31 May 2017

DISTORSI BENDA LANGIT PART 2. (PLANET)



Inilah Kastana. Lengkapnya Kastana Dirga, yang menurutku adalah penggila ilmu pengetahuan dengan setumpuk buku lusuh tak beraturan dan tinggal di sebuah kos-kosan daerah Bandung – Jawa Barat. Ukuran 4 x 4 seharusnya bisa menampung dua spesies dari ras manusia ini untuk melanjutkan kehidupan. Namun karena banyaknya tumpukan buku, kasur warisan yang sudah banyak sobekan, serta dapur yang menyatu dengan tempat tidur membuat kehidupan kami di bawah atap ini seperti neraka. Dinding-dinding yang sudah ditambal dengan potongan kertas koran, kalendar bekas dan apapun itu jenisnya, yang penting bukan dari buku bacaan. Kami berdua menghargai buku sebagai proses penciptaan maha karya dari mahluk lemah yang sok kuat bernama manusia. Jadi, tidak akan pernah kau temui di kamar ini, dindingnya di tambali dengan tulisan dari buku bacaan. Apapun itu!
Persahabatanku dengan Kastana dimulai sejak hari pertama masuk kuliah, Dimana semua mahasiswa sudah dikotak-kotakkan dengan jurusannya masing-masing, memutuskan untuk berteman dengan siapa, membentuk geng baru dalam kampus, atau sudah mulai menyamakan persepsi soal hobi atau apapun itu namanya. Tapi yang pasti, disinilah aku. Di salah satu jurusan yang boleh dibilang tidak begitu mentereng dibanding sederet jurusan lain yang memang lazim untuk dikatakan favorit.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (REGULAR). Tulisan itu berwarna hitam dan tercetak pada sebuah papan persegi panjang berwarna putih yang terpaku di atas pintu masuk sebuah ruangan. Aku duduk disana memandangi beberapa calon teman baru. Dengan sibuknya otak-atik smartphone, ngobrol-ngobrol tentang saat di OSPEK atau obrolan serius beberapa laki-laki yang memang sudah terlihat akrab. Mungkin mereka sudah berteman sejak SMA, atau memang mereka tetanggaan, atau mungkin juga, mereka serumah. Satu keluarga, hanya beda ibu. Entahlah. Aku terus saja bergumam sambil melihat-lihat  sekeliling lalu tersenyum geli karena aku baru sadar bahwa sekarang resmi berstatus sebagai mahasiswa. Biasa memang.
Jurusan Pendidikan Agama Islam atau PAI ini adalah jurusan yang menurut kebanyak orang di kampusku sebagai tempatnya orang-orang yang kolot pemikirannya, (meskipun berusia muda) sok islami, sok alim, atau tempat pelarian dari jurusan lain yang tidak lolos saat testing. Karena, daripada harus pindah kampus dengan alasan memilih jurusan yang diinginkan, lebih baik pindah jurusan. Jadi, gengsi berkuliah di kampus terkenal itu lebih penting meskipun masuk ke jurusan yang tidak diinginkan, termasuk aku yang tadinya bercita-cita masuk ke jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, tetapi karena tidak lolos, lalu berakhir di PAI.
Lamunanku buyar ketika seorang pria setengah baya, berkacamata, menggunakan kemeja tangan panjang warna biru muda dan celana panjang berwarna gelap masuk ke dalam kelas dan berdehem. Seketika seisi ruangan mengalihkan perhatian padanya.

“Pak Guru. Eh, Dosen.” Celetuk seorang mahasiswa.

“Sssssttt…” Balas mahasiswa lain sambil menempelkan telunjuk pada bibirnya.

Pria itu dengan tegap berjalan menghampiri meja yang berhadapan dengan mahasiswa, meletakkan tasnya dan berjalan ke tengah, tepat membelakangi papan tulis putih itu.

“Selamat pagi calon generasi muda penerus bangsa yang berintelektual dan berintegritas. Penjunjung tinggi nilai-nilai Agama dan Negara tanah air tercinta ini.” Ucapan yang keluar dari mulut pria itu membuat wajah-wajah mahasiswa yang tadinya tegang menjadi merona penuh semangat baru untuk berkuliah. Semangat ’45.

“Selamat pagi Pak…” Jawab mahasiswa hampir bersamaan.

“Tak kenal maka tak sayang. Begitu ungkapan sebuah peribahasa. Betul? Maka sebelum kita beraktivitas lebih jauh, izinkan saya memperkenalkan diri.” Pria itu kemudian membelakangi kami, mengambil spidol lalu maju lebih dekat dengan papan tulis.

“Nama bapak adalah Entis Sutisna. Kakak tingkat kalian biasa memanggil saya Pak Entis, dan untuk semester ini, bapak mengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.” Lanjut Pak Entis sambil menuliskan namanya di papan.

“Status bapak sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak dan masih satu istri. Mungkin nanti ada penambahan.” Ucap Pak Entis dengan mantap sambil tersenyum. Ucapan itu disambut dengan riuhnya mahasiswa dan gelak tawa yang memecahkan suasana.

“Ada lagi yang perlu ditanyakan?”

“Alamat rumahnya di mana Pak?” Tanya seorang mahasiswa.

“Oh iya, kebetulan bapak berasal dari Garut, tepatnya di daerah Karangpawitan. Disini ada yang dari Garut?”

Beberapa mahasiswa mengacungkan tangan.
“Oh, iya bagus! Tunjukkan pada orang lain, bahwa Garut punya segudang prestasi.”
“Ada pertanyaan lagi?” Lanjut Pak Entis.

Semua mahasiswa kembali terdiam.

Dari tadi, semua ekspresi mahasiwa aku perhatikan. Hampir semua orang sedang terkesima atau mungkin menghargai apa yang disampaikan Pak Entis di depan. Kecuali satu. Pria yang duduk di ujung kiri barisan ke empat masih saja konsentrasi dengan buku yang dibacanya. Seakan-akan tidak ada makhluk lain yang ada di kelas itu.

“Baiklah. Karena bapak sudah mengenalkan diri, sekarang giliran kalian. Silahkan menyebutkan nama, asal atau hal lain yang perlu disampaikan. Silahkan dimulai dari yang ujung sebelah kanan. Ya, kamu” Pak Entis menunjuk seorang mahasiswa yang duduk di ujung sebelah kanan.

Semua mahasiswa mendapat giliran memperkenalkan diri. Biasa saja. Ada pula beberapa orang yang berusaha membawanya dengan gaya humor, tapi garing, termasuk aku.
Hingga giliran pria yang sedang membaca tadi berdiri dan maju ke depan kelas. Hening. Aku rasa, mahasiswa lain juga memperhatikan. Namun sama seperti diriku. Hanya diam dan menggabungkan diri pada situasi yang ada.

Dia mengenakan kaos berwarna hitam, sweater yang dibiarkan terbuka berwarna biru tua, celana jeans biru yang lusuh dan sepatu berbahan kain. Dari warna sepatunya, mungkin sudah berusia 19 abad. Penampilan yang sedikit aneh jika dilihat dari jurusan yang diambilnya.
“Apakah dia salah masuk kelas?” Tanyaku pada diri sendiri.

“Assalamu’alaikum. Namaku Kastana. Kastana Dirga. Pecinta ilmu pengetahuan stadium akhir, yang sedang dituntut untuk melakukan hal-hal waras. Sebut saja kewarasan massal. Bagaimana hampir semua manusia di Bumi ini menuntut bahwa setelah menginjak usia anak-anak, sudah harus menikmati proses bersekolah. Taman kanak-kanak hingga menjadi mahasiswa, lalu setelahnya harus memiliki pekerjaan, menikah, memiliki keturunan, dan akhirnya menikmati masa tua menunggu malaikat datang menjemput.”

Seisi ruangan seakan hampa. Hening. Semua memperhatikan dengan saksama. Ada beberapa yang berdecak kagum dengan gaya penyampaian yang dipakainya. Ada juga yang mengernyitkan alis karena logat bahasanya. Logat timur yang khas.

“Ya, meskipun tidak sedikit yang harus tumbang karena tidak sesuai dengan rencana dan terlepas dengan berbagai alasan yang harus dihadapi, atau keputusan yang memang harus diambil. Tapi yang pasti, tujuannya adalah agar dianggap waras. Hal itu yang membuat saya harus melanjutkan pendidikan ini sebagai mahasiswa. Bukan dengan alasan agar dianggap waras, tapi lebih dari itu, saya memang pecinta ilmu pengetahuan, dan alasan lainnya adalah agar jadi orang pertama dalam keluarga yang meraih gelar sarjana. Bayangkan betapa bangganya orangtua kita saat ngobrol dengan tetangga bahwa anak mereka pergi meninggalkan desa untuk mencapai gelar sarjana. Betapa bahagianya semua orangtua akan hal ini, dan masih menjadi hal yang luar biasa dimana sebuah desa yang mayoritasnya lulusan paling tinggi adalah SMP. Bisa jadi saya termasuk dalam segelintir orang yang memiliki gelar terbaik sejagat.” Lanjut pria cuek tadi dengan mantap yang sudah aku ketahui bernama Kastana.

“Saya berasal dari salah satu provinsi bagian timur Indonesia. Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kota Ende. Anggap saja pertemuan saya dengan teman-teman adalah peristiwa kecelakaan tabrakan antar planet di galaksi ini. Sekian dari saya, Wassalamu’alaikum.” Ucapan penutup itu disambut dengan tepuk tangan penuh kagum dari semua mahasiswa, kecuali aku yang masih terheran-heran dengan ucapannya yang kurang sesuai dengan penampilannya.

“DON’T JUDGE A BOOK, JUST BY THE COVER!” Pepatah itu yang kembali membuatku tersadar.

***
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)