Semenjak itu
setelah selesai perkuliahan, aku menghampirinya. Bertukar obrolan ringan di
sebuah meja makan panjang di warung milik Pak Dadang yang berada di ujung jalan
pertigaan di luar kampus. Aku juga tahu bahwa Kastana tinggal di Bandung
bersama teman ayahnya. Sejak saat itu, kami berdua memutuskan untuk tinggal di
kos-kosan dekat kampus dengan dalih agar lebih mudah ke kampus. Alasan logis
untuk semua ras mahasiswa. Sisanya, agar aku lebih belajar hidup mandiri, dan
Kastana agar tidak memberatkan teman ayahnya itu. Alasan yang bijaksana.
Lalu, disinilah kami setelah
seminggu berkuliah, aku dan Kastana sudah sering bertukar cerita tentang
keluarga masing-masing. Ada juga beberapa penghuni kos lain yang sengaja
bergabung, meminjam buku, minta air, berbagi pengalaman atau sekedar basa-basi
agar lebih terjalin keakraban sebagai sesama penghuni kos-kosan ini.
Sedikit gambaran tentang kos-kosan
yang aku tempati ini, berada sekitar 400 meter dari gerbang kampus. Memiliki 10
ruangan yang terpisah imbang kiri dan kanan oleh tangga menuju lantai dua.
Lantai satu, khusus untuk laki-laki, dan di lantai dua, khusus untuk perempuan.
Di ujung tangga, terdapat pintu yang terbuat dari besi berukuran 2 x 1 meter. Mungkin
pemilik kos khawatir ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Meskipun hal
itu tetap terjadi. Haha!
“Jar! Kau setuju
bahwa alam raya ini bukan terbentuk dari teori big bang bukan?” Ujar Kastana
sambil mendekati aku setelah kegirangan menemukan teori barunya beberapa menit
lalu.
“Iya, terus?”
“Begini”
Kastana menarik sebuah bantal lusuh dari atas kasur dan menempatkan di
punggungnya.
“Kau lihat
gambar ini. Lihat ini. Ini juga. Terus ini.”
Kastana
menyodorkan beberapa gambar. Gambar yang dicetaknya tentang perisitiwa penting
mengenai penemuan baru.
“Kau tahu
kalau planet ini sudah berjumlah dua belas kan?”
“Iya, lalu?” Aku meraih
gambar-gambar tadi.
“Para ahli itu
salah Jar! Mereka salah… Ada yang mereka tidak sampaikan. Harusnya ada dua
planet lagi yang termasuk dalam hitungan mereka.” Mata Kastana menyala-nyala
menyampaikan hal ini.
“Jadi
maksudmu, harusnya ada empat belas?”
“Tepat!
Harusnya ada empat belas.”
“Kamu yakin?”
“Lihat teori yang
saya lingkari ini. Para ahli mengatakan bahwa yang termasuk kategori planet
adalah jika memiliki tata surya, satelit dan orbit sendiri. Baik satu ataupun
dua, bebas. Mau punya dua ratus satelit juga peduli setan. Nah, benda yang ada
di foto ini juga punya ciri yang sama. Ini nyata Jar! Ini nyata!” Kastana makin
bersemangat mengucapkan teori-teori tadi.
Aku masih
menatapi Kastana. Sejujurnya, aku tidak mengerti apa-apa yang dijelaskan
Kastana. Aku tidak terlalu tertarik dengan ilmu perbintangan. Aku juga tidak
tertarik dengan teori barunya ini. Aku hanya menghargai semangatnya.
“Oke, begini
saja. Saya hargai pendapatmu ini. Tapi saya tidak yakin kalau ini akan benar.
Besok kita ke Bosscha. Kita lihat secara langsung benda langit di sana. Kita
bandingkan dengan yang ada di gambar ini. Kalau ada, berarti penemuanmu mentah.
Teorimu terpatahkan. Sudah ditemukan. Bagaimana?”
“Ah kau ini.
Kau pikir saya gila? Ini nyata Jar! Ini memang belum ada yang ditemukan. Saya
sudah cari deskripsi tentang benda ini.” Kastana menunjuk pada salah satu
gambar. “Dan hasilnya? Nihil. Belum ada ungkapan tentang benda yang satu ini.”
“Lah, masa
yang motret tidak melakukan penelitian? Hanya difoto dan disimpan menjadi
pajangan? Mustahil Kaaas…”
“Astaga.
Ayolah Jar. Mereka hanya bilang kalau benda ini asteroid. Planet minor. Planet
kecil. Tidak lebih. Dan foto ini”
Kastana
mengambil sebuah gambar yang hampir mirip matahari.
“Para ahli
mengatakan ini hanya bintang besar. Hanya bintang Jar! Ini planet Jar! Planet
baru! Masuk dalam kategori planet kerdil setelah Ceres, Pluto, Haumea, Makemake
dan Eris!”
“Oke, oke.
Besok ada kuliah. Tapi kayaknya dosennya tidak masuk. Kita ke Bosscha! Kita
buktikan teorimu ini. Deal?” Aku menyodorkan tangan.
Kastana
mengambil dan menyeruput kopinya. “Deal! Besok kita ke Bosscha!”
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)