Inilah
Kastana. Lengkapnya Kastana Dirga, yang menurutku adalah penggila ilmu
pengetahuan dengan setumpuk buku lusuh tak beraturan dan tinggal di sebuah
kos-kosan daerah Bandung – Jawa Barat. Ukuran 4 x 4 seharusnya bisa menampung
dua spesies dari ras manusia ini untuk melanjutkan kehidupan. Namun karena
banyaknya tumpukan buku, kasur warisan yang sudah banyak sobekan, serta dapur
yang menyatu dengan tempat tidur membuat kehidupan kami di bawah atap ini seperti
neraka. Dinding-dinding yang sudah ditambal dengan potongan kertas koran,
kalendar bekas dan apapun itu jenisnya, yang penting bukan dari buku bacaan.
Kami berdua menghargai buku sebagai proses penciptaan maha karya dari mahluk
lemah yang sok kuat bernama manusia. Jadi, tidak akan pernah kau temui di kamar
ini, dindingnya di tambali dengan tulisan dari buku bacaan. Apapun itu!
Persahabatanku
dengan Kastana dimulai sejak hari pertama masuk kuliah, Dimana semua mahasiswa
sudah dikotak-kotakkan dengan jurusannya masing-masing, memutuskan untuk
berteman dengan siapa, membentuk geng baru dalam kampus, atau sudah mulai
menyamakan persepsi soal hobi atau apapun itu namanya. Tapi yang pasti,
disinilah aku. Di salah satu jurusan yang boleh dibilang tidak begitu mentereng
dibanding sederet jurusan lain yang memang lazim untuk dikatakan favorit.
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM (REGULAR). Tulisan itu berwarna hitam dan tercetak pada sebuah
papan persegi panjang berwarna putih yang terpaku di atas pintu masuk sebuah
ruangan. Aku duduk disana memandangi beberapa calon teman baru. Dengan sibuknya
otak-atik smartphone, ngobrol-ngobrol tentang saat di OSPEK atau obrolan
serius beberapa laki-laki yang memang sudah terlihat akrab. Mungkin mereka
sudah berteman sejak SMA, atau memang mereka tetanggaan, atau mungkin juga,
mereka serumah. Satu keluarga, hanya beda ibu. Entahlah. Aku terus saja
bergumam sambil melihat-lihat sekeliling
lalu tersenyum geli karena aku baru sadar bahwa sekarang resmi berstatus
sebagai mahasiswa. Biasa memang.
Jurusan
Pendidikan Agama Islam atau PAI ini adalah jurusan yang menurut kebanyak orang
di kampusku sebagai tempatnya orang-orang yang kolot pemikirannya, (meskipun
berusia muda) sok islami, sok alim, atau tempat pelarian dari jurusan lain yang
tidak lolos saat testing. Karena, daripada harus pindah kampus dengan alasan memilih
jurusan yang diinginkan, lebih baik pindah jurusan. Jadi, gengsi berkuliah di kampus
terkenal itu lebih penting meskipun masuk ke jurusan yang tidak diinginkan, termasuk
aku yang tadinya bercita-cita masuk ke jurusan Bahasa dan Sastra Inggris,
tetapi karena tidak lolos, lalu berakhir di PAI.
Lamunanku
buyar ketika seorang pria setengah baya, berkacamata, menggunakan kemeja tangan
panjang warna biru muda dan celana panjang berwarna gelap masuk ke dalam kelas
dan berdehem. Seketika seisi ruangan mengalihkan perhatian padanya.
“Pak Guru.
Eh, Dosen.” Celetuk seorang mahasiswa.
“Sssssttt…”
Balas mahasiswa lain sambil menempelkan telunjuk pada bibirnya.
Pria itu
dengan tegap berjalan menghampiri meja yang berhadapan dengan mahasiswa,
meletakkan tasnya dan berjalan ke tengah, tepat membelakangi papan tulis putih
itu.
“Selamat pagi
calon generasi muda penerus bangsa yang berintelektual dan berintegritas.
Penjunjung tinggi nilai-nilai Agama dan Negara tanah air tercinta ini.” Ucapan
yang keluar dari mulut pria itu membuat wajah-wajah mahasiswa yang tadinya
tegang menjadi merona penuh semangat baru untuk berkuliah. Semangat ’45.
“Selamat pagi
Pak…” Jawab mahasiswa hampir bersamaan.
“Tak kenal
maka tak sayang. Begitu ungkapan sebuah peribahasa. Betul? Maka sebelum kita
beraktivitas lebih jauh, izinkan saya memperkenalkan diri.” Pria itu kemudian
membelakangi kami, mengambil spidol lalu maju lebih dekat dengan papan tulis.
“Nama bapak
adalah Entis Sutisna. Kakak tingkat kalian biasa memanggil saya Pak Entis, dan
untuk semester ini, bapak mengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.” Lanjut
Pak Entis sambil menuliskan namanya di papan.
“Status bapak
sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak dan masih satu istri. Mungkin nanti
ada penambahan.” Ucap Pak Entis dengan mantap sambil tersenyum. Ucapan itu
disambut dengan riuhnya mahasiswa dan gelak tawa yang memecahkan suasana.
“Ada lagi
yang perlu ditanyakan?”
“Alamat
rumahnya di mana Pak?” Tanya seorang mahasiswa.
“Oh iya,
kebetulan bapak berasal dari Garut, tepatnya di daerah Karangpawitan. Disini
ada yang dari Garut?”
Beberapa
mahasiswa mengacungkan tangan.
“Oh, iya
bagus! Tunjukkan pada orang lain, bahwa Garut punya segudang prestasi.”
“Ada
pertanyaan lagi?” Lanjut Pak Entis.
Semua
mahasiswa kembali terdiam.
Dari tadi,
semua ekspresi mahasiwa aku perhatikan. Hampir semua orang sedang terkesima
atau mungkin menghargai apa yang disampaikan Pak Entis di depan. Kecuali satu.
Pria yang duduk di ujung kiri barisan ke empat masih saja konsentrasi dengan
buku yang dibacanya. Seakan-akan tidak ada makhluk lain yang ada di kelas itu.
“Baiklah.
Karena bapak sudah mengenalkan diri, sekarang giliran kalian. Silahkan
menyebutkan nama, asal atau hal lain yang perlu disampaikan. Silahkan dimulai
dari yang ujung sebelah kanan. Ya, kamu” Pak Entis menunjuk seorang mahasiswa
yang duduk di ujung sebelah kanan.
Semua
mahasiswa mendapat giliran memperkenalkan diri. Biasa saja. Ada pula beberapa
orang yang berusaha membawanya dengan gaya humor, tapi garing, termasuk aku.
Hingga
giliran pria yang sedang membaca tadi berdiri dan maju ke depan kelas. Hening.
Aku rasa, mahasiswa lain juga memperhatikan. Namun sama seperti diriku. Hanya
diam dan menggabungkan diri pada situasi yang ada.
Dia
mengenakan kaos berwarna hitam, sweater yang dibiarkan terbuka berwarna biru
tua, celana jeans biru yang lusuh dan sepatu berbahan kain. Dari warna
sepatunya, mungkin sudah berusia 19 abad. Penampilan yang sedikit aneh jika
dilihat dari jurusan yang diambilnya.
“Apakah dia
salah masuk kelas?” Tanyaku pada diri sendiri.
“Assalamu’alaikum.
Namaku Kastana. Kastana Dirga. Pecinta ilmu pengetahuan stadium akhir, yang
sedang dituntut untuk melakukan hal-hal waras. Sebut saja kewarasan massal.
Bagaimana hampir semua manusia di Bumi ini menuntut bahwa setelah menginjak
usia anak-anak, sudah harus menikmati proses bersekolah. Taman kanak-kanak
hingga menjadi mahasiswa, lalu setelahnya harus memiliki pekerjaan, menikah,
memiliki keturunan, dan akhirnya menikmati masa tua menunggu malaikat datang
menjemput.”
Seisi ruangan
seakan hampa. Hening. Semua memperhatikan dengan saksama. Ada beberapa yang
berdecak kagum dengan gaya penyampaian yang dipakainya. Ada juga yang
mengernyitkan alis karena logat bahasanya. Logat timur yang khas.
“Ya, meskipun
tidak sedikit yang harus tumbang karena tidak sesuai dengan rencana dan terlepas
dengan berbagai alasan yang harus dihadapi, atau keputusan yang memang harus
diambil. Tapi yang pasti, tujuannya adalah agar dianggap waras. Hal itu yang
membuat saya harus melanjutkan pendidikan ini sebagai mahasiswa. Bukan dengan
alasan agar dianggap waras, tapi lebih dari itu, saya memang pecinta ilmu
pengetahuan, dan alasan lainnya adalah agar jadi orang pertama dalam keluarga
yang meraih gelar sarjana. Bayangkan betapa bangganya orangtua kita saat ngobrol
dengan tetangga bahwa anak mereka pergi meninggalkan desa untuk mencapai gelar
sarjana. Betapa bahagianya semua orangtua akan hal ini, dan masih menjadi hal
yang luar biasa dimana sebuah desa yang mayoritasnya lulusan paling tinggi
adalah SMP. Bisa jadi saya termasuk dalam segelintir orang yang memiliki gelar
terbaik sejagat.” Lanjut pria cuek tadi dengan mantap yang sudah aku ketahui bernama
Kastana.
“Saya berasal
dari salah satu provinsi bagian timur Indonesia. Nusa Tenggara Timur, tepatnya
di Kota Ende. Anggap saja pertemuan saya dengan teman-teman adalah peristiwa
kecelakaan tabrakan antar planet di galaksi ini. Sekian dari saya,
Wassalamu’alaikum.” Ucapan penutup itu disambut dengan tepuk tangan penuh kagum
dari semua mahasiswa, kecuali aku yang masih terheran-heran dengan ucapannya
yang kurang sesuai dengan penampilannya.
“DON’T JUDGE A
BOOK, JUST BY THE COVER!” Pepatah itu yang kembali membuatku tersadar.
***

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)