.

“Kau lihat gambar ini. Lihat ini. Ini juga. Terus ini.”
Kastana menyodorkan beberapa gambar. Gambar yang dicetaknya tentang perisitiwa penting mengenai penemuan baru.

“Kau tahu kalau planet ini sudah berjumlah dua belas kan?”

“Iya, lalu?” Aku meraih gambar-gambar tadi.

“Para ahli itu salah Jar! Mereka salah… Ada yang mereka tidak sampaikan. Harusnya ada dua planet lagi yang termasuk dalam hitungan mereka.” Mata Kastana menyala-nyala menyampaikan hal ini.

“Jadi maksudmu, harusnya ada empat belas?”

“Tepat! Harusnya ada empat belas.”

“Kamu yakin?”

“Lihat teori yang saya lingkari ini. Para ahli mengatakan bahwa yang termasuk kategori planet adalah jika memiliki tata surya, satelit dan orbit sendiri. Baik satu ataupun dua, bebas. Mau punya dua ratus satelit juga peduli setan. Nah, benda yang ada di foto ini juga punya ciri yang sama. Ini nyata Jar! Ini nyata!” Kastana makin bersemangat mengucapkan teori-teori tadi.

Aku masih menatapi Kastana. Sejujurnya, aku tidak mengerti apa-apa yang dijelaskan Kastana. Aku tidak terlalu tertarik dengan ilmu perbintangan. Aku juga tidak tertarik dengan teori barunya ini. Aku hanya menghargai semangatnya.

“Oke, begini saja. Saya hargai pendapatmu ini. Tapi saya tidak yakin kalau ini akan benar. Besok kita ke Bosscha. Kita lihat secara langsung benda langit di sana. Kita bandingkan dengan yang ada di gambar ini. Kalau ada, berarti penemuanmu mentah. Teorimu terpatahkan. Sudah ditemukan. Bagaimana?”

“Ah kau ini. Kau pikir saya gila? Ini nyata Jar! Ini memang belum ada yang ditemukan. Saya sudah cari deskripsi tentang benda ini.” Kastana menunjuk pada salah satu gambar. “Dan hasilnya? Nihil. Belum ada ungkapan tentang benda yang satu ini.”

“Lah, masa yang motret tidak melakukan penelitian? Hanya difoto dan disimpan menjadi pajangan? Mustahil Kaaas…”

“Astaga. Ayolah Jar. Mereka hanya bilang kalau benda ini asteroid. Planet minor. Planet kecil. Tidak lebih. Dan foto ini”

Kastana mengambil sebuah gambar yang hampir mirip matahari.
“Para ahli mengatakan ini hanya bintang besar. Hanya bintang Jar! Ini planet Jar! Planet baru! Masuk dalam kategori planet kerdil setelah Ceres, Pluto, Haumea, Makemake dan Eris!”

“Oke, oke. Besok ada kuliah. Tapi kayaknya dosennya tidak masuk. Kita ke Bosscha! Kita buktikan teorimu ini. Deal?” Aku menyodorkan tangan.

Kastana mengambil dan menyeruput kopinya. “Deal! Besok kita ke Bosscha!”

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)