14 May 2017

Ungkapan Bernada Surga

"Aku bukanlah aku, aku hanya mengaku ketika ajal menjemputku"

Sebuah kutipan yang pernah saya simak beberapa tahun lalu, mendadak terngiang di telinga, merasuk dalam dada dan menghujam isi kepalaku saat ini.

Hal yang menurut saya tidak terlalu penting untuk diingat dan sebenarnya memang tidak ada dalam list ingatan yang diatur dalam otak sebagai kategori penting untuk disimpan.
Namun beberapa tahun lalu, seorang pembicara dalam sebuah pelatihan kepenulisan mengatakan bahwa motto hidupnya adalah "Aku bukanlah aku, aku hanya mengaku ketika ajal menjemputku".

Beberapa orang termasuk saya sontak menunjukkan wajah bego. Em... Lebih tepat mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya tentang maksud dari motto hidupnya. Menarik. Beberapa kalimat yang mungkin terdengar aneh dan ambigu (menurut saya).
"Baiklah, tidak perlu kalian tanya, akan saya jelaskan makna dari kalimat yang baru saja saya ucapkan. Begini, saya adalah orang yang senantiasa berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik. Karena ketika orang bertanya siapakah diriku hari ini, besoknya sudah bukan saya lagi. Karena saya yang kemarin dengan saya yang hari ini selalu mengalami perubahan. Kecuali nanti, ketika ajal sudah menjemputku, itulah saya dengan segala identitas yang terakhir kalinya. Disitulah saya mengaku bahwa itulah diriku."

Seisi ruangan masih terbengong. Pusing kayaknya. Saya sudah mulai tidak peduli. Karena lebih memilih memperhatikan semut yang sibuk bersalaman di dinding ruangan.
Kejadian itu sudah lama. Namun saya teringat hal itu dan menyadari bahwa, banyak waktu yang telah dilalui. Banyak tenaga yang telah dikeluarkan. Banyak materi yang telah dihabiskan. Tapi kemampuan diri masih begitu-begitu saja. Perubahan fisik juga hanya itu-itu saja. (Khususnya saya) 😭

Lalu, sampai kapan?

Sadar ataupun tidak, seseorang selalu bertumbuh seiring bertambahnya usia, makin banyaknya pengalaman dan ilmu yang bertambah. Mulai lebih memahami teori dan tahu cara praktiknya. Namun, ketika apa yang kamu miliki hanyalah untuk dirimu sendiri, kayaknya pindah ke planet Mercurius lebih keren. Kenapa? Karena kehidupan sosialmu sudah hilang.

Bukan saya sok sosialis. Sok menjadi pahlawan. Justru Nabi Muhammad SAW juga mengatakan bahwa

"Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain"

Catatan kecilnya adalah, ketika kita hanya sibuk untuk memperindah dan meninggikan derajat diri, maka kita sudah menghilangkan sebuah nilai kehidupan. Sosial. Padahal Rasul juga memerintahkan untuk selalu menjaga silaturahim.

Lantas, apa hubungannya dengan motto hidup yang tadi?
Mari kita perbincangkan.

Ketika kita sudah memiliki i'tikad atau niat untuk berubah menjadi lebih baik, memaksakan diri untuk berbuat dari hal yang tidak biasa pun akan mau dilakukan.
Misalnya seseorang yang sering terlambat ke sekolah, namun ketika dia berusaha menjadi lebih baik, dia akan memaksakan dirinya untuk tidur lebih cepat di malam hari, agar bangunnya tidak kesiangan.

Begitu juga dengan yang lain, apapun niatnya untuk berubah, ketika sudah memiliki tekad, maka akan mau memaksakan diri. Nah, ketika kita sudah terbiasa karena tadinya terpaksa, kelak akan menjadi karakter. Sederhananya, hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Andaikata kita sudah mau selalu berusaha menjadi lebih baik setiap harinya, secara tidak sadarpun kemampuan diri akan meningkat. Baik dari segi pengetahuan, pengalaman dan kepribadian yang lebih sopan dan menyenangkan.

Hal-hal yang sudah terupgrade dalam diri, juga akan sia-sia belaka jika hanya dikonsumsi secara pribadi. Artinya, kita perlu berbagi dengan yang lain.

Dalam bentuk apa?

Apa saja. Yang kita bisa, yang kita mampu. Kalau kita mampunya berbagi dengan tenaga, silahkan. Dengan uang, tidak masalah. Apalagi dengan ilmu. Terlihat lebih keren. 😎

Terus, intinya apa??

Intinya, yuk kita sama-sama berusaha menjadi orang yang lebih baik dari segala bidang, dan senantiasa menjadi pribadi yang gemar berbagi dengan yang lain. Dalam bentuk apa saja dan dimana saja.

Mana ada manusia yang tidak bahagia ketika melihat orang yang dibantunya itu bahagia. Berbagi kebaikan itu keren lho. Cobain deh! 😊

Semoga bernilai.
Salam,
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak